WARTA WALUBI

Tahun 2012
Tahun 2011
Tahun 2010
Tahun 2009
Tahun 2008
Tahun 2007

Tahun 2006
Tahun 2005
Tahun 2004
Tahun 2003
Tahun 2002


WARTA MAJELIS
Tahun 2003
Tahun 2002




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  ANTARA PENGUSAHA DAN POLITIKUS


Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, salah satu keajaiban dunia, merupakan peninggalan bersejarah dari nenek moyang bangsa Indonesia. Candi Borobudur adalah candi agung Buddha terbesar di dunia. Menurut data tahun 1997, setiap harinya wisatawan yang berkunjung rata-rata 6.333,95 orang (13 persen wisman dan 87 persen wisnu).

Lima kemegahan, keagungan, keindahan dan keunikan arsitektur Candi Borobudur yang dibalut dengan nilai-nilai penting dari sisi agama, budaya, dan sejarah telah menjadi fokus perhatian umat Buddha, baik di Indonesia maupun luar negeri.

Walaupun tidak diragukan lagi bahwa Candi Borobudur merupakan tempat peribadatan umat Buddha sejak dahulu kala, dimensi Buddhis tersebut belum didayagunakan untuk meningkatkan nilai ekonomi dari Candi Borobudur sebagai pusat kunjungan wisatawan.

Candi Borobudur selama ini berfungsi sebagai tujuan wisata budaya semata-mata. Penggunaan Candi Borobudur sebagai peribadatan Umat Buddha hanya dapat dilakukan pada saat Waisak Nasional. Itu pun hanya sekali dalam satu tahun.

Perayaan Waisak tahun 2003 ini di Candi Borobudur merupakan yang ke-50 sejak perayaan dilakukan di candi ini pada tahun 1953. Berikut ini petikan wawancara Pembaruan dengan Dra. Siti Hartati Murdaya, Ketua Umum Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia).


Bisa dijelaskan makna Waisak dan peringatan di Borobudur?

Kebetulan tahun ini 50 tahun perayaan Waisak di Candi Borobudur. Dimulai tahun 1953. Pertanyaannya, mengapa baru tahun 1953 di Borobudur?

Setelah Kerajaan Majapahit tumbang, kebudayaannya juga perlahan sirna, tetapi Candi Borobudur-nya (dibangun abad VIII) tetap menjadi suatu keajaiban dunia, dan tetap ada sampai sekarang.

Setelah Borobudur dikenal dunia pada abad XX, maka ada beberapa kali kunjungan mahaguru dari Sri Lanka ke Borobudur. Sebetulnya banyak kunjungan guru-guru spiritual dari tokoh agama Buddha yang mengetahui adanya Candi Borobudur, karena ada juga Candi Angkerwat di Kamboja, dan ada candi-candi yang mereka suka melakukan upacara ritual atau tempat ziarah (pilgrimage). Candi Borobudur termasuk sesuatu yang luar biasa tetapi tidak masuk dalam pilgrimage, kebetulan satu dua biksu yang mengerti sejarah dan tahu di Indonesia ada benda yang sangat berharga, beliau berkunjung ke sini. Lalu sudah mulai juga rakyat Indonesia mengadakan ritual-ritual di Candi Borobudur, kemudian secara perlahan, setiap tahun mulai bangkit kembali semangatnya yang pernah sirna. Setelah itu, tentu kita menyaksikan perbedaan perayaan Waisak saat ini sangat jauh berbeda dengan tahun 1953. Orangnya lebih banyak, maju dan lebih internasional, serta mempunyai nuansa.

Dulunya mereka melakukan waisak di viharanya sendiri-sendiri. Dulu kan banyak larangan-larangan. Ada G-30 S, dan pelarangan partai komunis. Banyak dampak negatif terhadap kehidupan masyarakat yang beragama Buddha saat itu, yang kebetulan kebanyakan adalah keturunan Tionghoa, yang kebetulan pula saat itu sangat kental dengan komunisnya. Pelarangan komunis di Indonesia juga dampaknya erat sekali dengan warga keturunan Tionghoa yang beragama Buddha, jadi serbasusahlah, dan dalam suasana tekanan. Kemudian tahun 1953 sudah mulai muncul kembali dalam skala yang kecil sampai tahun 1992 mulai besar.

