|
Suasana hening dipelataran Candi Agung Borobudur terlihat mulai pukul 10.30 ketika Bhante Vin memimpin umat Buddha untuk meditasi. Ribuan umat yang memadati tenda maupun yang berada diluar tenda duduk bersila dalam posisi tangan beranjali meng- hadap altar utama puja bhakti.
Meditasi yang berlangsung khusus diakhiri pukul 10.40 setelah melewati detik-detik Waisak yang jatuh pada pukul 10.35.48. Usai memimpin meditasi itu, Bhante Vin mengharapkan, agar umat selalu menjaga kesucian hati untuk menciptakan kedamaian ketentraman dalam kehidupan sehari-hari.
Serangkaian perayaan Waisak 2547 di Candi Mendut dan Candi Agung Borobudur yang berlangsung sejak 13 Mei lalu sudah berakhir. Umat Buddha yang hadir terlihat sangat bahagia, karena mereka secara langsung menerima pencerahan dari para Bhiksu yang hadir.
Sebelum penyambutan detik-detik Waisak, puluhan Bhiksu melakukan kirab prosesi mengiringi pohon Bodhi yang akan ditanam disebelah Utara Candi Agung Borobudur. Dengan iringan suara terompet (berukuran 2 meter,) piringan drum dan tambur. Mereka berjalan dari pelataran sebelah Barat menaiki bukit candi dan turun menuju lereng bukit sebelah Utara.
Pohon Bodhi setinggi 0,5 meter, merupakan anak pohon dari pohon Bodhi asli yang di pergunakan pertapa Sidharta Gautama, 2547 tahun lalu di Nepal. Penanaman pohon Bodhi itu dilakukan oleh ketua umum DPP Walubi, Dra.S. Hartati Murdaya, setelah menerima pohon Bodhi dari Bhikkhu Vin Wijano dengan ditanamnya pohon Bodhi di Candi Borobudur, diharapkan dapat memberikan keteduhan dikemudian hari.
Bernas - Sabtu 17 Mei 2003
|