|
Siti Hartati Murdaya dilahirkan di Jakarta, 29 Agustus 1946. Saat ini, di samping seorang pemimpin organisasi keagamaan (Walubi), ia juga memimpin sejumlah perusahaan dan menjadi politisi sebagai anggota Fraksi Utusan Golongan di MPR. Posisi mana yang lebih menonjol dalam kehidupannya?
Kehidupannya sangat terpengaruh ajaran agamanya. Ia merasa bahwa hidup ini hanya sebentar. Tidak banyak yang bisa diharapkan, misalnya karier atau kegiatan yang menyangkut urusan dunia, datang dan pergi. Tidak ada sesuatu yang bisa menjadi tiang atau pegangan. Toh, nanti kalau sampai waktu meninggalkan dunia ini, tidak ada yang dibawa.
Kita merasa yakin dengan perbuatan yang istilahnya menanamkan bibit-bibit darma baik, itu buahnya akan menjadi milik kita sekarang maupun akan datang. "Saya sangat enjoy untuk melakukan secara ikhlas, tanpa pamrih, tidak bisa dikaitkan dengan kepentingan atau apa pun, itu memberikan sesuatu kepuasan dan kebahagiaan tersendiri. Kalau tidak demikian, tentu saya tidak bisa melakukannya secara konsisten," ujarnya.
Barangkali sekali setahun dua tahun, tapi saya melakukan ini sudah lama, sejak kecil, sejak umur 14 tahun, dan sekarang sudah berumur 57 tahun. Terlibat berbagai kegiatan sosial keagamaan, saya sendiri percaya bahwa ini adalah karma, pasti di dalam kehidupan yang lampau sudah meniti jalan seperti ini dan di dalam kehidupan sekarang menjadi lanjutan daripada kehidupan masa lalu. Mungkin dalam kehidupan akan datang kembali lagi melanjutkan tugas-tugas atau kebiasaan-kebiasaan sebagai manusia mengabdi pada agama. Hanya kali ini saya tidak bisa menjadi rohaniwan atau biksu karena karmanya belum sampai.
Tantangan
Mengenai tantangan-tantangan, Hartati Murdaya mengatakan, ini justru seperti dirinya yang mengajarkan saya, bagaimana saya harus mengatasinya. Jadi semakin berat tantangan-tantangan itu, berarti saya akan menjadi orang yang menjadi capable menghadapi dan mengatasinya.
Dan kita sadar bahwa di zaman Sang Buddha itu pun tidak terhindar dari adanya Dewa Data. Dewa Data masih keponakan dari Sidharta Gautama, tetapi Dewa Data ini selalu mencari cela, mengincar untuk menghancurkan Sang Buddha, selalu berupaya untuk membunuhnya, memfitnahnya, dan mencelakakannya dengan segala kekuatannya yang ada. Apakah itu kekuatan fisik, magic, atau kekuatan apa saja oleh Dewa Data dilakukan untuk menghancurkan Sang Buddha.
Jadi sesuatu yang baik di dalam dunia ini, tidak berarti harus terlepas dari adanya serangan-serangan atau gangguan dari para siluman, setan, dan tentu zaman sekarang yang namanya siluman atau setan itu adalah rasa kecemburuan, iri, marah atau dengki, itu kan sama saja dengan yang namanya Dewa Data di zaman Buddha itu. Dan saya harus bersyukur dan berpikir positif dengan adanya hal-hal seperti itu membuat diri saya menjadi lebih tegar, berani dan capable atau mampu dari tahun ke tahun untuk mengatasinya. Jadi tidak menjadi masalah.
Persaudaraan
Berbicara tentang persaudaraan umat Buddha, Hartati Murdaya mengatakan, menurut konsepnya, lingkungan kehidupan umat beragama Buddha, sifatnya harus mengintervensi. Kompak, punya kebersamaan yang kuat.
Karena memang dasar ajarannya sama, tetapi masing-masing punya hak untuk melaksanakan akidahnya sendiri-sendiri, seperti di agama Buddha kan banyak sekte-sekte, masing-masing sekte mempunyai fatwa sendiri, mempunyai otoritas sendiri, jangan ada yang saling intervensi, saling memaksakan kehendak, saya yang paling baik, cara saya yang paling benar.
Ini harus ikut pada saya, siapa yang tidak ikut saya, dia sesat, dia tidak patut dimasukkan dalam agama Buddha, dia tidak ikut fatwa saya, dia itu siluman atau setan. Ini membuat kita semua menjadi celaka. Di dalam lingkungan umat Buddha semuanya harus bersatu, rukun, harmonis, gotong royong, sehingga segala beban yang berat kalau dipikul gotong royong akan menjadi ringan, juga nonintervensi.
Kita coba untuk mengembangkan darma agama kita apa, dan darma negara kita apa, dalam darma agama kita mempelajari ayat-ayat suci, melaksanakan kehidupan sehari-hari, melakukan ibadah, semedi atau meditasi, itu adalah bagian kita dari kegiatan darma agama.
Tetapi dalam darma negara tentu harus berbuat sesuatu yang baik untuk masyarakat dalam berbangsa dan bernegara, kita tidak bisa menjadi unsur atau garda yang bermasalah, yang memberikan beban tambahan bagi masyarakat maupun bagi negara.
Kita coba mempunyai darma negara juga, misalnya kita menolong orang, menjadi motor, organizer untuk event-event kemanusiaan, untuk kebajikan dan sebagainya itu adalah sesuatu yang sangat tepat dan penting. Jadi begitu sikap cara pandang yang sebaiknya, seperti Walubi, juga umat Buddha. (E-5)
Sumber: Suara Pembaharuan (13-05-2003)
|