|
PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat pada dua dasawarsa terakhir mengakibatkan terjadinya perubahan yang menggelobal di berbagai belahan dunia dan menyentuh pada berbagai sektor kemasyarakatan, tidak terkecuali sektor agama. Perubahan-perubahan itu berimplikasi langsung terhadap perilaku masyarakat. Di Indonesia, perubahan itu dapat disimak pada banyak peristiwa yang terjadi pada kurun waktu lima tahun terakhir, yang sebagian diantaranya bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan.
Pembangunan nasional dilaksanakan dalam ranka membangun manusia Indonesia seutuhnya. Hal ini berarti bahwa Pembangunan nasional tidak hanya mementingkan kemajuan lahiriah yang bertumpu pada kemajuan ilmu dan teknologi, tetapi juga pembangunan rohaniah keagamaan yang bertumpu pada pengetahuan agama; sehingga kehidupan manusia dan masyarakat Indonesia menjadi lebih mantap, selaras, serasi dan seimbang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Nilai-nilai moral Pancasila menuntut tumbuhnya sikap dan perbuatan yang sesuai dengan norma-norma yang diajarkan agama-agama yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian nilai-nilai agama memperoleh tempat dalam interpretasi dan implementasi Pancasila sebagai dasar, falsafah dan ideologi negara, khususnya dalam kaitannya dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Sejalan dengan perubahan sosial kemasyarakatan dan pengimplementasian nilai-nilai pancasila bertujuan untuk meningkatkan kadar keimanan dan ketaqwaan masyarakat terhadap Tuhan Yang Maha Esa, meningkatkan dan mengembangkan tata nilai kehidupan beragama yang mendukung etos pembangunan, serta kesemarakan kehidupan keagamaan diupayakan agar senantiasa disertai dengan pendalaman, penghayatan dan penerapan ajaran agama untuk meningkatkan daya tahan terhadap berbagai batu ujian dan dampak negatif modernisasi yang tengah berlangsung.
Demikian pula terhadap wawasan dan pengertian masyarakat terhadap ajaran agama semakin luas dan berkembang sehingga agama dapat lebih mengembangkan peranannya sebagai motvator dan dinamisator kemajuan. Untuk itu pembinaan terhadap umat beragama perlu terus dilaksanakan, mengingat akan peran agama sebagai landasan etik, moral dan spiritual yang kokoh bagi pembangunan nasional.
Oleh karena itu perlu dirumuskan upaya untuk meningkatkan peranan pemuka agama dan organisasi keagamaan sebagai motivator dan dinamisator pembangunan, dalam rangka menghadapi peradaban baru era globalisasi yang materialistik dan sekuler dari abad XXI.
Agama Buddha sebagai agama besar di dunia hendaknya mampu untuk menyumbangkan visi spiritual, paradigma etik moral serta kekuatan profetik yang dapat mendukung perkembangan peradaban.
Menyongsong era globalisasi dewasa ini, agaknya tantangan modernisasi yang disarati dengan perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan tehnologi menuntut kepada umat beragama untuk melakukan reaktualisasi paham-paham keagamaan karena dengan demikian maka agama akan dapat memberikan kontribusinya terhadap pengembangan peradaban dan kemanusiaan.
Dalam kaitan tersebut, upaya untuk memberikan wahana terhadap pemahaman dhamma/dharma ajaran Sang Buddha bagi umat beragama Buddha perlu diberikan porsi yang cukup memadai, sebab dalam mengamalkan ajaran Sang Buddha, untuk belajar bagaimana mengatasi ketidaktahuan dan penderitaan, serta untuk menemukan jalan yang benar guna meraih kebijaksanaan, kedamaian dan kebahagiaan masih belum sepenuhnya dapat dilakukan oleh semua umat Buddha. dhamma/dharma ajaran Sang Buddha masih merupakan Misteri bagi banyak orang, karena umumnya mereka belum mengerti bagaimana mempelajari dan menghayati Dhamma/dharma itu sendiri.
Dhamma/dharma dapat dipelajari dalam tiga tahap, yaitu:
-
Tahap Pariyatta (tahap mempelajari dhamma/dharma secara teoritis agar dapat memiliki pengertian, pemahaman untuk selanjutnya penghayatan)
-
Tahap Patipati (tahap memperaktekkan, mengamalkan dhamma/dharma setelah mengerti dan memahami dhamma/dharma secara benar) dan
-
Tahap Pativedha (tahap memetik hasil dari kebenaran dhamma).
Ketiga tahapan mempelajari dhamma/dharma tersebut hendaknya dilakukan secara berurutan karena kebenaran dhamma/dharma itu bukanlah terdapat pada ucapan kata, bukan pada wujud aksara, namun terdapat pada perbuatan dan pengamalan yang nyata dalam kehidupan.
Kitab Suci Dhammapada/Dharmapada sebagai bagian dari Tipitaka/ Tripitaka lebih banyak dikenal oleh masyarakat Buddhis di seluruh dunia. Mengingat bahwa Kitab Suci Dhammapada/ Dharmapada ini memberikan tutunan dhamma/dharma bagi semua umat (brahmacariya dan perumahtangga), memiliki nilai-nilai universal yang disajikan dalam kalimat-kalimat pendek dan mudah dimengerti, berbentuk syair (gatha) yang mengandung nilai seni dan dapat dijelaskan secara konseptual (dhammadutthana) maupun faktual (puggaladitthana).
Atas dasar pertimbangan tersebut di atas maka penyelenggaraan Festival Seni dan Baca Kitab Suci Tripitaka/Tipitaka dapat dijadikan sarana untuk mengerti dan memahami serta menghayati nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam Kitab Suci Tipitaka/ Tripitaka.
|