|

(Click pada gambar untuk memperbesar )
TOKOH tokoh agama yang tergabung
dalam Komite Indonesia untuk Agama dan Perdamaian, terdiri dari berbagai
komunitas agama, menginginkan partai politik peserta pemilu untuk bersifat arif
dalam menyikapi hasil pemungutan suara. Penolakan hasil pemungutan suara
pemilihan umum oleh sejumlah parpol, beberapa waktu lalu merupakan bukti bahwa
parpol bersifat kurang arif, dibandingkan masyarakat yang sudah punya semangat
untuk melaksanakan pemilu. Apalagi masyarakat sendiri tampaknya sudah lebih maju
dengan tidak mempersoalkan lagi siapa yang menang dan kalah.
Disini para Tokoh pemuka agama sebagai eksponen bangsa merasakan punya tanggung
jawab moral dan melakukan tinjauan dari berbagai aspek upaya strategi dalam
menyusun agenda Penyelamatan Bangsa usai Pemilu 2004.
Hal ini terungkap dalam pertemuan Silatuhrahmi Eksponen Bangsa yang
diselenggarakan Komite Agama untuk Perdamaian Indonesia di kantor Pusat
Muhammadiyah di Jakarta, Selasa 13/4/04. Diskusi yang dimotori Wakil Pimpinan
Pusat Muhammadiyah Prof.DR.Din Samsudin, juga di hadiri oleh Mahfudzoh Muslimat
NU, Muhammad Noer Dewan Dakwah NU, YM.Bhiksu Tadisa Paramita, Bhikkhu Dhammapalo,
Bhikkhu Sumano Perwakilan Sangha WALUBI, Andreas Yewango Persekutuan
Gereja-gereja Indonesia, Wawan Kurniawan Majelis Tinggi Khonghucu, P Sigit
Pramudji Konferensi Wali gereja Indonesia, dan I Nyoman Widi Parisadha Hindu
Dharma Indonesia.
Selain itu juga hadir seperti artis layar kaca Dita Indah Sari, Nurul Arifin
Caleg Partai Golkar, Caleg PAN Paquita Wijaya, Rhoma Irama dan Deddy Gumelar (Mi’ing)dari
PPP dan PKS.
Bhiksu Tadisa Paramita mencermati pelaksanan pemilu di daerah terjadi diundur
dan pengulangan, karena kesalahan pengiriman logistik, mungkin adanya unsur
kesengajaan yang semuanya dipastikan awal ketidakpuasan. Tetapi akhirnya dapat
berjalan lancar dan damai.
Dalam pelaksanaan pemilu tentu ada yang menang dan yang kalah. Bhiksu Tadisa
mengharapkan semua itu harus sportif, arif dan ikhlas, apabila tidak terpilih
tidak harus kecewa, namun berjuanglah untuk melayani masyarakat banyak, agar
nantinya mendapat dukungan simpati pada pemilu yang akan datang.
Himbauan Bhiksu Tadisa untuk para pemimpin parpol dimana saja berada, “dalam
mengangkat citra mengedepankan bangsa dan negara, demi masa depan Indonesia yang
indah dan lebih cemerlang. Tuhan Yang Maha Esa senantiasa bersama kita,
kebenaran akan menang, keadilan akan berbicara, hukum karma akan bertindak, yang
bermutu baik pasti mendapat simpati dukungan masyarakat banyak serta memperoleh
restu dan anugerah Nya pasti menang, terpilih menjadi pimpinan legislatif maupun
di eksekutif”, katanya.
I Nyoman Widi (PHDI)juga menegaskan tentang penolakan pemilu dari beberapa
partai lalu, “penolakan pemilu hanya akan menyengsarakan rakyat. Situasinya
dapat menyebabkan chaos, maka diminta jangan sampai terjadi pengulangan”,
tegasnya.
Andreas (PGI) mengakui, pelaksanaan pemilu lalu sebenarnya sudah sangat baik.
Terlihat antusiasme masyarakat sangat besar untuk serius mengikuti berbagai
proses politik. Jika antusiasme ini ditolak, berarti sangat tidak arif. “ Rakyat
janganlah dimasukkan dalam kepanikan baru. KPU memang yang harus bekerja lebih
baik lagi,” ujarnya.
Sigit (KWI)menawarkan, saat ini banyak pelajaran yang bisa diambil hikmahnya
dari proses pelaksanaan pemilu 5 April yang baru lalu. Banyak pihak yang masih
harus belajar, KPU dan partai politik juga harus banyak mengambil pelajaran dari
situasi ini. “ Untuk kedepan, KPU belajar agar tidak muncul lagi penolakan,
parpol belajar untuk menerima kekalahan dan masyarakat juga bisa semakin taat
hukum dan peraturan agar demokrasi semakin bisa dikembangkan,” katanya.
Mahfudzoh (NU)mengamati, pelaksanaan pemilu harus bisa dijadikan pelajaran bagi
masyarakat untuk menaikkan tingkat kemampuan demokrasinya. Pelaksanan pemilu
sudah baik, ini harus terus dilanjutkan pada masa pemilihan presiden
mendatang.tt
|