|
NAMA Dra. S. Hartati Murdaya mulai muncul ke permukaan, dan orang banyak membicarakan mengenai perkembangan kehidupan umat beragama Buddha di Indonesia, menjelang Munas II Walubi, dimana Hartati sedang, mengemban tugas mulia dari Bhante Girirakkhito Mahathera, untuk menyelesaikan kemelut yang terjadi dalam tubuh Walubi. Misi yang diemban Oleh Dra. S. Hartati Murdaya semua itu dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, ternyata berhasil dan sukses.
Dalam Pasca Munas II Walubi di dalam tubuh DPP Walubi terjadi kemelut masalah AD dan ART Walubi, yang berakhir telah dikeluarkannya Sangha Agung Indonesia (SAGIN) dan Majelis Buddhayana Indonesia (MBI). Disini S.Hartati Murdaya memegang peranan yang sangat penting, bahkan dapat dikatakan peran beliau sangat menentukan sekali. Hal ini disebabkan dalam ketulusan berdana, korban jiwa, raga, berupa mengorbankan materi tenaga dan pikirannya dalam mengupayakan agar harkat dan martabat Walubi dapat ditingkatkan di mata pemerintahan dan masyarakat. Ternyata upaya ini berhasil Dra.S. Hartati Murdaya membawa nama harum Walubi.
Konsolidasi DPP Walubi menyelenggarakan penyempurnaan susunan personalia DPP Walubi dengan mengadakan musyawarah daerah (Musda) dan musyawarah wilayah (Muswil) Walubi di seluruh Indonesia, dimana peranan dan gerakan S.Hartati Murdaya sangat besar sebagai Ketua Umum/Pelaksana Dewan Penyantun. Sehingga Musda dan Muswil Walubi yang diadakan dapat berjalan dengan
mulus.

Altar Dharmasanti Waisak di JHCC, Jakarta |

Sendratari kelahiran Pangeran Sidharta di tampilkan pada gema pembukaan Dharmasanti Waisak 2537 di JHCC,Jakarta |
Even upacara Suci Waisak Nasional yang dilaksanakan di Candi Mendut dan Candi Borobudur sejak tahun 1993-1996 telah terlaksana dengan sukses besar. Dan pada tahun 1996 ritual upacara Waisak di Mendut dan Borobudur merupakan Waisak paling akbar. Dibawa kepanitiaan S.Hartati Murdaya. Dalam upacara Trisuci Waisak dan Dharmasanti Waisak Nasional di tahun 1993 hingga 1996 peran dari sosok seorang Ibu Murdaya termanifestasi dari keberhasilannya dalam memegang kunci
WALUBI.

Pemberian simbolik dari Walubi.Henny Honoris kepada pihak panti laras di serahkan langsung di Jakarta. |

Pra Waisak 1993, Walubi memberikan snack pada penderita sakit jiwa di Jakarta. |
Selanjutnya even lain Hartati Murdaya adalah merekrut para pengusaha Buddhis (konglomerat) untuk bersama-sama mendirikan Yayasan Kepedulian Sosial Paramita. Yang pada intinya merespon positif kegiatan bakti sosial dengan mengumpulkan dana sebagian dari harta para pengusaha, dibagikan untuk warga masyarakat tak mampu.
Pada akhirnya alm. Bhante Girirakkhito memberi gelar kepada S. Hartati Murdaya sebagai Ratu Lebah. Energik disetiap even dalam membangun bangsa.
Demikian Siti Hartati Murdaya sebagai ratu lebah, berhasil menghimpun para konglomerat Buddhis membentuk Yayasan Paramita. Disini membuktikan prestasi yang luar biasa dari pengabdian seorang ibu dalam upaya mengentaskan kemiskinan.
Kalau ditanya tentang pengabdian apalagi yang diberikan oleh S. Hartati Murdaya yang di pandang sebagai prestasinya, adalah sebagai berikut :
- Vihara Buddha Metta adalah tempat ibadah umat Buddha, mantan rumah milik Hartati Murdaya yang dirubah menjadi Vihara, ini digunakan demi kepentingan umat Buddha dalam meningkatkan keyakinan.
- Perpustakaan Narada sebagai sumbangsih upaya mencerdaskan kehidupan bangsa khususnya umat Buddha.
- Vihara Mendut, salah satu vihara letaknya bersebelahan dengan Candi Mendut, Vihara ini dibangun untuk kepentingan umat berpuja bakti.
Inilah figur Hartati Murdaya, salah satu pengusaha yang berani terjun dalam organisasi Buddhis dan kegiatan sosial keagamaan di Indonesia, yang kemudian dapat disusul oleh konglomerat lainnya yang telah mulai menunjukkan prestasi dalam pengabdiannya.
WLB
|