KIAP & Konrad Adenauer
Stiftung dukung Pemilu 2004
PEMILU 2004 banyak Presidennya juga benderanya,
namun siapapun presidennya kita patut menghormati dan mendukung, seandainya ada
Calon Presiden yang terpilih menjadi Presiden. Sekilas penyampaian pesan
demokrasi dari Dra S. Hartati Murdaya Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Perwakilan
Umat Buddha Indonesia (DPP Walubi) dihadapan 200 tokoh dari berbagai pemuka
Agama di Intercontinental MidPlaza, Jakarta Rabu 31/3/04.
Menghadapi Pemilu 2004 baik
legislatif pada tanggal 5 April 2004, 5 Juli 2004 maupun Pemilu eksekutif 20
September 2004, para tokoh dari berbagai agama telah menye ruhkan kepada seluruh
lapisan masyarakat yang mempunyai hak pilih agar menggunakan hak politik dengan
sebaik-baiknya sebagai manifestasi tanggung jawab bagi setiap warga negara.
Silaturahmi para Tokoh Agama
tentang Masa Depan Demokrasi Indonesia ini telah diprakarsai oleh Komite
Indonesia Untuk Agama dan Perdamaian (KIAP) dan Konrad Adenauer Stiftung (KAS),
membahas tema sentral tentang masalah masa depan demokrasi Indonesia. Kegiatan
acara diantaranya diisi oleh pesan para tokoh umat beragama, Dialog demokrasi
dari persepektif beragama dan Dialog agama untuk demokrasi.
Para pemegang hak politik
dimintai peran untuk tanggung jawab terhadap Pemilihan Umum tersebut, maka
setiap warga juga diharapkan untuk; mendengarkan kata hati nurani dari
masing-masing kontestan parpol dengan cara, mengamati, memilih dan menagih janji
caleg, bila sesudah Pemilu, kata Prof.Dr.Din Samsudin (Ketua KIAP/IComRP)
Sehubungan dengan itu para
tokoh dari berbagai agama memberikan dukungan pesan demokrasi, melalui banner
yang berbunyi; “Jadikan Pemilu Momentum Perubahan (MUI), Damai Itu
Indah (KWI), Mari Menyatu Dalam Perbedaan (Okuimene-PGI),
Indonesiaku Bersatu (WALUBI), Damai & Tertib Kunci Sukses Pemilu
(PHDI), Suara Rakyat, Suara Tuhan (MATAKIN)”. Para Tokoh Agama itu
adalah DR.H.Amidhan, Ketua MUI (Islam), Mgr.A . Agus, Uskup Sintang, KWI
(Katolik), Pdt.DR.Natan Setiabudi , Ketua Umum PGI (Protestan), Dra.S.Hartati
Murdaya, Ketua Umum Walubi (Buddha), I.Nyoman Suwandha Ketua Parisada Hindu
Dharma (Hindu), Ir.Budi Santoso Tanuwibowo MM, Ketua Umum Matakin (Khonghucu).
Kesimpulan dari para pemuka agama sesuai dengan
kondisi ajarannya masing-masing, sangat perlu memperhatikan memandang dan
memberi kesepakatan bersama bahwa demokrasi adalah pilihan terbaik sebagai
sarana untuk membangun rumah ke Indonesian dan bertumpu pada sendi kebersamaan,
kesetaraan, keadilan dan tak diskriminasi.
Perbedaan dari keagamaan merupakan kekayaan budaya yang harus dihormati dan
dapat dijadikan sebagai pilar pengembangan bagi kehidupan berdemokrasi.
Para tokoh dari agama-agama
juga menilai sesuai dengan pesan agamanya masing-masing serta memperhatikan,
bahwa Pemilu 2004 merupakan agenda nasional yang memiliki nilai strategi untuk
mengatasi krisis multi dimensional, disamping untuk mengatasi konflik horizontal
maupun konflik vertical di tanah air.
Pada intinya demokrasi
adalah berani mengemukakan kebenaran serta mementingkan kebersamaan sesuai
dengan konteks budaya dan politik. Apa yang telah tersurat sesuai amanat Tuhan /
Nabi, yaitu menentang ketidakadilan.
Dikatakan pula, demokrasi
adalah sumbangan komitmen yang terbaik bagi bangunan sosial masyarakat dan tetap
harus memikirkan bangunan-bangunan komunitas sesuai dengan keberagaman yang ada
di masyarakat itu sendiri.
Inti semua dari demokrasi
adalah menekankan pada solidaritas terhadap situasi atau keberadaan aturan
main. Sedangkan demokrasi itu sendiri adalah sebagai alat yang terpenting untuk
mencapai kesejahteraan dan keadilan. Walau kekuasaan hak demokrasi harus sesuai
dengan pilihan rakyat dan fungsi pemerintahan (government). //tt
|