WARTA WALUBI

Tahun 2012
Tahun 2011
Tahun 2010
Tahun 2009
Tahun 2008
Tahun 2007

Tahun 2006
Tahun 2005
Tahun 2004
Tahun 2003
Tahun 2002


WARTA MAJELIS
Tahun 2003
Tahun 2002




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  PERJUANGAN SEORANG UMAT DALAM MEMBIARA

DPP MAPANBUMI (Dewan Pengurus Pusat Majelis Pandita Buddha Maitreya) mempunyai 600 tempat ibadah dan pusdiklat yang tersebar di 24 Propinsi di Indonesia. Tempat Ibadah dan Pusdiklat Majelis Maitreya ini merupakan rekor, kategori terbanyak dan terdata di DPP Walubi, bila dibanding dengan Majelis-majelis lainnya. DPP Mapanbumi mempunyai salah seorang Tokoh pengkotbah sangat dikagumi di mancanegara, yakni Halim Zen Bodhi. Berkat keuletan, pengembaraan dan pengabdiannya selama 20 tahun, Ia berhasil apa yang telah dicita-citakan. Dijumpai saat di Pusdiklat Maitreyawira Jakarta, berikut petikannya.

Nama : Halim Zen Bodhi
Tempat/Tgl.Lahir : Riau, 3 Juli 1962
Pendidikan Formal : Bachelor Of Buddhology th.1984, Medan
Bachelor Of English & Literature th.1987,UISU
Pendidikan Religi : Sekolah Kependetaan di Providence Maitreya
Buddha Missionary Institute, Taiwan th.1987
Jabatan :
  1. Ketua Bidang Doctrine Dharma dan Sutra
  2. Ketua Bidang Kaderisasi, Seni dan Budaya DPP MAPANBUMI
  3. Coord. Database Providence Maitreya Buddha Missionary Institute Taiwan.
  4. Dosen Providence Maitreya Buddha Missionary Institute,Taiwan
  5. Ketua Umum Keluarga Vegetarian Maitreya Indonesia (KVMI)
  6. Pemred Majalah Nasional Mapanbumi "MAITREYAWIRA"
  7. Pembina English Magazine "GOLDEN VOICE", Taiwan
  8. Pengkotbah Mapanbumi Tingkat Internasional diantaranya : Jepang, Korea, Singapore, Hongkong, Malaysia, Thailand, Philipine dan Taiwan ( Bahasa Inggris, Mandarin & Indonesia)
    - Pendeta Mapanbumi sejak tahun 1987
    - Hidup Membiara sejak tahun 1980 ( 20 th.)
    - Bervegetarian sejak tahun 1977 ( 23 tahun )

Apa sih keinginan bapak sehingga cenderung kegiatannya dihabiskan di Vihara ?
Ijnkan saya menjawab pertanyaan di atas dengan pertanyaan sbb: Apakah yang saya cari dalam kehidupan membiara yang saya jalani ?

Yang saya cari dua hal. Yang pertama adalah Keinsafan diri. Yang kedua, Pengabdian.
Keinsafan Diri yang dimaksud adalah perjuangan menyadari Buddhata dalam diri. Buddhata atau sifat Buddha, dalam Buddhisme Maitreya, juga disebut dengan kata sederhana "Nurani". Tujuan hidup membiara adalah menginsafi keluhuran dan kesucian Nurani ini. Hati Nurani adalah nama lain untuk Cinta-kasih dan kebijaksanaan. Tanpa perjuangan yang disiplin dan konsisten, seseorang tidak akan pernah menyadari dan mengalami sifat-sifat cinta-kasih dan kebijaksanaan dalam dirinya. Keinsafan Nurani adalah perjuangan pembebasan diri dari kemelekatan kebergantungan diri akan nafsu dan keinginan duniawi yang egois. Inilah cita-cita saya menjadi seorang viharawan Maitreyani.

Yang kedua adalah Pengabdian. Pengabdian adalah perjuangan melayani umat manusia. Memberikan bimbingan dan pembinaan untuk bersama-sama mencapai keinsafan Nurani. Melayani adalah memberi semangat dan kekuatan dalam menghadapi permasalahan hidup. Melayani adalah menghibur yang sedih, menguatkan yang lemah, meneguhkan yang goyah, memberikan keyakinan diri pada yang putus asa, harapan bagi yang kecewa.