Pada tahun 1992 sebetulnya tidak ada perencanaan atau strategi tertentu, hanya sradak-sruduk saja. Hanya saya sebagai panitia tentu berupaya semaksimal mungkin mengajak semua pihak atau potensi yang ada. Saya melihat potensinya sangat besar, banyak aliran, tokoh, dan pemuka. Kami menariknya, mengajak dan diterima, dan mereka hadir. Saya membuat banyak undangan, ke mana-mana saya kirimkan. Dan yang hadir pun banyak. Setiap tahun jumlah undangan saya tambah.


Sejak tahun 1992 anda menggagas agar umat Buddha Indonesia merayakannya bersama-sama di Borobudur. Apakah nilai positif dengan merayakan secara komunal?

Nilai positifnya adalah membangun tali persatuan dan persaudaraan iman antarumat Buddhis. Dan jangan anda kira tidak ada muatan positif sosial dan ekonominya dari perayaan Waisak. Kita melakukan ibadah Waisak di Borobudur itu hanya setahun sekali. Banyak aspirasi dari masyarakat setempat yang bertanya kepada saya, kenapa Waisak-nya hanya sekali, jadi mereka yang punya hotel, dagangan hanya laku setahun sekali. Kalau tidak ada Waisak sepi, tidak ada bisnis. Apakah Walubi bisa menyelenggarakan even seperti Waisak setiap bulan? Banyak pertanyaan seperti itu.

Saya jawab, jelas tidak mungkin. Karena Waisak sendiri datangnya dari Kitab Suci. Hari Trisuci itu tidak diciptakan oleh Walubi atau umat Buddha, tetapi dari sejarah agama Buddha. Di dalam Candi Borobudur sendiri terdapat nilai budaya bangsa kita yang sangat tinggi. Dari sejarah pembangunan Candi Borobudur itu sudah menciptakan nilai-nilai budaya masyarakat yang sangat dalam, tetapi sudah menghilang, sirna, sehingga perlu digali kembali sebagai spirit daripada Borobudur itu sendiri. Ini akan sangat besar sekali daya tariknya, sangat besar manfaatnya bagi kepentingan pengembangan kesejahteraan dari seluruh masyarakat atau warga yang berada di sekitar Candi Borobudur, termasuk masyarakat Jawa Tengah, dan Yogyakarta.


Adakah usaha penguasa untuk menjegal keinginan anda membuat event Waisak secara akbar di Borobudur?

Penguasa tidak menghalang-halangi. Sebetulnya dari pihak kita sendiri, kalangan umat sudah lama menginginkan itu, hanya belum ada orang yang ingin mengorganisir. Karena umat Buddhis sudah trauma dengan adanya pengalaman yang complicated. Dengan Perki, Komunis, jadi umat Buddha sendiri cenderung melakukan ibadahnya sendiri-sendiri di rumahnya masing-masing. Sebab pemerintah juga menganjurkan agar umat beragama Buddha sembahyang di rumahnya sendiri-sendiri, tidak ke tempat yang ramai. Sampai dengan perkembangan demokrasi yang terus berkembang, bahwa umat Buddhis sadar bahwa kita mempunyai hak asasi.

Di situ kami pengurus Walubi, terutama saya diminta, karena saya orangnya pemberani, saya terobos ke pemerintah. Mulai dari direktur sampai menteri hingga presiden kita coba untuk sosialisasi dan menampilkan siapa kita, dan peran serta kita dalam bermasyarakat dan berbangsa. Kita katakan bahwa umat Buddhis bukan unsur yang negatif, berbahaya. Umat Buddhis adalah masyarakat yang sadar memberikan apa yang terbaik bagi agama dan masyarakat, serta umat manusia. Selanjutnya seperti yang bapak-bapak lihat, kita terus berkembang.


