|
Perjalanan yang melelahkan selama 15 jam ditambah perbedaan waktu selama 6 jam menuju Vatikan City. Ini tidak membuat jenuh delegasi Indonesia yang terdiri dari 7 (tujuh) anggota: Bhiksu Virya Mitra Sthavira (WALUBI), I Nyoman Suwanda SH.(PHDI), Cardinal Julius Darmaatmaja (KWI), Prof.DR.Nurcholish Madjid (ICMI), KH.Hasyim Muzadi (PBNU), DR.Syafii Maarif (Muhammadiyah), Rev Christian Nathan Setiabudi (PGI).

|
Kedua negara yang mengalami musim semi/dingin, suhu temperatur udara menunjukkan tiga derajat dibawah nol, belum lagi desir angin sangat keras menghempas kulit tubuh para pemuka agama, terasa sekujur tubuh terbalut es yang tebal. Bhiksu yang berpakaian selembar jubah, merasa beruntung walau pemuka agama yang lain membungkus tubuhnya berlapis-lapis dengan pakaian mantel, namun tetap menggigil dingin, tetapi Bhiksu ini tak gentar melawan udara dingin, karena sudah terbiasa pada tempat tinggalnya di Australia, dan dirinya sering bermeditasi mengenai lima elemen/unsur kehidupan serta melatih pernafasan.
Keberadan tokoh-tokoh puncak lintas agama yang berkunjung di kedua pemerintahan, Vatican dan Brussel disambut positif, dinilai sangat baik oleh kedua duta besar. Dari perjuangan selama 3 (tiga) hari, para pemuka agama ini tidak mengagresi negara lain yang bertikai, melainkan hanya penyampaian pesan damai, sebagai gerakan moral nasional bagaimana mengupayakan agar tidak terjadi perang . Dengan perang akan membawa dampak negatif untuk peradaban manusia, selain itu merusak tatanan kehidupan yang telah terjalin harmonis, ungkap Bhiksu Virya Mitra Sthavira.
Dewan Uni Eropa dalam pertemuannya juga mengatakan telah mendeklarasikan untuk menentang perang. Mencegah Amerika Serikat dalam agresinya terhadap Irak. Upaya delegasi Indonesia dari tim puncak lintas agama pun mendapat dukungan Paus Yohanes Paulus II (Vatican). Sebagai pemimpin agama berjanji untuk mendamaikan. Kami akan bekerja bersama-sama dengan agama-agama di Indonesia, karena perang selalu merugikan untuk semua makhluk hidup kata Paus Yohanes Paulus II , dalam kalimat yang terbata-bata. Menurut orang nomor satu di Vatikan, kunjungan tim puncak lintas agama Indonesia dinilainya sejalan dengan prinsip-prinsip agama. Agama-agama besar di dunia menyerukan perdamaian, karena dengan perdamaian dapat membangun dunia secara makmur dan sejahtera.
Bhiksu Virya Mitra Sthavira membawa aspirasi umat Buddha tentang perdamaian di tingkat Internasional, ini merupakan suatu penghormatan yang luar biasa diberikan Menteri Luar Negri RI,DR.N. Hasan Wirayuda memberi kesempatan dan kepercayaan kepada Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) untuk mewakili agama Buddha. Berbicara di Vatican dan Brussel pada forum Internasional, dalam membawa misi damai dan anti kekerasan. Warga Amerika Serikat pun berbicara pada forum, tidak setuju adanya peperangan. Bila kedua negara bersitegang seluruh negeri turut terguncang. Bhiksu yang mewakili umat Buddha pada rapat komisi Uni Eropa di Brusel dan di Vatikan bersama duta besar Indonesia yang berada di Vatikan, memberikan solusi yang pernah dilakukan Walubi di Indonesia, seperti gerakan moral, doa, upacara dan kegiatan bakti sosial.
