WARTA WALUBI

Tahun 2012
Tahun 2011
Tahun 2010
Tahun 2009
Tahun 2008
Tahun 2007

Tahun 2006
Tahun 2005
Tahun 2004
Tahun 2003
Tahun 2002


WARTA MAJELIS
Tahun 2003
Tahun 2002




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  FESTIVAL SENI DAN BACA KITAB SUCI TRIPITAKA/TIPITAKA (F S B K S T)
TINGKAT NASIONAL KE 5 TAHUN 2003


Logo Festival

I.

PENDAHULUAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat pada dua dasawarsa terakhir mengakibatkan terjadinya perubahan yang menggelobal di berbagai belahan dunia dan menyentuh pada berbagai sektor kemasyarakatan, tidak terkecuali sektor agama. Perubahan-perubahan itu berimplikasi langsung terhadap perilaku masyarakat. Di Indonesia, perubahan itu dapat disimak pada banyak peristiwa yang terjadi pada kurun waktu lima tahun terakhir, yang sebagian diantaranya bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan.

Pembangunan nasional dilaksanakan dalam ranka membangun manusia Indonesia seutuhnya. Hal ini berarti bahwa Pembangunan nasional tidak hanya mementingkan kemajuan lahiriah yang bertumpu pada kemajuan ilmu dan teknologi, tetapi juga pembangunan rohaniah keagamaan yang bertumpu pada pengetahuan agama; sehingga kehidupan manusia dan masyarakat Indonesia menjadi lebih mantap, selaras, serasi dan seimbang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Nilai-nilai moral Pancasila menuntut tumbuhnya sikap dan perbuatan yang sesuai dengan norma-norma yang diajarkan agama-agama yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian nilai-nilai agama memperoleh tempat dalam interpretasi dan implementasi Pancasila sebagai dasar, falsafah dan ideologi negara, khususnya dalam kaitannya dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Sejalan dengan perubahan sosial kemasyarakatan dan pengimplementasian nilai-nilai pancasila bertujuan untuk meningkatkan kadar keimanan dan ketaqwaan masyarakat terhadap Tuhan Yang Maha Esa, meningkatkan dan mengembangkan tata nilai kehidupan beragama yang mendukung etos pembangunan, serta kesemarakan kehidupan keagamaan diupayakan agar senantiasa disertai dengan pendalaman, penghayatan dan penerapan ajaran agama untuk meningkatkan daya tahan terhadap berbagai batu ujian dan dampak negatif modernisasi yang tengah berlangsung.

Demikian pula terhadap wawasan dan pengertian masyarakat terhadap ajaran agama semakin luas dan berkembang sehingga agama dapat lebih mengembangkan peranannya sebagai motvator dan dinamisator kemajuan. Untuk itu pembinaan terhadap umat beragama perlu terus dilaksanakan, mengingat akan peran agama sebagai landasan etik, moral dan spiritual yang kokoh bagi pembangunan nasional.

Oleh karena itu perlu dirumuskan upaya untuk meningkatkan peranan pemuka agama dan organisasi keagamaan sebagai motivator dan dinamisator pembangunan, dalam rangka menghadapi peradaban baru era globalisasi yang materialistik dan sekuler dari abad XXI.

Agama Buddha sebagai agama besar di dunia hendaknya mampu untuk menyumbangkan visi spiritual, paradigma etik moral serta kekuatan profetik yang dapat mendukung perkembangan peradaban.

Menyongsong era globalisasi dewasa ini, agaknya tantangan modernisasi yang disarati dengan perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan tehnologi menuntut kepada umat beragama untuk melakukan reaktualisasi paham-paham keagamaan karena dengan demikian maka agama akan dapat memberikan kontribusinya terhadap pengembangan peradaban dan kemanusiaan.

Dalam kaitan tersebut, upaya untuk memberikan wahana terhadap pemahaman “dhamma/dharma” ajaran Sang Buddha bagi umat beragama Buddha perlu diberikan porsi yang cukup memadai, sebab dalam mengamalkan ajaran Sang Buddha, untuk belajar bagaimana mengatasi ketidaktahuan dan penderitaan, serta untuk menemukan jalan yang benar guna meraih kebijaksanaan, kedamaian dan kebahagiaan masih belum sepenuhnya dapat dilakukan oleh semua umat Buddha. “dhamma/dharma” ajaran Sang Buddha masih merupakan “Misteri” bagi banyak orang, karena umumnya mereka belum mengerti bagaimana mempelajari dan menghayati Dhamma/dharma itu sendiri.

Dhamma/dharma dapat dipelajari dalam tiga tahap, yaitu:

  1. Tahap Pariyatta (tahap mempelajari dhamma/dharma secara teoritis agar dapat memiliki pengertian, pemahaman untuk selanjutnya penghayatan)

  2. Tahap Patipati (tahap memperaktekkan, mengamalkan dhamma/dharma setelah mengerti dan memahami dhamma/dharma secara benar) dan

  3. Tahap Pativedha (tahap memetik hasil dari kebenaran dhamma).

Ketiga tahapan mempelajari dhamma/dharma tersebut hendaknya dilakukan secara berurutan karena kebenaran dhamma/dharma itu bukanlah terdapat pada ucapan kata, bukan pada wujud aksara, namun terdapat pada perbuatan dan pengamalan yang nyata dalam kehidupan.