Benarkah ada peraturan pemerintah yang membatasi keinginan umat Buddhis untuk beribadah ke Borobudur? Dan bisakah Borobudur dijadikan tempat wisata rohani seperti tanah suci?

Saya sih tidak bermimpi bahwa umat Buddhis sedunia akan melakukan ziarah ke Candi Borobudur. Tetapi kalau memang atas aspirasi dan keinginan umat Buddhis sendiri mengadakan ziarah dan kerja bakti di Candi Borobudur, saya kira itu sulit dibendung atau dihalang-halangi, saya rasa itu tidak mungkin. Apalagi di era demokrasi seperti sekarang ini. Umat Buddhis yang ingin melaksanakan ritual, kerja baktinya di Borobudur itu tidak bisa dihalang-halangi lagi. Bahkan ada maha guru yang tingkatannya sudah tinggi yang saya tahu mengatakan bahwa, kalau mereka ditanya untuk melakukan persembahan yang terbaik di mana. Mereka selalu jawab di Borobudur, bukan di Nepal. Bahkan banyak yang mengatakan kalau saya harus memilih di mana harus melakukan persembahan kepada Sang Buddha, saya akan memilih Borobudur.

Tentunya karena Borobudur itu mempunyai nilai kegaiban yang luar biasa, jadi mempunyai getaran yang dirasakan oleh para petapa, tidak seperti bertapa di hutan, di kota. Di Borobudur mempunyai semacam ilham atau inspirasi atau apa itu namanya begitu kira-kira kata para rohaniawan. Saya selaku organizer Waisak dan sebagai tokoh Walubi, lalu dicari. Suatu badan Asosiasi Agama Buddha di Indonesia dicari-cari oleh beliau-beliau yang sudah tinggi tingkat meditasinya. Mereka tanya mengapa di Candi Borobudur tidak ada tempat meditasi, mengapa di Candi Borobudur kotor. Kenapa yang naik ke Candi Borobudur itu bisa sebebas itu, kenapa kok patungnya bisa diinjak-injak, naik-naik ke atas, mengapa Candi Borobudur tidak ditata dengan baik, sehingga suatu saat bisa ambruk. Memang kalau tidak ditolong oleh Unesco saat ini Candi Borobudur sudah jadi reruntuhan batu. Itu juga kita syukuri ada pihak yang sudah melakukan sesuatu, atau memperbaiki candi. Ya kita semua mensyukuri bahwa Candi Borobudur terselamatkan tidak sampai hancur. Sekarang nilai-nilai budayanya perlu digali.


Apakah anda punya pengalaman spiritual berkaitan dengan Candi Borobudur?

Wah, kalau soal pengalaman pribadi banyak sekali, terutama yang bersifat sangat pribadi. Di Candi Mendut dan Borobudur, saya secara pribadi ada sesuatu yang sulit diungkapkan, tapi nyata-nyata terjadi, dan merasa nyata sekali, sesuatu yang kuat dan luar biasa. Banyak sekali contoh kecilnya, sulit untuk bisa mengatakan, itu kan sifatnya spiritual, yang dapat saya ungkapkan hanya secara fisik saja, sebagai organizer, Ketua Walubi, Ketua Panitia penyelenggara kegiatan itu sudah diketahui oleh masyarakat secara terbuka. Tetapi secara pribadi bukan hanya saya, banyak tokoh lain terutama rohaniwan yang datang ke Borobudur punya pengalaman tersendiri.


Anda melihat apakah pemerintah punya perhatian tinggi terhadap Umat Buddhis?

