Menteri Agama Republik Indonesia, Said Agil Husin Al Munawar mengingatkan, umat beragama di Indonesia menghadapi empat tantangan besar. Pada poin pertama yakni fanatisme yang sempit, menganggap dirinya yang paling baik dan benar sedangkan pihak lain digolongkan sesat. Kedua anarkisme, pemaksaan kehendak sehingga terjadi konflik yang berkepanjangan. Ketiga sadisme sikap yang kejam di luar tata kemanusiaan. Keempat, merosotnya mental dan moral yang diakibatkan oleh berbagai unsur seperti pornografi dan narkoba.
Hal itu yang dikatakan Menteri Agama RI dalam sambutan tertulisnya dibacakan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha, Drs.I Wayan Suarjaya, Msi di Vihara Vipassana Graha, lembang-Bandung pada pembukaan Rapat Kerja Nasional Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) tahun 2002 pada hari Sabtu,31 Agustus 2002.
Pada keempat poin itu Said Agil mengatakan, harus diantisipasi dengan diantaranya menghindari perilaku radikal, tidak radikal, tidak toleran dan ekslusif. Selain itu semua pihak diharapkan mematuhi peraturan yang tertuang dalam Keputusan Bersama antara Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No.1 tahun 1979 tentang Tatacara Pelaksanaan Penyiaran Agama dan Bantuan Luar Negeri kepada Lembaga Keagamaan di Indonesia.
Dengan demikian umat mampu menempatkan diri pribadi bersama umat beragama lainnya, untuk meminimalisasi keempat tantangan tersebut dan mampu menciptakan kehidupan yang harmonis, selaras serasi dan seimbang dalam mewujudkan ketenangan lahir batin.
Oleh sebab itu secara tertulis Menteri melalui rakernas mengharapkan perlu dikembangkan bersama tiga program ideal kehidupan beragama, antara lain terwujudnya umat Buddha yang agamis berperadaban luhur berasaskan hati nurani yang disinari oleh sinar Dharma Sang Buddha. Terhindar nya perilaku radikal ekstrim tidak ekslusif dalam kehidupan beragama, sehingga terwujud umat Buddha yang rukun dan damai dalam kebersamaan dan ketentraman. Selanjutnya terbinanya umat Buddha yang menghayati dan mengamalkan ajaran agama dengan sebenarnya, kata lain mengutamakan persamaan menghormati perbedaan melalui internalisasi ajaran agama, demikian umat Buddha dapat hidup rukun dan damai.
Rapat Kerja Nasional yang berlangsung selama dua hari dihadiri 15 anggota Sangha yang tergabung di Walubi terdiri dari para Bhikku Sangha Theravada, Sangha Mahayana dan Sangha Tantrayana ditambah 18 Propinsi yang berasal dari Dewan Pengurus Daerah tingkat I Perwakilan Umat Buddha Indonesia lengkap delapan Majelis dan satu Lembaga Keagamaan Buddha Indonesia,antara lain dari Propinsi DKI Jakarta, Bengkulu, Bali, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Lampung, Riau, Sulawasi selatan, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Jogyakarta dan Banten, Ketua Umum DPP Walubi, Dra. S.Hartati Murdaya serta Ketua Umum Wanita Walubi, Abhayahema K. bersama jajarannya.
Ketua Panitia Pelaksana Rakernas Walubi 2002, Suhadi Senjaya menyebutkan temanya "Meningkatkan pelayanan untuk mewujudkan bakti Walubi sebagai pemersatu umat Buddha." Lebih dari 150 orang hadir dari Perwakilan Majelis Daerah dalam rakernas Walubi.