Pengabdian juga berarti perjuangan mengimpaskan karma dan dosa. Pengabdian adalah perjuangan membalas Rahmat Tuhan dan budi kebajikan Buddha. Pengabdian memiliki makna yang luas.

Dalam Buddhisme Maitreya, Kedua hal di atas adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisah. Keduanya saling mendukung. Keinsafan diri tanpa penagdian, bukanlah keinsafan diri. Sebaliknya pengabdian tanpa keinsafan diri bukanlah pengabdian. Keduanya adalah dua rel kereta api yang terbentang secara paralel. Inilah cita-cita luhur semua Viharawan/wati Maitreyani, yang juga menjadi cita-cita saya.

Dengar-dengar bapak Pandita tidak ingin berkeluarga, kenapa ?
Sila seorang Viharawan/wati Maitreyani ada tiga.
Hidup suci (tidak berkeluarga), Hidup miskin (tidak punya usaha),
Hidup Taat pada Firman dan peraturan Wadah Ketuhanan.
Tidak berkeluarga adalah bagian dari sila yang pertama diatas. Alasan pertama saya memilih tidak berkeluarga karena menurut saya itu jalan termudah dan terbaik bagi saya untuk mencapai kedua hal. (keinsafan diri dan pengabdian) tersebut di atas. Kedua, bagaimana saya dapat memberikan waktu yang lebih bayak dalam pengabdian pada umat, bila saya harus membagikan waktu yang banyak pula pada kelarga saya. Buat saya ini adalah keputusan yang terbaik namun tentu saja tidak harus demikian bagi orang lain. Saya melihat banyak juga umat perumah-tangga yang amat mengagumkan dalam membina diri dan mengabdi.

Apakah Buddhisme Maitreya tidak memperbolehkan orang menikah ?
Tidak. Tidak sama sekali. Membiara atau berumah-tangga adalah sepenuhnya dikembalikan pada diri sendiri. Tidak ada peraturan yang mengharuskan begini atau begitu. Dalam Buddhisme Maitreya Anda dapat menemukan seorang perumah-tangga yang sama aktifnya dengan seorang viharawan. Bahkan ada dari mereka yang malah mengemban tanggung jawab yang teramat berat. Dan lebih hebat lagi adalah dalam Buddhisme Maitreya, hubungan dan ikatan persaudaraan antara kaum Viharawan dan perumah-tangga, begitu dekat dan penuh kebersamaan. Sama-sama aktif, tidak ada kepincangn, yang satu sangat aktif sementara yang lain pasif melulu. Tidak ada. Kami dapat saling menghormati, mengasihi dan saling berbagi tugas sesuai dengan status masing-masing. Ada hal tertentu harus ditangani oleh seorang Viharawan, namun ada hal lain yang lebih tepat ditangani oleh umat perumah-tangga. Bukankah ini sebuah fenomena yang amat menakjubkan.

Dalam Buddhisme Maitreya kita memiliki Pandita-pandita. Ada pandita yang hidup membiara namun ada juga yang berumah-tangga. Dalam pandangan umat, mereka sama mulianya. Buddhisme Maitreya tidak mengajarkan bahwa seorang umat perumah-tangga itu lebih awam atau lebih rendah, sementara seorang viharawan lebih tinggi. Namun ini bukan berarti dalam Buddhisme Maitreya, seorang Viharawan tidak dihormati seperti dalam agama lainnya. Justru sebaliknya, Buddhisme Maitreya sangat menghormati kaum Viharawannya. Ini bukan hanya dalam doktrin, tetapi sudah mengakar ke dalam hati semua umat perumah tangga. Inilah sesuatu yang teramat unik yang membedakan Buddhisme Maitreya dengan Buddhisme lainnya.

Mudahkah waktu itu memohon ijin kepada orang tua, sehingga Bapak lepas dari keluarga dan tinggal di Vihara ?
Sangat tidak mudah. Saya pikir semua orang tua akan bersifat sama. Ayahanda sang Buddha juga demikian. Jadi hal ini sudah menjadi batu ujian pertama yang harus dilalui oleh semua orang yang ingin hidup membiara, kapan dan dimanapun juga. Buddhisme Maitreya mengajarkan kita memandang kesulitan ini sebagai sebuah kewajaran dan juga keharusan. Bagaimana kita dapat menghadapi dan melayani umat menusia dengan sejuta permasalahan jika menghadapi orang tua sendiri saja kita tidak mampu. Menghadapi orang tua itulah lesson number one. Disitulah kita harus bergumul dengan diri kita. Dan disitu pula kita menjadi bijaksana, lalu kita akan menemukan way outnya. Kunci solusi dari semua persoalan bukan di persoalkan itu, tetapi dalam diri kita.

