|
Rangkaian peringatan Waisak 2547 tahun 2003 diahiri dengan penyalaan 1001 lilin di pelataran Candi Agung Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (15/5).
Penyalaan lilin dan puja bakti yang dimulai sekitar pukul 19.00 WIB itu berlangsung dengan khidmat dan tertib. Sementara, siang harinya detik-detik.
Waisak diperingati dengan melakukan meditasi di pelataran Candi Borobudur tepat pukul 10.30.48 WIB.
Ribuan umat Buddha yang datang berbondong-bondong dari berbagai daerah dan mancanegara tidak ingin melewatkan akhir prosesi peringatan Trisuci Waisak, yang telah dimulai sejak Selasa (13/5)
Tahun ini genap 50 tahun Waisak diperingati di Candi Borobudur, sehingga prosesi dan upacaranya pun lebih istimewa dibanding tahun - tahun sebelumnya.
Prosesi diawali dengan pengambilan api alam di Mrapen, Grobogan, Puwodadi, Jawa Tengah, disertai upacara ritual oleh Dewan Sangha pada hari Selasa sekitar pukul 08.00 WIB.
Sore harinya, sekitar pukul 15.00 WIB, diadakan upacara ritual pengambilan air berkah di Umbul Jumprit, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah.
Api alam dan air berkah itu dibawa ke Candi Mendut, Muntilan, Magelang, untuk disemayamkan selama satu malam. Hari berikutnya Rabu (14/5) prosesi diawali dengan penyerahan api alam dan air berkah kepada Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Dra.Siti Hartati Murdaya dan majelis dari berbagai aliran Buddha.
Sekitar pukul 13.00 WIB api alam dan air berkah yang telah dierima itu dibawa untuk disulutkan ke altar-altar yang disiapkan di pelataran diseluruh tingkatan Candi Borobudur.
Bersamaan dengan itu ribuan biksu, dan biksuni memulai puja dengan berdoa dan bersemedi selama tiga hari berturut-turut disekeliling Candi Borobudur.
Secara khusus mereka berdoa untuk perdamaian Indonesia, kerukunan seluruh umat beragama, juga agar bangsa ini terbebas dari berbagai krisis dan kesulitan.
Prosesi yang tampak istimewa, Kamis (15/5) pukul 15.00 WIB, tujuh ribu lebih umat Buddha berjalan beriringan dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur melawati Candi Pawon.
Pawai yang menempuh jarak sekitar tiga kilometer itu merupakan prosesi wajib bagi umat Buddha sebelum melakukan puja bakti dalam rangka peringatan Trisuci Waisak di Candi Agung Borobudur.
Tampak di barisan paling depan Ketua Umum Walubi, diikuti anggota walubi lainnya yang membawa puluhan bendera Merah Putih dan bendera lambang Boddhi, patung Burung Garuda, api alam, air berkah, Patung Sang Buddha, Kitab Suci dan berbgai sarana puja.
Pawai yang dimulai pukul 15.00 WIB itu tidak hanya menarik perhatian masyarakat sekitar, tetapi juga wisatawan asing dan wartawan dari dalam maupun luar negeri.
Perdamaian Indonesia
Semua sarana puja kemudian diletakkan di altar (panggung) disisi selatan sekitar 400 meter dai Candi Borobudur. Di tempat itulah pada malam harinya, dimulai pukul 20.00 WIB, diadakan upacara seremonial Waisak Nasional 2003.
Hadir dalam acara itu Meneri Agama Prof Dr Said Agil Husin Al Munawar, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea, Duta Besar Cina, Bupati Magelang dan utusan dari negara-negara tetangga.
Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Walubi menyampaikan tema Waisak 2003, "Dengan Semangat Waisak 2547/2003 Umat Buddha Meningkatkan Kualitas Spiritual dan Kebajikan demi Perdamaian, Persatuan dan Kebahagiaan Umat Manusia". Seiring peringatan Waisak, umat Buddha akan terus menyerukan dan pengupayakan terwujudnya perdamaian di Indonesia.
"Semoga Waisak membawa berkah dan kebahagiaan bagi kita semua. Semoga Hyang buddha Tuhan Yang Maha Esa, Sang Triratna dan para Boddhisatva melindungi bangsa Indonesia sehingga menjadi bangsa yang jaya, penuh perdamaian, kesejahteraan dan kemajuan," katanya.
Ia menambahkan, prosesi Waisak Nasional kali ini lebih istimewa karena ada penanaman pohon Bodhi di halaman utara Candi Borobudur. Pohon itu "keturunan" langsung pohon bodhi di Nepal, tempat sang Buddha Gautama bertapa 2547 tahun yang lampau.
Menteri Agama dalam sambutannya mengatakan, bersamaan dengan peringatan Waisak seluruh umat Buddha hendaknya kembali merenungkan dan lebih mendekatkan diri pada ajaran-ajaran Sang buddha.
Dengan terus berpegang pada ajaran Sang Buddha, katanya, umat Buddha diharapkan mampu membentengi diri dengan moral dan spiritual agama dan menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.
Menurut menteri agama perayaan Waisak yang diperingati secara komunal oleh umat Buddha se-Indonesia di Candi Borobudur merupakan simbolisasi dari kekompakan dan persatuan Umat Buddha Indonesia yang kuat dan utuh.
Karena itu bentuk upacara perayaan ini perlu dilestarikan.
Suara Pembaruan
|