Ketua Umum DPP Walubi, Dra. Siti Hartati Murdaya dalam sambutannya pada rakernas, berharap dapat meningkatkan komunikasi dan kerjasama yang lebih baik antara Walubi Pusat dan Walubi Daerah. Antara Walubi daerah yang satu dengan Walubi daerah yang lain, antara DPP Majelis yang satu anggota Walubi dengan DPD Majelis yang lain anggota Walubi yang tersebar didaerah-daerah di seluruh Indonesia. Dengan aktivitas bergotong royong saling membantu, saling mengisi dan bukan saling bersaing serta saling mengecam. Ditegaskan Ketua Umum Walubi, bahwa walubi menganut faham prinsip non intervensi dalam Dharma Agama atau keyakinan akidahnya masing-masing dan bersatu dalam Dharma Negara.
Hartati Murdaya mengingatkan, Walubi sebagai organisasi yang sudah maju dan terkenal seyogyanya memiliki strategi dan gerakan yang sesuai dengan perkembangan zaman, khususnya di era Indonesia dan globalisasi dunia internasional.
Bhiksu Virya Mitra yang biasa dipanggil Suhu Yu Chen memberi pandangan mengenai Rakernas Walubi 31 Agustus dan 1 September 2002 di Vipassana Graha Lembang." Pertemuan Rapat kerja ini sangat baik yaitu DPP pusat mendekati DPD, saling mengetahui kondisi apa yang terjadi di antara organisasi Walubi itu sendiri". Suhu mengatakan dalam hal komunikasi Itu sangat baik, karena tanpa Rakernas berarti Walubi hanya disibukkan oleh upacara Waisak di Borobudur semata. Selain itu upacara selesai sudah tidak lagi karya nyata yang mungkin bisa membawa Walubi yang lebih maju dan berkembang. Karena menurutnya hubungan batin secara khusus antara anggota Walubi itu dirasakan kurang harmonis, kalau jarang ada pertemuan seperti yang dilakukan seperti di rakernas ini, baik pusat maupun DPD bila ada kendala rintangan atau ada komunikasi yang kurang disetiap persoalan bila dapat berkumpul, semua bisa di selesaikan bersama.
Walubi yang dipimpin Ibu Hartati Murdaya sudah mempunyai suatu perbuatan Dharma Negara yang patut kita banggakan. Dan tidak ada diorganisasi lain bisa menandingi Walubi. Dharma Agama pun sedang diperjuangkan, yang patut dibanggakan terhadap Ibu adalah sukses menyelenggarakan Waisak secara nasional di Borobudur, Jawa tengah. Memang sangat setuju perlunya strategi dalam berorganisasi, kalau tidak mudah dikacaukan orang dalam menjalin kesatuan dan persatuan bersama. Dan mengharapkan kepada Ibu Ketua Umum Walubi tidak berstrategi didalam negeri saja melainkan diluar negeri di dunia Internasional. Yang terpenting pada gerakan ini adalah jalin kebersamaan dalam peribahasa kata berat sama dipikul ringan sama dijinjing disamping sudah menyiapkan diri dalam membentuk kaderisasi.
Pembukaan Rakernas Walubi 2002 dimeriahkan oleh Pagelaran Kesenian bernuansa Buddhis dengan penampilan kesenian tradisional khas sunda, kolaborasi musik dan penari jaipongan dengan lagu berbahasa mandarin, rempag serta tari kipas dibawakan oleh putra putri Bandung. Pembukaan dimulai lagu Indonesia Raya dan Hymne Walubi dibawakan oleh koord Wanita Walubi. toto

Sambutan Menteri Agama R.I. yang dibacakan oleh Dirjen Bimas Hindu dan Buddha, Drs. I Wayan Suarjaya, Msi.
|
|

Anggota Sangha yang tergabung didalam Dewan Sangha Walubi
|

Photo bersama-sama DPP Walubi, DPD Walubi dan DPP Wanita Walubi.
|
|

Sambutan Ketua Rakernas Walubi.
|

Sambutan Ketua Umum DPP Walubi, Ibu Dra. Siti Hartati Murdaya
|
|

Doa yang dibacakan oleh Bhiksu Virya Mitra
|

Acara Pembukaan Rakernas Walubi dimulai dengan lagu Indonesia Raya
|
|

Group Wanita Walubi sedang menyanyikan Hymne Walubi
|

Ibu-Ibu yang berasal dari Majelis NSI menyumbangkan kesenian dengan angklung
|
|

Tari Jaipongan dengan lagunya yang berbahasa mandarin
|

Tari kipas dibawakan oleh putra-putri Bandung
|
|
|
|