|
Momentum kearah resolusi damai dari krisis Irak makin menggulir besar tidak hanya ter-refleksikan dalam diskusi dewan keamanan PBB pada tanggal 14/2/03. Tetapi gelombang dari gerakan demontrasi menentang anti perang, warga dunia mensuarakan moralitas, melibatkan lebih dari 12 juta orang.
Tim perdamaian Indonesia untuk menengahi konflik Amerika Serikat dengan Irak, terdiri dari Tokoh puncak lintas agama Indonesia, telah melakukan kunjungan ke Vatikan dan Brussel (Belgia) dengan misi penyampaian pesan perdamaian. Delegasi Tokoh lintas agama yang berjumlah tujuh orang itu, ber anggota kan para Tokoh penting pemuka agama di Indonesia, berangkat pada malam hari 18/2/03. Pada siang hari sebelumnya para pemuka agama diterima Menteri Luar Negeri RI,DR.N.Hasan Wirayuda di Gedung Pancasila Jakarta.
Delegasi lintas agama Indonesia diterima Sri Paus Johanes Paulus II di Vatikan City sedangkan di Brussel diterima Dewan Uni Eropa diwakili oleh Robert Cooper (Director General for External Relations) dan Parlemen Eropa,diwakili oleh Mr.John Dunne (Diplomatic Adviser to the President of the European Parliament), Mrs. Maijweggen (Belanda) dan Mr.Nirj Deva (Inggris).
Hasil Resolusi bersama Tim delegasi lintas agama Indonesia ke Eropa ini dalam misi pokoknya, mencerminkan kesungguhan rakyat dan pemerintah Indonesia dalam mendukung upaya-upaya ke arah penyelesaian damai krisis Irak.
Anggota Tim lintas agama terdiri dari Bhiksu Virya Mitra Sthavira (Walubi), I Nyoman Suwanda (PHDI),KH. Hasjim Muzadi (NU), Dr.Syafii Maarif (Muhamadiyah), Nurcholish Madjid (ICMI), Kardinal Julius Darmaatmadja (KWI), Pdt. Natan Setiabudi (PGI). Mereka mewakili Indonesia merasa bertanggung jawab atas suara moralitas beragama dan bila terjadi perang, ini dikatakan tidak sesuai dengan gerakan prinsip perdamaian.
|