Bapak Pandita dari berapa saudara dan anak keberapa ?
Kami bersaudara lima, empat wanita satu pria dan saya anak keempat.

Sejak umur berapa mempelajari agama Buddha ?
Sejak usia 12 tahun saya mulai mendalami Buddhisme Mahayana dan Theravada. Lalu Buddhisme Maitreya pada usia 14 tahun dan sebelumnya saya berasal dari keluarga Kristen.

Dapatkah dijelaskan perjalanan Bapak Pandita dari awal memperoleh agama ?
Tidak ada yang istimewa. Saya dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga Kristen. Saya sudah mengenal agama (baca: Kristen) dari Ayahanda saya. Setelah meninggalnya orang yang paling saya cintai itu, saya mulai bertanya-tanya tentang makna hidup, terutama tentang jalan pembebasan diri dari samsara. Saya pelajari dan hayati kitab-kitab Mahayana kemudian Theravada. Tahun 1976 saya memohon Jalan Ketuhanan Buddhisme Maitreya. Kemudian saya diperkenalkan kakak saya yang tertua untuk pergi ke Vihara Maitreya. Tak ada sesuatu yang istimewa dalam proses mencari kebenaran sampai saya menemukan Buddhisme Maitreya.

Berapa banyak Vihara Maitreya yang Bapak Pandita asuh pembinaannya ?
Vihara yang ada dibawah pembinaan saya secara langsung tidak banyak. Hanya tiga, yaitu Vihara Semesta Maitreya di Semarang (Tanah Mas), vihara Bodhicitta Maitreya di Yogyakarta dan Pusiklat Maitreyawira di Jakarta. Yang terakhir ini kami bina bersama-sama dengan beberapa Pandita lainnya. Sedangkan Vihara yang tidak menjadi tanggung jawab langsung kami itu banyak, ya,vihara seluruh Indonesia. Hampir setiap bulan saya mempunyai tugas khotbah ke daerah-daerah.

Selama situasi di tanah air, baik sosial, politik dan ekonomi kian memburuk sedangkan peran agama sangat penting, dan apa yang diperbuat umat Maitreya dalam menentukan sikap, minta dijelaskan ?
Rangkaian persoalan demi persoalan yang tidak ada habisnya itulah hidup! Buddhisme Maitreya mengajarkan umatnya untuk menyadari realita ini. Sampai kapanpun realita hidup akan tetap demikian. Buddhisme Maitreya mengajarkan umatnya bahwa penyelesaian segala persolan ada dalam diri kita. Mengeluh atau lari dari kenyataan, bukanlah jalan solusi. Daripada bingung mencari-cari jawaban kesana kemari, lebih baik mulai dari diri sendiri. Hadapilah hidup ini dengan senyuman kasih seperti Buddha Maitreya. Empat prinsip hidup sukses dan bahagia Buddha Maitreya adalah :

  1. Bersyukur dalan segala hal.
  2. Menghormati semua pihak
  3. Mengasihi semua orang
  4. Bersukacita dalam segala kejadian.

Yang artinya pendanglah hidup ini dengan kebijaksanaan dan ketenangan. Hadapilah semua persoalan dengan cinta kasih, terimalah semua kesulitan dengan rasa syukur, hargailah semua perbedaan. Tersenyumlah dalam penderitaan. Senyuman akan melahirkan sukacita. Sukacita ada dalam hati bukan diluar sana. Kapan dan dimanapun, seorang umat Maitreya harus tersenyum …………….(toto)

 

 

Gambar Buddha Maitreya :

  1. Dipukul tak melawan, dimarahi tak membalas. Rendah hati, rugi dan nista
  2. Kecermelangan hati nurani adalah yang terbaik. Kabar suka cita Maitreya
  3. Hati suka cita Buddha Maitreya, Hati kasih Buddha Maitreya dunia damai sentosa.
  4. Bercinta kasih terhadap segalanya dan segalanya di kasihi
  5. Masuk dan Keluar dalam lautan kelahiran dan kematian untuk menyelamatkan umat manusia
  6. Sama artinya dengan yang diatas
  7. Berwajah penuh Cinta kasih. Segala sesuatu dilakukan tanpa suara

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.