Kalau dibandingkan agama lain, perhatian pemerintah terhadap agama Buddha memang sangat minim. Tetapi kami sangat bersyukur, umat Buddha sudah boleh melakukan kegiatan ritual di lingkungan candi. Dulu kan kami sama sekali tidak diperkenankan. Masuk saja tidak boleh. Candi itu sudah dinyatakan sebagai candi mati. Jadi candinya sudah benar-benar dinyatakan mati, baik dari dampak ekonominya juga sudah mati, masyarakat sekitarnya sekarang sudah mulai hidup sedikit-sedikit. Masyarakat sudah mulai merasakan dengan besarnya kegiatan-kegiatan ritual seperti Waisak memberikan dampak yang tidak sedikit buat dunia usaha, pedagang-pedagang kecil di sana. Hanya sekarang bagaimana pedagang kecil ini menjadi pedagang yang menengah dan besar. Itu perlu ada sinergi antara peserta upacara Waisak dan potensi industri atau masyarakat di sana.

Sebagai pemimpin umat Buddhis, anda melihat kondisi bangsa dan negara kita menyangkut sosial, politik dan ekonomi bagaimana?

Yang jelas sekarang bangsa kita masih dalam keadaan kacau. Mungkin ini merupakan juga bagian dari karma. Yang harus dilakukan oleh masyarakat Indonesia sekarang adalah melakukan seperti menanamkan benih-benih amal baik sehingga masa depannya dapat memetik buah yang baik pula. Namun yang kita lihat sekarang atau kita pertanyakan sekarang, apakah masyarakat kita sudah atau sedang menanamkan bibit atau perbuatan yang baik untuk memetik buahnya di masa mendatang. Yang menjadi problem kita adalah moral. Krisis moral. Kualitas kebatinan masing-masing warga, terutama yang memegang peranan. Di bidang hukum, hukum itu kaitannya dengan keadilan, kalau keadilan itu tidak bisa ditegakkan akan sulit, karena banyak kejadian yang aneh-aneh menyangkut hukum dan peraturan. Apakah ini termasuk sesuatu yang baik. Itu saya hanya berpikir-pikir saja, tapi saya yakin di antara kita banyak yang baik, yang ramai-ramai itu adalah orang yang tak baik, tapi yang baik, tak menonjol. Saling membenci sesama kelompok kita, juga keserakahan, saling berebutan rezeki, rebutan kursi, bisa kebablasan. Nah ini saya lihat masih terjadi di lingkungan kita, kehidupan sehari-hari. Tapi juga saya melihat potensi yang positif. Masyarakat dan rakyat yang luas ada perbaikan, kehidupan yang lebih baik, dan merasa juga bisa menerima begitu saja, sedangkan juga bisa perlu proses.Yang paling krusial harus diwaspadai kalau saya bilang untuk saat ini adalah erosi wawasan kebangsaan dari saudara-saudara kita. Jadi lebih banyak mengedepankan kepentingan-kepentingan sendiri daripada bangsa. Jadi tidak secara jujur memikirkan kepentingan rakyat. Rakyat itu membutuhkan apa, bekerja saling berebutan apa. Itu saja yang kita lihat.


Apakah penguasa sekarang secara umum, menurut umat Buddhis, sudah memberikan banyak harapan?

Saya melihat kalau secara umum penguasa itu cukup baik, hanya yang menonjol adalah oknum-oknum penguasanya, yang aneh-aneh, yang sulit untuk bisa dimengerti oleh kita. Kita tidak tahu pokoknya sesuatu yang aneh, mungkin pikiran-pikiran sempit ingin mempertahankan sesuatu yang menurut keyakinannya membawa kemenangan bagi dirinya atau kelompoknya. Tapi berusaha untuk sedemikian rupa mengamankannya, sampai melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama. Misalnya sikut kiri, sikut kanan, hantam kiri hantam kanan, putar kiri putar kanan, akal-akalan dan mengada-ada, membuat kita merasa tertekan. Lho kok begitu, sesama orang beragama, kok begitu.

Pewawancara: Eko B. Harsono


Sumber: Suara Pembaharuan (13-05-2003)


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.