Kitab Suci Dhammapada/Dharmapada sebagai bagian dari Tipitaka/ Tripitaka lebih banyak dikenal oleh masyarakat Buddhis di seluruh dunia. Mengingat bahwa Kitab Suci Dhammapada/ Dharmapada ini memberikan tutunan dhamma/dharma bagi semua umat (brahmacariya dan perumahtangga), memiliki nilai-nilai universal yang disajikan dalam kalimat-kalimat pendek dan mudah dimengerti, berbentuk syair (gatha) yang mengandung nilai seni dan dapat dijelaskan secara konseptual (dhammadutthana) maupun faktual (puggaladitthana).

Atas dasar pertimbangan tersebut di atas maka penyelenggaraan “Festival Seni dan Baca Kitab Suci Tripitaka/Tipitaka” dapat dijadikan sarana untuk mengerti dan memahami serta menghayati nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam Kitab Suci Tipitaka/ Tripitaka.

II.

NAMA KEGIATAN

Kegiatan ini bernama “FESTIVAL SENI DAN BACA KITAB SUCI TRIPITAKA/TIPITAKA TINGKAT NASIONAL V TAHUN 2003”.

III.

TEMA

Tema FSBKST Tingkat Nasional V Tahun 2003 adalah: “DENGAN JIWA TRIPITAKA/TIPITAKA KITA WUJUDKAN KERUKUNAN DAN PERSATUAN UNTUK MEMBANGUN SUMBERDAYA UMAT BUDDHA

IV.

TUJUAN

Tujuan Festival Seni dan Baca Kitab Suci Tripitaka/Tipitaka Tingkat Nasional V Tahun 2003 adalah:

  1. Memantapkan kerukunan intern umat Buddha yang serasi dan harmonis agar dapat lebih berperan aktif dalam pembangunan nasional.
  2. Mempersatukan dan menyamakan persepsi tentang Seni dan Baca Kitab Suci Tripitaka/Tipitaka.
  3. Meningkatkan wawasan tenaga pembina Festival Seni dan Baca Kitab Suci Tripitaka/Tipitaka.
  4. Meningkatkan kajian penghayatan dan pengamalan isi Kitab Suci Tripitaka/Tipitaka.
  5. Memilih peserta Seni dan Baca Kitab Suci Tripitaka/Tipitaka terbaik tingkat Nasional VI.

V.

MATERI FESTIVAL

  1. Dhammapada/Dharmapada dan Terjemahannya.
  2. Sutra atau Mantra
  3. Paduan Suara
  4. Cerdas Cermat Sekolah Minggu Buddhis.
  5. Pameran yang bernafaskan Buddhis yaitu buku-buku Keagamaan, dokumentasi kegiatan, sarana keagamaan Buddha dan seni budaya Budhis.
  6. Sarasehan tentang Pengembangan dan Peningkatan Festival Seni dan Baca Kitab Suci Tripitaka/Tipitaka.

VI.

PENYELENGGARAAN

  1. Waktu dan Tempat
    FSBKST Tingkat Nasional V Tahun 2003 diselenggarakan di Batam Provinsi Riau selama 4 hari dari tanggal 5 sampai dengan 8 Juli 2003.
  2. Peserta dan Ofisial
    1. Peserta FSBKST Tingkat Nasional V Tahun 2003 diikuti oleh peserta dari seluruh propinsi di Indonesia yang terdiri dari kategori:

      1. Anak-anak untuk usia sampai dengan 12 tahun.
      2 .Remaja untuk usia 13 s.d 18 tahun.
      3. Dewasa untuk usia 19 s.d 30 tahun.

    2. Ofisial adalah pelatih yang mendampingi peserta pada masing-masing kategori.
  3. Panitia Pelaksana dan Dewan Juri
    Panitia Pelaksana dan Dewan Juri adalah mereka yang diangkat dan ditetapkan dengan Surat Keputusan Ketua Lembaga Pengembangan Seni dan Baca Kitab Suci Tipitaka/Tipitaka.
  4. Piala dan Piagam Penghargaan
    1. Piala Kejuaraan
      Yang berhak mendapatkan piala adalah peserta pemenang yang terdiri dari: Juara Umum, Juara I, Juara II, Juara III, Juara harapan I, II dan III untuk masing-masing katagori dan jenis perlombaan.
    2. Piala Presiden
      Yang berhak mendapatkan piala Presiden adalah kontingen yang mendapatkan kejuaraan terbanyak dan dengan nilai terbesar.
    3. Piala Penghargaan Khusus
      Piala Penghargaan Khusus diberikan kepada kontingan yang mendapatkan penilaian oleh panitia secara khusus.
    4. Piagam Penghargaan
      Masing-masing peserta dan ofisial berhak mendapatkan Piagam Penghargaan.
  5. Pakaian Peserta
    Untuk keserasian dan ketertiban pelaksanaan Festival ditentukan:
    1. Pada pembukaan dan penutupan peserta mengenakan pakaian adat daerah masing-masing.
    2. Pada saat lomba berlangsung, peserta mengenakan pakaian bebas rapi dan sopan.
    3. Untuk lomba pembacaan Mantra atau Sutra mengenakan pakaian khas dari masing-masing peserta.

     

*Jhs

Sumber: Kerangka Acuan FSBKST

Departemen Agama

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.