WARTA WALUBI

Tahun 2012
Tahun 2011
Tahun 2010
Tahun 2009
Tahun 2008
Tahun 2007

Tahun 2006
Tahun 2005
Tahun 2004
Tahun 2003
Tahun 2002


WARTA MAJELIS
Tahun 2003
Tahun 2002




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  CAP GO MEH MERIAH
Click gambar untuk memperbesar / Click on the picture to enlarge

Tahun 2003 merupakan tahun kegembiraan buat umat keturunan Tionghoa, dapat merayakan Imlek secara terbuka, tanpa harus takut gentar setelah pasca kerusuhan Mei '98 yang membuat panik bangsa Indonesia khususnya terhadap warga keturunan.

Ribuan Warga Jakarta Barat tumpah ruah menyelenggarakan pesta Cap Go Meh tepatnya 16 Pebruari 2003 dengan pawai budaya berkeliling, dimulai dari Vihara Toa Se Bio-Petak sembilan memutar menuju Kota tua, Taman Museum Fatahilah, Glodok, Hayam Wuruk, Olimo dan Gajah Mada. Dimeriahkan oleh pasukan merah putih, bendera Buddhis, lampion, drumband, delman, kesenian betawi, Ondel-ondel, iring-iringan pasangan muda berpakaian budaya daerah etnis Cina dan Arab, tarian Naga, barongsay, tari egrang serta upacara gotong toapekong, reog Ponorogo , tari sisingaan. Tujuan kegiatan ini terselenggara, untuk mengucap syukur kepada para pemimpin bangsa telah mendukung hari Imlek menjadi tanggal merah yang resmi diliburkan oleh pemerintah.

Imlek 2554 yang jatuh pada tanggal 1 Pebruari 2003, dan secara resmi, bahwa Imlek telah dijadikan sebagai hari libur nasional, kemudian kedudukan semua etnis sekarang telah sejajar, sudah tak ada lagi diskriminasi, disampaikan Presiden Megawati, di PRJ Jakarta 17 Desember 2002 lalu.

Dalam amanat Presiden Megawati, meminta agar seluruh komponen masyarakat menerima dan menghormati perbedaan yang ada dalam bangsa Indonesia, serta meminta agar masyarakat menghilangkan perasaan bahwa asal usul, ras dan suku bangsa Indonesia lebih terhormat dari yang lain.

Kutipan amanat Presiden" Demi kebersamaan kita sebagai rakyat Indonesia, maka dengan ini saya nyatakan Hari raya imlek sebagai hari libur Nasional," kata Presiden

Bahkan sebelumnya Amin Rais (Ketua MPR-RI) pun disela-sela Deklarasi Sahid tahun 2000 lalu. Berbicara tegas dalam sambutannya, bahwa tidak ada satu orangpun atau satu organisasi manapun yang dapat menghalangi keinginan masyarakat Tionghoa agar Imlek dijadikan sebagai hari libur Nasional, demikian pernyataan Amin Rais yang disambut hangat dengan tepuk tangan meriah dari seluruh undangan yang hadir.

Drs.Rusli SH.MM (Mewakili Majelis Rohaniawan Tridharma Indonesia/Wasekjen DPP Walubi) dijumpai disela-sela acara Cap Go Meh, mengatakan "kegiatan ini cukup bagus dan indah. Bahkan inilah yang dapat memulihkan nama bangsa Indonesia kearah kesatuan dan persatuan setelah pasca bom Bali. Pemerintah seharusnya cepat tanggap dari hasil galian warga bangsa yang senantiasa menjaga kerukunan melalui pawai budaya ini". Selain itu Rusli menghimbau pada Pemerintah jangan tertidur pulas, apa yang telah direkatkan semangat warga sesama anak bangsa dalam berbagai aktivitas, dibungkus dalam satu paket, lalu dikirim melalui Konjen-konjen yang berada di Indonesia, agar negara lain menilai negara kita telah aman.

Yayasan Lembaga Kebudayaan Tionghoa (YLKTI) telah memegang SK. Menteri Agama No.13 tahun 2001 dilanjutkan dengan surat penetapan Presiden, yang tadinya Imlek dijadikan sebagai hari libur fakultatif, direvisi kemudian ditegaskan Presiden Megawati Sukarnoputri menjadikan nya sebagai hari libur nasional.

Ketua YLKTI pun mengucapkan terima kasih pada ormas dan LSM, Fraksi-fraksi di DPR-RI, Walubi, Komisi VII DPR-RI, Departemen Agama, PSMTI, PITI, INTI, Forum Persaudaraan Antara Etnis, para tokoh masyarakat dan tokoh agama di Indonesia baik warga Tionghoa maupun non Tionghoa serta semua memberi dukungan moril maupun material.




 

 

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.