WARTA WALUBI

Tahun 2012
Tahun 2011
Tahun 2010
Tahun 2009
Tahun 2008
Tahun 2007

Tahun 2006
Tahun 2005
Tahun 2004
Tahun 2003
Tahun 2002


WARTA MAJELIS
Tahun 2003
Tahun 2002




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  JAGAD JAWA HARUS KEMBALIKAN SPIRITUALITAS BOROBUDUR


Semarang, Kompas - Pengembangan kawasan Candi Borobudur, termasuk rencana pembangunan Pasar Seni Jagad Jawa (PSJJ) harus diupayakan untuk mengembalikan spiritualitas candi terbesar umat Buddha itu. Jika tidak, Jagad Jawa dinilai sekadar proyek yang menekankan kepentingan ekonomis pengelolanya semata. Ada pemikiran, cara terbaik mengembangkan wisata di kawasan tersebut adalah dengan mengembalikan spiritualitas Candi Borobudur. Dengan demikian, living culture masyarakat sekitar akan hidup dan menarik sebagai atraksi wisata.

Demikian terungkap dalam diskusi Memahami Borobudur dari Seluruh Mata Angin, Jumat (24/1), di Harian Umum Suara Medeka, Semarang, Jawa Tengah (Jateng). Diskusi dihadiri Gubernur Mardiyanto, budayawan Darmanto Jatman, seniman Sutanto Mendut, arsitek Andi Siswanto, dosen arkeologi Universitas Indonesia Prof Dr Edi Sedyawati, Tim Pengembang Jagad Jawa, seniman dan pedagang di Borobudur, serta akademisi.

Andi Siswanto mengatakan, secara geometri dan geografi Candi Borobudur memiliki makna spiritualitas tersendiri kendati kini telah memudar.

Oleh karena itu, Jagad Jawa, lanjutnya, hendaknya diupayakan untuk mengembalikan spiritualitas kawasan tersebut. Tidak bisa sekadar menjadi pasar seni, melainkan juga harus memberikan ruang presentasi kebudayaan dan kesenian.

Darmanto Jatman mengemukakan, tugas perencana Jagad Jawa adalah menghidupkan kreativitas budaya dan lingkungan. Dengan demikian, pembahasan konsep Jagad Jawa mutlak harus melibatkan masyarakat. "Jangan sampai Jagad Jawa malah membuat orang seperti Sutanto Mendut tidak bisa bergerak," kata Darmanto.

Menurut Andi, secara ekonomis, Jagad Jawa juga harus memakmurkan masyarakat sekitar. Kalaupun dibuat pasar, maka yang dibangun bukan pasar seperti mal, namun pasar rakyat. Menurut dia, ada keindahan tersendiri yang muncul dari sebuah pasar yang sifatnya statis seperti kios, maupun yang dinamis, seperti asongan.

"Jika Jagad Jawa dilakukan dengan konsep yang terintegrasi dengan lingkungan, berkelanjutan, dan tertata, roh kesakralan Borobudur akan muncul dengan sendirinya," kata Andi Siswanto.

Salah satu konseptor Jagad Jawa, Wiendu Nuryanti mengatakan, Tim Pengembangan Jagad Jawa telah mempertimbangkan berbagai aspek. Dia menolak bahwa konsep Jagad Jawa sekadar pasar seni. "Totalitas konsep Jagad Jawa ditujukan untuk meningkatkan kualitas kawasan candi, baik dari segi fisik maupun non fisik. Kami juga telah mempertimbangkan prinsip-prinsip pelestarian nilai-nilai Candi Borobudur dan prinsip manfaat bagi masyarakat sekitar," katanya.

Spiritualitas

Dalam diskusi tersebut juga terbetik ide untuk sedapat mungkin mengembalikan spiritualitas Borobudur, sebab hal itu akan menguntungkan pariwisata Borobudur. Sebagian peserta berpendapat, revitalisasi spiritual dapat berupa pengembalian fungsi Borobudur sebagai tempat ritual Buddha tidak hanya pada saat upacara Waisak. Sebagian peserta lainnya berpendapat, revitalisasi spiritualitas tersebut berupa pengembangan living culture masyarakat sekitar Borobudur.

Namun, pendapat tersebut ditentang arkeolog Edi Sedyawati. Menurut dia, konsep menyakralkan kembali Candi Borobudur tidak tepat, sebab contiuning culture di masyarakat kawasan tersebut sudah terhenti. Dengan demikian, Borobudur, kini sekadar monumen mati (dead monument) yang perlu dilestarikan untuk kepentingan penelitian arkeologi dan wisata. "Perundang-undangan yang ada mengatakan Borobudur itu dead monument, jadi tidak bisa disakralkan lagi," katanya.

Pendapat Edi ditolak seniman Borobudur Sutomo Arisworo. Menurut dia, Borobudur dianggap mati menurut dogma arkeolog, namun untuk kaum Buddha dan masyarakat sekitar, Borobudur tidak pernah mati. (bsw)





KOMPAS - Sabtu, 25 Januari 2003

 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.