|
Buddha Dharma adalah ajaran yang komprehensif tentang proses kehidupan manusia yang meliputi lahir, sakit, tua dan mati. Proses ini berlaku untuk semua manusia, tiada seorangpun yang dapat menghindari, dikatakan Bhiksu Dutavira Mahasthavira saat seminar singkat bertajuk Perjalanan Roh di Hotel Golden Jakarta pada sore hari tanggal 17 Agustus 2002, dihadiri sekitar 1500 umat Buddha Sejabotabek.
Hakekat Buddha Dharma mengajarkan umatnya bagaimana seharusnya menghadapi keempat proses itu agar hidup tidak sia-sia atau menjadi sengsara. Bhiksu Dutavira mengambil contoh: menghadapi perjalanan kematian. Banyak orang yang harus menjalani sakit yang berkepanjangan, cuci darah, kanker, kemoterapi,dll.
Cuplikan Sejarah Cioko dan Perjalanan Roh: dalam dunia kita yang fana ini, segala hal tidak dapat terlepas dari hukum waktu dan hukum ruang. Misalnya : siapapun orangnya ia hanya mempunyai waktu 24 jam dalam sehari. Bila bisa digunakan dengan baik dan bermanfaat maka kehidupannya tidak sia-sia. Sedangkan ruang pertemuan Dharma seperti sekarang ini dan juga ditempat-tempat ibadah lainnya dengan ribuan orang yang dengan hikmat membaca sutra dan mantra serta memuliakan Namo Oh Mee Toh Fo akan menimbulkan getaran-getaran kegaiban yang dapat membangkitkan benih-benih kebahagiaan dalam batin. Sedangkan ditempat hura-hura orang akan tertarik menuju kepuasan nafsu indrawi yang tentu pada akhirnya akan sia-sia dan menderita.
Karena kita kini berada pada bulan Cit Gwee (Imlek bulan ke 7), suatu bulan dimana terbuka hubungan antara alam baka dan alam manusia (ming yang liang cie) dan saat sekarang bangsa dan negara kita sedang merayakan hari kemerdekaan RI ke 57, untuk itu kita mengadakan pertemuan Dharma ini untuk ikut mendoakan supaya bangsa dan negara ini makin cepat keluar dari multi dimensi yang menyengsarakan masyarakat banyak dan mendoakan para arwah pahlawan bisa dilahirkan di alam yang baik di surga, maka pada hari yang baik ini Suhu mengadakan Persamuan Dharma di sebuah hotel di Jakarta yang bertajuk Sejarah Cioko dan Perjalanan Roh.
Setelah jelas proses tersebut, agar dapat menghindari segala kesengsaraan dalam hidup ini , suhu menunjukkan dua cara yakni :
- Mengatasi dengan kekuatan sendiri dengan hidup mengumpulkan tiga keberuntungan, melaksanakan Sad Paramita dan beribadah dengan cara 5 pintu memasuki Tanah Suci menjadi manusia Tanah Suci.
- menolong orang lain mengatasi perihal proses kesengsaraan kematian ini dengan Cu Nien yaitu dengan doa yang penuh keyakinan dalam pwerlindungan Oh Mee Toh Fo agar 3 tahapan :
1. Saat sakit bisa pasrah diri dan berdoa penuh keyakinan kepada Oh Mee Toh Fo dan Kuan She Im Pu Sa.
2. Saat meninggal dunia bisa dilahirkan di Tanah Suci Surga Sukhavati
3. Cara yang tepat dan baik mengurus jenazah.
Sekali lagi, karena soal waktu (timing) yang tepat, maka usaha untuk menolong orang lain dan arwah arwah yang membutuhkan pertolongan akan menjadi efektif jika dilakukan padsa saat ini yang dikenal dengab Upacara Ulambana.
Persamuan Dharma ini dilakukan dalam dua sesi :
- Upacara Ritual dan Kotbah Suhu, tema : Sejarah Cioko dan Perjalanan Roh.
- Seminar berupa Tanya jawab perjalanan roh manusia biasa dan perjalanan roh umat Buddha yang saleh.
Puncak Upacara Ulambana akan dilakukan di Vihara mulai tanggal 25 Agustus 2002 sampai dengan tanggal 31 Agustus 2002 dan membagikan beras kepada fakir miskin sebanyak 18 ton.
Persamuan Dharma ini dihadiri oleh ribuan pengunjung yang telah membaca sutra dan mantra dengan hikmad sehingga melahirkan getaran-getaran yang dapat membuat segenap pengunjung larut dalam kebahagiaan Dharma. Semoga semua makhluk yang berjodoh berbahagia.

|
|

Pengguntingan Pita dan Penanda tanganan prasasti
peresmian Vihara BALI oleh Dirjen Bimas
Hindu dan Buddha, Bpk. I Wayan Suarjaya
|

Sambutan Ketua Umum DPP NSI (Bpk Suhadi Senjaya) pada peresmian Vihara Bali
|
|

Sambutan Ketua DPW NSI - Bali (Bpk. Made Sute) pada peresmian Vihara Bali
|
|