"Tujuanku ialah memperkenalkan alat musik Angklung kepada sebanyak mungkin orang agar dikenal dimana-mana, dan kepercayaanku, musik adalah bahasa universal dan dalam hubungan inilah saya mengharapkan Angklung dapat menggalang perdamaian dunia yang kita cintai dan dambakan".
Kalimat ini adalah merupakan semboyan Sang Maestro angklung "Daeng Soetigna".
Sabtu, 18 Mei 2002 di Sasana Budaya Ganesha ITB, Bandung, digelar konser Angklung disaksikan lebih dari seribu penonton dan diikuti oleh berbagai Grup Angklung, bahkan dimeriahkan oleh penyanyi kondang Reza istri bintang sinetron Aji Mas Said.
Dalam rangka Konser Angklung ini grup angklung Gita Pundarika NSI, ikut ambil bagian untuk berpartisipasi. Angklung bagi umat NSI tentu saja bukan suatu musik yang aneh, 20 tahun lebih ibu-ibu NSI telah memainkan musik ini. Bila angklung menjadi musik pilihan utnuk dimainkan oleh ibu-ibu NSI, tentu saja bukan tanpa alasan, Buddha Niciren Daisyonin selalu mengingatkan kepada kita akan pentingnya Itai Dosyin (satu hati), memainkan musik angklung sangat diperlukan kesatuan hati diantara pemainnya, angklung tidak akan menghasil irama yang enak didengar bila hanya dimainkan oleh beberapa orang saja, dengan demikian untuk menghasilkan irama yang indah dari musik angklung, diperlukan persatuan dan kebersamaan para pemainnya. Karena itulah musik anglung dipilih oleh ibu-ibu NSI, selain sebagai sarana untuk menjalankan pertapaan Bodhisattva Gadgasvara juga sebagai sarana untuk menjalankan pertapaan melatih kebersamaan dalam kehidupan.
Bila hal ini dikaitkan dengan semboyan dari Daeng Soetigna tersebut diatas, tentu saja ibu-ibu NSI telah ikut berperan juga dalam menggalang perdamaian dunia. Selamat kepada grup-grup Angklung NSI, selamat menjalankan pertapaan dalam bermusik.
(Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia)
|