Para pemuka dari delegasi Indonesia yang berlatar belakang berlainan agama, berbeda etnis, asal usul, suku dan budaya, tetapi satu misi, satu visi dalam kebersamaan. Sangat optimis, senantiasa rukun, telah dibuktikan dalam kunjungan misi cinta damai mewakili nama bangsa ke jenjang Internasional. Mereka menjelaskan, agama bukan untuk kebencian, melainkan untuk perdamaian, persaudaraan antar sesama warga bangsa dan kesejahteraan bersama, tanpa membedakan latar belakang agama. Sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa masing-masing bermartabat tinggi, pantas dihormati dan pantas diperlakukan sebagai saudara
Sebagai tim delegasi ini menentang semua tindakan yang bertentangan dengan moral dan akhlak mulia, entah itu kekerasan, permusuhan, sikap diskriminasi diantara sesama warga, ketidakadilan, ketidak jujuran maupun korupsi dll. kecuali menyampaikan ajakan dan seruan untuk hidup bernegara yang baik dan turut mengusahakan perdamaian.
Sementara seusai berbicara, Bhiksu Virya Mitra Sthavira dari perwakilan Walubi mengungkapkan tanda kasih umat Buddha kepada Paus Yohanes Paulus II sebagai penghargaan berupa cindera mata maket Borobudur Emas.
Dari tujuan baik Bhiksu, sebelumnya sempat terganggu oleh situasi dan kondisi di negara Eropa, bahwa maket borobudur emas yang sengaja dibawa dari Jakarta tersebut, sampai di Vatikan ternyata mendapat screning security selama satu hari. Benda tersebut masuk di ruang aman untuk pemeriksaan melalui komputer detektor dilengkapi peralatan teknologi canggih dan ini dilakukan sama di Brussel. Kesulitan lain Bhiksu Virya Mitra sempat juga memberi keterangan hitam diatas putih mengenai nama Bhiksu tidak sesuai di paspor.
Himbauan Bhiksu Virya Mitra Sthavira kepada umat Buddha di Indonesia, Kita harus memberikan perhatian, cinta kasih dan melaksanakan upaya-upaya lain dalam mengabdi kepada masyarakat. Contohnya memperjuangkan misi kemanusiaan, yaitu menolong korban bencana alam, mengirim dana pakaian, obat-obatan dan makanan untuk di para korban atau memberikan sumbangan kepada negara yang sedang dilanda krisis. Seperti ini menunjukkan pada dunia, bahwa umat Buddha peduli dengan agama lain yang sedang dilanda perang, ini bukan berarti kita harus ada uang, tetapi kita harus mempunyai inisiatif dalam membantu orang lain.
(toto-walubi)
Kutipan surat dari Paus Yohanes Paulus II
REMARK BY HIS HOLINES POPE JOHN PAUL II BEFORE THE INDONSIAN INTERRELIGIOUS DELEGATION
VATICAN 20 FEBRUARY 2003
Your Eminence,
Distinguished Friends,
With great pleasure I greet you, the members of the Inter-religious Delegation from Indonesia
Your presence here brings back vivid memories of my pastorial visit to Indonesia in 1989, an occasion filled with mutual affection and appreciation as I was able to experience personally the variety of your rich cultural and religious heritage.
At this time of greet tension for the world, yo have come to Rome, and I a grateful to have this occasion to speak to you. With the real possibility of war looming on the horizon, we must not permit politcs to become a source of further division among the worlds religious. In fact, neither the threat of war nor war it self should be allowed to alienate Christians, Muslims, Buddhists, Hindus and members of other religions. As religious leaders committed to peace, we should work together with our own people, with those of other religious beliefs and with all men and women of good will to ensure understanding, cooperation and solidarity. Earlier this year, I said : War is always a defeat for humanity (address to the Diplomatic Corp accredited to the Holy See, 13 January 2003,4); it is also a tragedy for religion.
My fervent prayer is that our efforts to promote mutual understanding and trust will bear abundant fruit and help the world to avoid conflict. For it is through commitment and continuing cooperation that cultures and religions will be able to break through the barriers which divide them, to understand one another and to pardon those who have done them wrong (Pacem in Terris,V). This is the way that leads to true peace on earth. Together, let us work and pay for this peace.
Upon you and the beloved people of Indonesia I invoke abundant divine blessings
JOHN PAUL II
|