|
ANTARA/Str-Fenti Warastuti
MAGELANG, 16/5 - PENANAMAN POHON BODHI. Bhiksu dan Bhiksuni dari berbagai Sangha serta umat Buddha melakukan upacara penanaman pohon Bodhi dari Nepal (tempat bertapa Sidharta Gautama) di zona I Taman Wisata Candi Borobudur, sebelah Utara Candi Borobudur, sebelum acara Detik-detik Waisak 2547 Tahun Saka, di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jateng, Jumat (16/5). Perayaan yang diikuti sekitar 20.000 umat dan para Bhiksu dan Bhiksuni Buddha dari berbagai Sangha berlangsung khidmat sejak Selasa (13/5) sampai Jumat (16/5).
Suasana hening ratusan ribu umat Buddha dari dalam dan luar negeri di kawasan Candi Borobudur di Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah mewarnai detik-detik Waisak 2547 atau Tahun 2003, Jumat (16/5).
Detik-detik Waisak 2003 yang terjadi Jumat (16/5) pukul 10.35.48 WIB itu ditandai meditasi para umat dan ratusan bhiksu dari berbagai dewan sangha hingga pukul 10.43.22 WIB mengakibatkan kawasan Candi Borobudur terlihat hening.
Mereka melakukan meditasi dengan sikap tangan "Anjali" dipimpin Bhante Vien Vijano Mahatera dari Sangha Raja Thailand. Meditasi saat detik-detik Waisak itu dilakukan para umat Buddha di altar utama pelataran barat Candi Borobudur.
Para umat duduk di karpet dengan bersila di bawah tenda ukuran relatif besar, sedangkan para bhiksu dengan mengenakan jubah sesuai sangha masing-masing bersila di atas panggung tempat altar utama Waisak. Altar utama Waisak itu dihiasi antara lain patung Buddha warna kuning keemasan, api dharma dan air berkah, aneka warna lilin, sesaji berupa buah-buahan dan bunga.
Usai meditasi detik-detik Waisak 2003, Y.M. Serling Tulku Yongdzin Rinpoche dari Nepal memimpin umat melakukan penghormatan kepada Sang Tri Ratna yang dilambangkan Patung Buddha Gautama warna kuning keemasan dan kemudian membacakan mantra-mantra suci. "Semoga kesadaran kita masing-masing patut ditemukan pada Hari Tri Suci Waisak 2003 yang istimewa ini," kata Bhante Vien Vijano Mahatera.
Ia menyebut persembahyangan Waisak 2003 di Candi Borobudur diwarnai berbagai hiasan indah batin para umat yang datang ke Borobudur dari berbagai tempat baik di dalam maupun di luar negeri. "Persembahyangan itu artinya melakukan Dharma, kita hidup ini penting untuk melakukan Dharma. Selama perayaan Waisak umat harus selalu meresapkan nasihat-nasihat tentang kebenaran dan kesucian yang telah disampaikan para Dewan Sangha," katanya.
Sebelumnya, usai resepsi Waisak Nasional 2003 di Borobudur, Kamis (15/5) sekitar pukul 22.30 WIB, Menteri Agama Said Aqil Husin Al Munawar, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwawea dan Ketua Umum DPP Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Siti Hartati Murdaya menyulutkan api di dalam obor di Candi Borobudur.
Usai penyulutan api perdamaian di Candi Borobudur para Bhiksu dan umat melakukan pradaksina atau berjalan kaki mengelilingi candi sambil berdoa. Mereka mengelilingi candi searah jarum jam dengan mengenakan jubah dan membawa lilin.
Prosesi pradaksina itu berlangsung hingga sekitar pukul 24.00 WIB. Resepsi Waisak Nasional 2003 di Candi Borobudur sempat diwarnai hujan sejak pukul 18.30 hingga 20.00 WIB, namun kegiatan itu tetap berlangsung lancar. Sedangkan suasana langit cerah di atas Candi Borobudur mewarnai detik-detik Waisak 2003 hari Jumat (16/5). (Ant/nik)
KOMPAS - Jumat, 16 Mei 2003
|