|
Liputan bimbingan nurani M.S. Gautama Hardjono dan para Pandita Graha Maitreya, Surabaya. "Tubuh manusia memerlukan energi makanan agar tetap dapat beraktivitas. Demikian juga rohani memerlukan santapannya agar tetap cemerlang. Membantu tugas-tugas vihara, melaksanakan etika kebuddhaan, melakukan bakti puja dan berdoa, mendengarkan ceramah, merupakan santapan bagi rohani." Demikian M.S.Gautama Hardjono membuka bimbingan nurani pada hari itu. Bimbingan nurani yang diadakan di Graha Maitreya ini dihadiri oleh kurang lebih 700 umat dari berbagai daerah baik dari jawa Timur maupun propinsi lainnya. Hadir juga dalam bimbingan nurani ini para maha pandita, abdi daerah, pengurus DPP MAPANBUMI dan para pandita dari berbagai daerah. Selain M.S. Gautama Hardjono ikut menyampaikan bimbingan nurani pada hari itu yaitu Pandita Citra Surya dan Pandita Halim Zen Bodhi. Sebelum bimbingan nurani ini dimulai M.S. Gautama Hardjono beserta para pandita dan umat bersujud ke hadapan LAU MU dan para Buddha agar senantiasa membuka kearifan sehingga semua bimbingan yang disampaikan pada hari itu dapat diinsafi dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
KESUNGGUHAN HATI DAN KESEIMBANGAN
Dalam khotbahnya M.S. Gautama Hardjono menekankan perlunya keseriusan dalam membina. Proses pembinaan tak akan berhasil jika tidak dilakukan dengan serius, tidak pernah khou sou, tidak mau mendengarkan dharma jarang melakukan bakti puja, tidak melaksanakan etika kebuddhaan, jangan mengharapkan para buddha Bodhisatva akan datang membantu jika kita sendiri tidak mempunyai kemauan untuk mengubah diri dan tidak menunjukkan kesungguhan hati. Dalam kehidupan sehari-hari saja, orang akan lebih senang dengan orang yang mempunyai kesungguhan hati dalam bekerja. Kehadiran kita dalam persamuan ilahi ini merupakan wujud nyata kesungguhan kita dalam membina ketuhanan.
Selain keseriusan, kita juga perlu menjaga keseimbangan atau kehormonisan. Secara makro, jika ekosistem alam ini tidak seimbang maka terjadilah banyak bencana alam. Secara mikro, kalau tubuh ini tidak ada keseimbangan maka kita akan sakit. Lalu bagaimana jika jiwa kita yang tidak seimbang? Misalnya suka marah dan berapi-api. M.S. Gautama Hardjono mengajarkan sebuah jurus untuk memadamkan api amarah yaitu telan air liur/ludah. Api yang sedang membara itu akan segera padam dengan siraman air.
Poin yang juga tak kalah pentingnya dalam khotbah maha sesepuh pada pagi itu yaitu memiliki hati yang tahu puas atau rasa syukur. Manusia umumnya tak pernah mengenal rasa puas. Akhirnya manusia terus menuntut dan berlomba-lomba memenuhi semua keinginannya. Tapi akhirnya apa yang didapat. Sampai akhir hayatpun manusia tak akan pernah puas. Lihatlah orang-orang yang ada di sekelilingmu, begitu banyak yang masih hidup dalam kesusahan dan kemiskinan. Jika dibandingkan dengan diri kita, kita sudah lebih dari cukup. Karena itu senantiasalah bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki. Orang yang hidup dalam kepuasan jiwa dan rasa syukur, hatinya pasti selalu diliputi dengan kebahagiaan. Hari-harinya akan terasa seperti di Nirvana.
