|
19 Januari, 2002
Seumur hidup berjuang dan berkorban membimbing umat manusia setiap menit dan detik tiada henti mengabdi tekad teguh membaja menerjang laksa ujian kesucian sempurna nama harum semerbak sepanjang masa, pagi yang cerah, kota Surabaya dan sekitarnya yang biasanya selalu di guyur hujan, pagi ini tampak cerah. Hari ini sabtu 19 Januari 2002, merupakan hari yang penting bagi umat ketuhanan Indonesia. Sesuai dengan titah dari Maha sesepuh Gautama Hardjono, hari ini akan diadakan Ziarah Nasional ke makam yang mulia maha sesepuh Maitreyawira. Ziarah yang juga dihadiri oleh para Abdi daerah, para pandita dan pengurus DPP MAPANBUMI ini, menjadi sebuah moment penting karena Ziarah nasional ini baru pertama kalinya dilakukan di Indonesia. Sebelumnya Ziarah ke makam Y.M.M.S. Maitreyawira diadakan jika ada acara besar di malang bukan acara yang secara khusus diadakan namun mulai tahun ini, Ziarah nasional ini akan menjadi agenda tetap umat ketuhanan Indonesia. Dengan Ziarah nasional ini, umat ketuhan seluruh Indonesia mempunyai kesempatan untuk berkumpul bersama dan bersatu melakukan penghormatan kepada Y.M.M.S. Maitreyawira dan ziarah ini juga mengingatkan kita akan budi kebajikan dan pengorbanan dari maha sesepuh.
Memasuki lokasi pemakaman lawang ini ibarat memasuki sebuah tempat peristirahatan. Apalagi didukung oleh pemandangan sekeliling makam yang indah dan dikelilingi oleh hamparan bukit. Hanya saja ini bukan tempat peristirahatan/vila pada umumnya, tetapi merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi tubuh jasmani ini, satu persatu kendaraan memasuki pelataran parkir makam lawang, jawa timu tampak rombongan dari berbagai kota dan daerah mulai hadir di lokasi makam, sambil menunggu rombongan M.S. Gautama dan para pandita yang berangkat dari malang, para peziarah menikmati sejuknya udara kota lawang sambil mengamati makam-makam yang ada di sekitar. Mulai dari makam yang biasa saja sampai makam yang biasa saja sampai makam yang biasa saja sampai makam yang sangat mewah terbentang di depan mata. Kalau dipikir-pikir, kata-kata bijak yang mengatakan bahwa hidup itu bagaikan sebuah sandiwara atau film belaka adalah benar adanya. Ketika film itu sudah usai, maka semua gelar, kekayaan, dan semua yang dimiliki selama bermain film, harus ditinggalkan. Karena pada kenyataannya tak ada yang benar-benar menjadi milik sendiri. Semua itu hanya peran di film saja. Sama halnya kehidupan manusia. Ketika napas ini tak bisa ditarik lagi, benda apa yang bisa kita bawa pergi? Gelar apa yang bisa dibawa pergi? Yang tinggal hanyalah sebuah on bisa dibawa pergi? Yang tinggal hanyalah sebuah onggokan tanah. Ada onggokan tanah yang kecil dan ada yang lebih besar. Ada yang dihias dengan sederhana dan ada yang dibuat dengan istimewa. Namun besar atau kecil, sederhana atau mewah, itu tetap hanya sebuah onggokan tanah. Lalu apa artinya semua itu
Namun dari ratusan makam yang ada di sini, ada sebuah makam yang berbeda dengan yang lainnya. Karena makam itu bukanlah makam orang awam biasa, tetapi makam seorang yang selama hidupnya telah mengorbankan segalanya demi umat manusia, yang dengan ketagahannya membimbing umat manusia, yang mencurahhkan segala kasihnya melayani umat manusia, yang dengan segala ketegarannya menerjang laksa ujian dan cobaan, dan yang dengan segala kearifannya menerima semua beban dan tanggung jawab. Dialah yang mulia maha sesepuh Maitreyawira Bodhisatva madya hong chang. Makam itu tentu tidak lagi menjadi makam biasa.
