WARTA WALUBI

Tahun 2012
Tahun 2011
Tahun 2010
Tahun 2009
Tahun 2008
Tahun 2007

Tahun 2006
Tahun 2005
Tahun 2004
Tahun 2003
Tahun 2002


WARTA MAJELIS
Tahun 2003
Tahun 2002




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 

 Umat Buddha Vihara Satya Dharma Indonesia melakukan kegiatan penyelamatan satwa

 

 

UMAT BUDDHA VIHARA YAYASAN SATYA ADI DHARMA INDONESIA,
Melakukan kegiatan penyelamatan satwa

 

Pelepasan untuk menyelamatkan makhluk hidup, disebut dalam bahasa mandarin “Fangshen.” Yayasan Vihara Satya Adi Dharma Indonesia yang berpusat di Jalan Pluit Mas-Jakarta Utara telah menyelenggarakan aksi masal pelepasan makhluk hidup, yang dilakukan di wilayah Pantai Wisata Bendungan Jatiluhur-Jawa Barat.25/4/04. Adapun kegiatannya dipimpin langsung oleh Maha Pandita Huang Tien Chuan Se di dampingi Ketua Yayasan Satya Adi Dharma N.Singgih SH dan  500 umat Buddha dari beberapa Vihara yang datang dari Tangerang, Bandung, Bekasi dan Jakarta turut mengambil bagian dalam misi  sosial penyelamatan satwa   air tersebut. Satwa air yang dilepas  tersebut adalah; kura-kura 250 ekor, lele dumbo 2000 ekor dan belut 3000 ekor.

 

Sebelum acara pelepasan, Maha Pandita Huang terlebih dahulu memberikan pencerahan batin melalui ceramah dharma tentang makna dari pelepasan satwa kepada 500 umat Buddha yang begitu semangat dan tulus hati. Dalam ceramahnya Maha Pandita Huang mengatakan  bahwa “Kita semua menyadari betapa penting dan mahalnya suatu kehidupan bagi kita, tentunya tidak berbeda dengan kehidupan makhluk lainnya. Seperti satwa air yang kita lepas ini, bisa hidup lebh lama dalam habitatnya. Apabila kita tidak peduli, suatu saat, mungkin satwa tersebut terancam dibunuh dan dijadikan santapan lezat, dengan demikian  juga kita telah mengikat jodoh baik dengan mereka, sifat peduli dan welas asih ini harus juga dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Sesuai faham reinkarnasi, mungkin makhluk hidup yang mao kita lepas ini pada masa lampaunya masih ada hubungan keluarga dengan kita, mungkin juga pernah jadi kedua orangtua kita. Karenanya sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk menolong dan melepasnya. Tanpa kita sadari sesungguhnya akibat dampak dari membunuh adalah kebencian dan dendam turun temurun, dampak lain iklim bumi yang tidak lagi kondusif dan damai. Bahkan penuh dengan roh-roh jahat, terbukti dengan banyaknya bencana alam, terjangkitnya berbagai penyakit yang menakutkan seperti Sars, kanker, demam berdarah, flu burung dan musibah lainnya seperti terjadinya peristiwa kebringasan dan kesadisan, sebagaimana yang kita dengar dan lihat dalam tayangan televisi atau mass media. Kebajikan yang kita lakukan ini merupakan wujud nyata kepedulian seperti yang diajarkan dalam agama dan yang diteladani oleh Sang Buddha. Perbuata baik kita dalam menyelamatkan nyawea makhluk lain sama dengan akan menyelamatkan nyawa kita sendiri pada nyawa kita saat terancam, dan akan memperpanjang usia kita, juga akan luput dari terjangkitnya berbagai penyakit.

 

Selanjutnya Maha Pandita Huang  meminta umat Buddha yang hadir membentuk lingkaran dan melakukan doa bersama dengan membacakan paritta, agar satwa yang dilepas tersebut mendapatkan kebebasan dan keselamatan didalam kehidupan selanjutnya. Begitupula karma pahala kebajikan yang kita limpahkan, dapat kembali ke negeri dan bangsa yang kita cintai, tuturnya.  

 

Selanjutnya N.Singgih, SH   dalam sambutan singkatnya mengkutip kata dari wejangan Buddha Chikung; (Tien,Ti Swei, Oe, Ih) (Cie, Te, Se, Hai, Pei) (Fu, Cai, Wan,Uh, Ci) ( Wei, Yen, Tang, Siet, Sit) yang artinya : Langit dan bumi sekalipun tiada sepatah kata, namun betapa besar budi mulianya. menganugerahkan limpahan ke seluruh jagad raya tanpa pamrih dan tanpa pilih kasih, semua tumbuhan  dan seluruh makhluk hidup bebas dalam pelukanNya. Kurang Karenanya kita sebagai makhluk manusia hendaknya mau belajar dari  kemuliaanNya, namun sayang kebesaran budi mul   ia dariNya kurang dapat dihayati oleh sebagian besar  manusia bahkan cenderung bersifat serakah dan egois selalu mementingkan diri sendiri dan membeda-bedakan satu dan lainnya, sehingga benih hati Buddha yang ada pada dirinya tidak d a pat dikembangkan, kata Singgih yang juga anggota Walubi menjabat Ketua Lembaga Keagamaan Buddha Indonesia.

 

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.