Di bagian akhir khotbah M.S. Gautama Hardjono menyampaikan tentang keluhuran dalam beramal tahapan pertama dalam membina ketuhanan adalah beramal, baik itu amal dana, tenaga, dan dharma. Jangan takut untuk beramal. Jangan takut rejeki akan berkurang karena beramal. Karena beramal sama dengan menimba air sumur yang tepat pada sumber airnya. Biarpun banyak air yang ditimba tapi air sumur terus mengalir dan bertambah. Lakukanlah sesuatu yang bermakna dan mulia dalam hidup ini, jika tidak sia-sialah kita datang ke dunia ini. pekerjaan mulia hanya bermakna bila dilakukan untuk umat manusia. Demikianlah yang telah dilakukan oleh para Buddha. Bagaimana mereka mencapai kebuddhaan, seperti itu juga yang kita lakukan.
MENJUNJUNG THIEN MING
"Masih banyak umat yang membina ketuhanan hanya mengandalkan amal luar saja dan sekarang sudah mulai banyak juga yang memupuk amal dalam. Namun membina ketuhanan bukan hanya masalah membina amal luar dan dalam saja. Tetapi ada poin penting yang tidak boleh kita lupakan, yang menjadi fondasi kita dalam membina kesempatannya untuk mencapai kesempurnaan Buddha Bodhisatva pun menjadi sirna. Mengapa begitu pentingnya menjunjung thien ming dalam proses pembinaan kita? Karena menjunjung thien ming berarti menjunjung LAU MU. Jika kita bertugas dan berkarya, tidak lagi menjunjung thien ming, itu berarti kita tidak lagi menjunjung LAU MU, tidak lagi menganggap keberadaan LAU MU. Menganggap semua itu adalah karya dan tugas yang dihasilkan dari kepintaran diri sendiri. Menjadi sombong dan angkuh. Jika sudah demikian, bagaimana bisa mencapai kesempurnaan Buddha?.
LANTUNAN TEMBANG NURANI
Sebelum memasuki sesi ceramah berikutnya, sekelompok pemuda dan pemudi Surabaya yang tergabung dalam Paduan Suara Graha Maitreya melantunkan beberapa tembang nurani. lagu pertama yaitu "Ujian kebuddhaan" dan dilanjutkan dengan lagu "Cou sing kuang ming". Dengan gaya dan suara yang apik, tembang nurani yang dibawakan terasa hidup dan membangkitkan semangat. Tentu ini tak lepas dari semangat latihan yang terus menerus dan penghayatan yang mendalam akan bait demi bait lagu yang dilantunkan.
MAITREYA DAN MISI KEDATANGAN
Sejak memohon ketuhanan, kita bukan lagi perahu kecil di samudera yang besar. Saat menghadapi ombak dan badai, kita tidak lagi sendiri, tetapiu di bawah gandengan Buddha Maitreya. Sesi dharma III disampaikan oleh pandita Halim Zen Bodhi. Pada kesempatan ini Pandita menyampaikan tentang keimanan kita kepada Sang Juru selamatkita yaitu Buddha Maitreya.
Setelah sekian tahun membina ketuhanan, seberapa jatuh kita mengenal siapa Buddha Maitreya dan seberapa besar iman kita kepada Maitreya? Masih banyak umat ketuhanan yan sudah bertahun-tahun membina ketuhanan, tapi imannya kepada Buddha Maitreya sangat dangkal. Bahkan tidak ada sedikitpun Buddha Maitreya dalam hatinya. Padahal Maitreya datang keddunia ini dengan misinya yang sangat besar, mengubah dunia yang penuh dengan kemelut ini menjadi sebuah dunia sukawati mengubah dunia yang penuh dengan bangsa-bangsa yang saling berperang dan berseteru ini menjadi sebuah dunia yang penuh dengan kerukunan, perdamaian, kebersamaan dan kebersatuan.
