|
UMAT BUDDHA VIHARA YAYASAN SATYA ADI DHARMA INDONESIA,
Melakukan kegiatan penyelamatan satwa
Pelepasan untuk menyelamatkan makhluk
hidup, disebut dalam bahasa mandarin “Fangshen.” Yayasan Vihara Satya Adi Dharma
Indonesia yang berpusat di Jalan Pluit Mas-Jakarta Utara telah menyelenggarakan
aksi masal pelepasan makhluk hidup, yang dilakukan di wilayah Pantai Wisata
Bendungan Jatiluhur-Jawa Barat.25/4/04. Adapun kegiatannya dipimpin langsung
oleh Maha Pandita Huang Tien Chuan Se di dampingi Ketua Yayasan Satya Adi Dharma
N.Singgih SH dan 500 umat Buddha dari beberapa Vihara yang datang dari
Tangerang, Bandung, Bekasi dan Jakarta turut mengambil bagian dalam misi sosial
penyelamatan satwa air tersebut. Satwa air yang dilepas tersebut adalah;
kura-kura 250 ekor, lele dumbo 2000 ekor dan belut 3000 ekor.
Sebelum acara pelepasan, Maha Pandita
Huang terlebih dahulu memberikan pencerahan batin melalui ceramah dharma tentang
makna dari pelepasan satwa kepada 500 umat Buddha yang begitu semangat dan tulus
hati. Dalam ceramahnya Maha Pandita Huang mengatakan bahwa “Kita semua
menyadari betapa penting dan mahalnya suatu kehidupan bagi kita, tentunya tidak
berbeda dengan kehidupan makhluk lainnya. Seperti satwa air yang kita lepas ini,
bisa hidup lebh lama dalam habitatnya. Apabila kita tidak peduli, suatu saat,
mungkin satwa tersebut terancam dibunuh dan dijadikan santapan lezat, dengan
demikian juga kita telah mengikat jodoh baik dengan mereka, sifat peduli dan
welas asih ini harus juga dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Sesuai faham
reinkarnasi, mungkin makhluk hidup yang mao kita lepas ini pada masa lampaunya
masih ada hubungan keluarga dengan kita, mungkin juga pernah jadi kedua orangtua
kita. Karenanya sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk menolong dan
melepasnya. Tanpa kita sadari sesungguhnya akibat dampak dari membunuh adalah
kebencian dan dendam turun temurun, dampak lain iklim bumi yang tidak lagi
kondusif dan damai. Bahkan penuh dengan roh-roh jahat, terbukti dengan banyaknya
bencana alam, terjangkitnya berbagai penyakit yang menakutkan seperti Sars,
kanker, demam berdarah, flu burung dan musibah lainnya seperti terjadinya
peristiwa kebringasan dan kesadisan, sebagaimana yang kita dengar dan lihat
dalam tayangan televisi atau mass media. Kebajikan yang kita lakukan ini
merupakan wujud nyata kepedulian seperti yang diajarkan dalam agama dan yang
diteladani oleh Sang Buddha. Perbuata baik kita dalam menyelamatkan nyawea
makhluk lain sama dengan akan menyelamatkan nyawa kita sendiri pada nyawa kita
saat terancam, dan akan memperpanjang usia kita, juga akan luput dari
terjangkitnya berbagai penyakit.
Selanjutnya Maha Pandita Huang meminta
umat Buddha yang hadir membentuk lingkaran dan melakukan doa bersama dengan
membacakan paritta, agar satwa yang dilepas tersebut mendapatkan kebebasan dan
keselamatan didalam kehidupan selanjutnya. Begitupula karma pahala kebajikan
yang kita limpahkan, dapat kembali ke negeri dan bangsa yang kita cintai,
tuturnya.
Selanjutnya N.Singgih, SH dalam
sambutan singkatnya mengkutip kata dari wejangan Buddha Chikung; (Tien,Ti Swei,
Oe, Ih) (Cie, Te, Se, Hai, Pei) (Fu, Cai, Wan,Uh, Ci) ( Wei, Yen, Tang, Siet,
Sit) yang artinya : Langit dan bumi sekalipun tiada sepatah kata, namun betapa
besar budi mulianya. menganugerahkan limpahan ke seluruh jagad raya tanpa pamrih
dan tanpa pilih kasih, semua tumbuhan dan seluruh makhluk hidup bebas dalam
pelukanNya. Kurang Karenanya kita sebagai makhluk manusia hendaknya mau belajar
dari kemuliaanNya, namun sayang kebesaran budi mul ia dariNya kurang dapat
dihayati oleh sebagian besar manusia bahkan cenderung bersifat serakah dan
egois selalu mementingkan diri sendiri dan membeda-bedakan satu dan lainnya,
sehingga benih hati Buddha yang ada pada dirinya tidak d a pat dikembangkan,
kata Singgih yang juga anggota Walubi menjabat Ketua Lembaga Keagamaan Buddha
Indonesia.
|