WARTA WALUBI

Tahun 2012
Tahun 2011
Tahun 2010
Tahun 2009
Tahun 2008
Tahun 2007

Tahun 2006
Tahun 2005
Tahun 2004
Tahun 2003
Tahun 2002


WARTA MAJELIS
Tahun 2003
Tahun 2002




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  PESAN DAMAI DARI WAISAK


SETELAH kemarin umat Islam memeringati Maulid Nabi Muhammad saw, hari ini umat Buddha memeringati Hari Waisak ke-2547. Ada kesamaan antara dua peringatan itu, sama-sama memperingati kelahiran tokoh besar, pemimpin umat. Waisak selain memperingati kelahiran Buddha Gautama, juga memperingati dua hal lain, yakni tercapainya pencerahan sempurna dan wafatnya Sang Buddha. Karena itu peringatan di saat bulan purnama itu biasa disebut Trisuci Waisak.

Peringatan Waisak meskipun dirayakan oleh umat Buddha, namun ada sejumlah pesan dari peringatan itu yang dapat diambil maknanya oleh seluruh umat manusia. Karena nilai-nilai yang terkandung bersifat universal. Umat Buddha sendiri tentunya memperingati Waisak bukan sekadar melestarikan tradisi, melainkan untuk menangkap nilai-nilai etik, moral, dan spiritual sepanjang kehidupan tokoh umat itu selama hidupnya.

Yang menonjol dari Buddha Gautama adalah kata-kata bijak, perilaku sederhana, dan semangat hidupnya untuk mengajak manusia hidup dalam kedamaian. Sejarah mencatat sifat-sifat terpuji yang dimiliki, yakni berbudi pekerti luhur, tidak mementingkan diri sendiri, melupakan kepentingan duniawi untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Ini tidak hanya diucapkan, tetapi benar-benar dijalani, dan menyatu dalam kehidupan Sang Buddha.

Renungan Buddha yang relevan untuk kita kutip di sini adalah pertanyaan kritis tentang kekerasan. "Apakah semua makhluk itu hidup dari saling membunuh sesama?" Pertanyaan itu tentunya sangat relevan dengan kondisi manusia saat ini yang tega membunuh sesama, atau setidaknya menggunakan cara-cara kekerasan, demi tercapainya ambisi-ambisi pribadi atau kelompok. Kekerasan di sekitar kita telah menjadi bagian dari resistensi terhadap konflik kepentingan, pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan, dan sebagainya. Kita hidup bersama kekerasan. Perang dan konflik bersenjata merebak di mana-mana. Keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin, telah membuat manusia melupakan kebajikan dan moral. Masyarakat mengabaikan cinta kasih dan agama. Akibatnya, penderitaan manusia ada di mana-mana.

Buddha Gautama berkeyakinan hanya cinta kasih yang dapat menyelamatkan dunia. Konflik dan kekerasan di mana pun hanya dapat diselesaikan dengan cinta kasih, bukan dengan mengandalkan senjata, kepalan tangan, dan segala bentuk kekerasan. Hidup di mata Buddha tidak semata kegagahan dan kemewahan. Hidup juga tidak semata kemegahan dan kemasyhuran. Hidup semestinya memiliki arti yang lebih hakiki, untuk mengurangi penderitaan manusia, penderitaan sesama.

Di saat umat Buddha memeringati Trisuci Waisak, kita dapat belajar banyak dari ajaran Buddha, terutama menyangkut cinta kasih terhadap sesama. Tidak sampai setahun lagi bangsa Indonesia melaksanakan Pemilihan Umum 2004. Tujuannya sangat baik, untuk menegakkan demokrasi, agar semua warga mendapatkan hak-hak dan memikul kewajiban secara proporsional. Namun apakah atas nama demokrasi kita boleh membiarkan hasrat untuk saling bermusuhan, saling hasut, dan menista sesama anak bangsa, apalagi sampai mempertaruhkan nyawa?

Ironis jika demokrasi sebagai simbol ketinggian peradaban kita tegakkan dengan kekerasan. Tragis jika nasib bangsa ini ditentukan melalui cara-cara rendah dengan adu kekuatan dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Sejarah bangsa ini sudah terlalu banyak dinodai dengan darah, perjalanan bangsa kita terlalu sarat dengan taburan warna gelap dan pekat.

Di sekitar kita kita juga masih tersisa sejumlah konflik vertikal dan horisontal. Konflik di Papua, di Maluku, dan di Aceh. Konflik itu begitu mudah muncul, tenggelam, dan tak berkesudahan. Penyelesaiannya menyedot enerji dan menyita perhatian. Adalah pada saatnya semua itu kita selesaikan dengan pendekatan kemanusiaan. Pendekatan model cinta kasih sebagaimana yang ditunjukkan Sang Buddha Gautama. ***



FORUM EDITORIAL - MEDIA INDONESIA
Edisi: Jumat, 16 Mei 2003


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.