Siapa di dunia ini yang tidak membutuhkan kasih dalam hidupnya? Semua membutuhkan kasih. Begitu anda membutuhkan kasih, anda adalah orang yang dicari Buddha Maitreya, anda adalah orang yang secara tidak langsung mendambakan Maitreya. Karena Maitreya adalah lambing kasih dan sukacita semesta. Beliau adalah satu-satunya Buddha yang mempunyai sumpah untuk membawa kasih, pengampunan, pemahaman, simpatik dan sukacita semesta. Kalau kita bicara tentang kasih dan sukacita semesta berarti kita berbicara tentang urusan manusia semua bangsa. Kalau bicara tentang kasih dan sukacita semesta, maka tidak lepas dari Maitreya karena Dialah sumbernya. Dialah sumber dari segala pengharpan.
Karena itu jika ada beban di dalam hati, serahkan kepada Buddha Maitreya. Buddha Maitreya akan masuk ke dalam hatimu dan mengangkat semua beban yang ada dalam hatimu. Bagi Buddha Maitreya itu ringan sekali. Dunia yang penuh dengan bencana, sakit, dan wabah ini saja mampu Buddha Maitreya obati. Apalagi segala persoalan yang kita hadapi yang bagaikan sebuah titik kecil dari dunia ini, mana mungkin Buddha Maitreya tidak mampu mengatasinya. Dengan kuasa dharmanya yang tiada batas, dengan kekuatan jiwa yang tiada batas, Buddha Maitreya punya sejuta cara untuk mengatasi semua permasalahan yang kamu hadapi. Asal kamu percaya dan menerima uluran tangan Buddha Maitreya.
Sejak kita memohon ketuhanan, kita bukan lagi perahu kecil di samudera yang besar. Di saat menghadapi ombak dan badai, kamu tidak lagi menghadapinya sendiri tetapi dibawah gandengan Buddha Maitreya. Di saat sedang jatuh, dalam keputusaan, sedih, dalam ujian dan cobaan, bersujudlah, kepada Buddha Maitreya, sebutlah nama Maitreya, bayangilah wajah Maitreya. Di saat demikian anda akan dapat merasakan kekuatan Buddha Maitreya datang dan bekerja dalam hidup anda. Dia akan datang untuk membebaskan anda dari penderitaan.
Kedatangan Buddha Maitreya juga membawa pengharapan kepada umat manusia. Dalam pandangan Buddha Maitreya semua orang mempunyai masa depan. Semua orang bagaimanapun berat dosanya, asal mau bertobat dan memperbaiki diri maka dia punya kesempatan untuk diselamatkan mendapat kesempatan untuk membina dan melaksanakan ketuhanan, dan mempunyai kesempatan untuk mencapai kedudukan Buddha Bodhisatva. Siapapun kita yang paling bodoh sekalipun, yang tak punya kebijaksanaan apapun yang miskin melarat, yang dihina masyarakat luas dalam pandangan Buddha Maitreya anda pasti bisa membina. Jadi kalau Buddha Maitreya sudah mengatakan aku bisa, berarti aku pasti bisa. Karena Buddha Maitreya lebih memahami aku daripada aku sendiri. Jadi kalau anda datang ke Vihara dan anda menatap senyum kasih Maitreya, maka pahamilah bahwa saat itu Buddha Maitreya mengatakan kepada anda bahwa anda bisa siu tao, anda bisa berhasil dalam siu tao. Bahkan bisa menjadi Buddha Bodhisatva.
Buddha Maitreya adalah yang paling simpatik, paling memahami kita paling mengasihi kita, paling tahu kelemahan kita, paling tahu apa yang tidak bisa kita lakukan, dia adalah bagian dari hidup kita. Secara keseluruhan bimbingan nurani ini berakhir hingga pukul 14.00 dan diakhiri dengan sujud bersama menyatakan terima kasih kehadapan LAU MU dan para Buddha apa yang disampaikan pada hari itu tentu membawa makna yang besar dalam perjalanan siu tao kita. Teruslah maju, tingkatkan semangat membina dan dekatkan diri kepada Buddha Maitreya. Pasti jalan pembinaan yang kita lalui menjadi lebih mudah dan membahagiakan.
|