|

|
|
Tanggal 25 April merupakan
tanggal berdarah buat warga Ambon, karena pada saat itulah hari jadi Republik
Maluku Selatan (RMS) di peringati. Sehubungan dengan peristiwa di Ambon,
guncangan kembali berdarah setelah munculnya para sniper (penembak gelap) pada
hari Minggu, 25 April 2004 lalu yang menewaskan lebih dari 30 jiwa disertai
hancurnya fasilitas sosial dan pendidikan.
Sejumlah para tokoh perwakilan dari lintas agama yang terdiri dari WALUBI, MUI,
PGI, KWI, PHDI dan MATAKIN tergabung dalam Indonesian Committee On Religion and
Peace (IComR) sedih dan prihatin atas peristiwa tersebut, karena memicu
terjadinya konflik baru pasca perdamaian di Ambon yang berujung dampak kerugian
serta
|
|
keburukan bagi masyarakat,
selain itu menghabiskan segala daya yang menghalangi masyarakat untuk membangun
kembali kehidupan baru yang damai dan sejahtera.
Din Syamsuddin atas nama IComRP
menyampaikan seruan ”khususnya warga Ambon dan dimana saja, agar dapat
mengendalikan diri, tidak terpancing oleh hasutan pihak yang tidak bertanggung
jawab yang mengarah pada permusuhan, pertentangan konflik yang hanya akan
merugikan diri sendiri, karena pada dasar nya setiap agama menekankan pada cinta
kasih dan perdamaian”.
IComRP yang lahir dari lintas agama, secara tegas meminta kepada aparat
kepolisian untuk menindak provokator yang berada di belakang kerusuhan baru di
Ambon dan segera memulihkan keamanan dengan melakukan langkah-langkah persuasif
untuk menghindari konflik yang lebih besar lagi. IComRP mengharap kan seluruh
bangsa bahu – membahu bekerjasama dengan erat, menghindari segala bahaya yang
dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pernyataan sikap itu disampaikan di Jakarta,27/4/04 Selasa siang dihadiri Ketua
Umum IComRP, Prof DR.Din syamsudin, Sekjen Theophilus Bela, Bhante Bodhi, Bhante
Dhammapalo, Pdt.Natan Setiabudhi, Djaengrana, Romo Sigit, Yusuf Rohini (tokoh
Ambon),dll.
Wapres RI, Hamzah Haz ditempat yang berbeda, juga mengungkapkan” sangat khawatir
dengan kerusuhan yang terjadi di Ambon dan bisa mengganggu jalannya pemilihan
presiden 5 Juli 2004 mendatang”
Kurang siaganya aparat keamanan di Ambon, juga sangat di sayangkan Wapres,
sehingga ada bendera RMS yang dikibarkan pendukungnya. toto
|