Karena makam itu akan dicatat dalam sejarah umat manusia 10.800 tahun onggokan tanah itu tidak lagi menjadi onggokan tanah yang tak berguna karena sepanjang tahun ratusan umat ketuhanan akan mendatanginya dan memberikan penghormatan kepada Sang Pemilik onggokan. Onggokan itu boleh jadi hanya tetap seonggok tanah, namun nama Harum Sang Pemilik akan terus harum semerbak sepanjang masa. Semua ini tak lepas dari karya ilahi, perjuangan pengorbanan, dan dedikasi sang pemilik, Y.M.M.S. Maitreyawira. Demikianlah setiap tetas keringat air mata dan darah yang dikorbankan demi Misi ketuhanan, tak ada satupun yang sia-sia. Tercapailah buah kesempurnaan dan nama harum semerbak sepanjang masa.
Pukul 09.00, maha sesepuh Gautama beserta para pandita dan para umat tiba di areal makam. Setelah chancia kehadapan makam M.S. Maitreyawira dan maha dewa Cing Hua, acara ziarah dimulai dengan ritual penyajian tampak 5 orang pemudi dari Vihara Buddha Maitreya Malang sudah siap berbaris rapi di depan makam untuk menghantarkan sajian.
Berbagai macam buah dan kue yang sudah disusun dengan rapi siap untuk disajikan. Upacara sajian berlangsung dengan hikmat. Setelah sajian selesai M.S. Gautama memimpin para pandita dan umat yang hadir untuk bersujud kehadapan Bohisatva Madya Hong Chang dan Maha Dewa Cing Hua. Tempat yang sempit sedangkan umat yang hadir banyak, sehingga tidak semua umat dapat bersujud. Sehingga sebagian umat memberikan penghormatan dengan cara membungkukkan badan.
Dalam kata sambutannya M.S. Gautama Harjono mengungkapkan rasa bahagianya melihat banyaknya umat yang hadir dalam ziarah kebahagiaan ini juga diperlihatkan oleh alam yang diwujudkan dalam dukungannya kepada ziarah ini. Apa yang di khawatirkan akan terjadinya hujan sehingga jalan di makam menjadi becek, ternyata tidak terjadi pada hari ini, justru cuaca tampak cerah sekali. Sungguh ini merupakan rahmat kasih tuhan dan budi kebajikan Guru. Selain itu M.S Gautama Hardjono juga menyampaikan tentang pentingnya acara ziarah ini. Dengan ziarah ke makam Maha sesepuh ini berarti kita mengenang, memberikan penghormatan, meneladani perjuangan Maha Sesepuh, dan bersyukur atas segala apa yang telah diberikan Maha Sesepuh terhadap kita. Kalau bukan karena M.S. Maitreyawira, bagaimana mungkin hari ini kita bisa mendapatkan jalan ketuhanan? Bagaimana mungkin kita bisa membina ketuhanan? Jadi marilah kita meneladani Maha Sesepuh dalam berkarya dan bertugas selama membina ketuhanan. Pada kesempatan itu juga M.S.Gautama Hardjono menetapkan bahwa ziarah nasional ini akan menjadi acara rutin setiap tahunnya.

|
|
|
Ini merupakan salah satu cara kita membalas budi jasa beliau dan senantiasa mengenang segala perjuangan dan dedikasi beliau. Dengan demikian teladan yang telah beliau berikan akan terus terpatri dalam diri dan menjadi inspirasi kita dalam menapaki jalan pembinaan ini setelah sambutan dari M.S. Gautama Hardjono, acara dilanjutkan dengan menabur bunga ke makam Y.M. M.S. Maitreyawira. Semua yang hadir ikut menabur bunga. Semua berbaris dengan tertib untuk mendapatkan giliran. Tampak wangi harum semerbak bunga mawar dan melati yang ditaburkan, seharum nama dan kesucian beliau sepanjang masa. Mengakhiri acara ziarah pada hari ini diadakan foto bersama M.S. Gautama, para pandita dan boleh berakhir, namun karya suci Y.M. Maha Sesepuh Maitreyawira tak pernah berakhir. Perjuangan dan dedikasi beliau akan terus terpatri dalam hati umat ketuhanan Indonesia. Teladan beliau senantiasa menjadi obor yang menerangi jalan dalam perjuangan membina ketuhanan. Sampai jumpa di ziarah nasional tahun depan!
|