|
Bhiksu Tadisa disambut Umat di Belitung
PESAWAT Hercules milik TNI-AU begitu tiba di
Lapangan Udara (Lanud) H.AS Hanan Djoedin Belitung, bersama para
Sukarelawan. Ketika kaki diinjakan ke tanah Lanud, udara panas
langsung menyengat, namun angin laut bertiup segar, bantu melumatkan
rasa gerah. Bhiksu Tadisa Paramita bersama Sukarelawan Walubi, turun
disambut layaknya pejabat, memenuhi ruang VIP. Diterima Panglima
Komando Operasi I Sumatera Selatan, Masda Slamet Prihartiro SIP
untuk beramah tamah. Bhiksu Tadisa Paramita mendapat kesempatan
dijemput sekelompok umat Buddha Belitung, yang kesemuanya di antar
kendaraan menuju Martani Hotel di Kota Tanjung Pandan yang jaraknya
14 Km dari bandara(13/7/04).
Belitung merupakan sebuh pulau yang berluas
4.912 Km, berpenduduk sekitar 210.000 jiwa. Di kelilingnya terdapat
laut yang indah, seperti disebelah Barat ada Selat Gaspar yang
memisahkan Pulau Bangka. Sedangkan di sebelah Selatan, yang
memisahkan Pulau Kalimantan adalah Selat Karimata. Disekitar Pulau
Belitung terdapat 170 pulau kecil-kecil lainnya. Tetapi sayang
Tanjung Tinggi, Tanjung Kelayang, Bukit Berahu, Tanjung Pendam
lokasinya amat bersih, tepian lautnya sangat indah diliputi bebatuan
alam, air lautnya payau dan transparaan jernih dengan pasir putih
yang bersinar menembus dasar laut, namun belum terjamah para
investor. “ kalau di Australia seperti di sini, mungkin sudah di
jadikan Sentosa Island” kata Bhiksu Tadisa Paramita ketika diajak
berkeliling oleh Ketua Vihara Mudita Maitreya Ayie Gardiansyah
(14/7/04).
Belitung adalah sorga yang sarat potensi bagi
dunia wisata, tapi disini sorga yang indikatornya terlupakan
ditunjukkan oleh situasi kota Tanjung Pandan, sebuah ibukota yang
kurang tersentuh pembangunan. Disepanjang jalan, rumah-rumah tua
beratap seng, ada yang hampir roboh menghiasi panorama keindahan.
Belitung yang sesungguhnya adalah negeri yang
kaya raya akan pesona alam, namun tidak menghadirkan sosoknya yang
gemilang. Kesahajaan kota Tanjung Pandan tempat dimana para
sukarelawan tinggal selama dua malam, di Jalan Martadinata hanyalah
salah satu contoh. Belum lagi bila kita menikmati kota lainnya yang
terletak di sebelah Timur, seperti Manggar daerah asal kelahiran
Menteri Kehakiman dan HAM Yusril Ihza Mahendra.
Belitung merupakan sebuah fakta sejarah yang
patut ditiru dalam persoalan hubungan keharmonisan antara bumiputera
dan Tionghoa. Keseharian warga masyarakatnya mudah bebaur dalam
bahasa yang umumnya berbahasa Khek.
Konon ketika pemerintah Belanda yang sudah lama
menetap di Belitung dan mencari para pekerja keras yang berotot kuat,
lalu orang-orang Tionghoa tertarik untuk mendaftarkan diri. Namun
seterusnya pada waktu itu abad ke 13, orang Tionghoa menjadi kerasan
untuk tinggal di Belitung, bersamaan dengan Majapahit mulai mengusai
pulau itu sampai dua abad kemudian. Ada juga cerita angin yang
menyebutkan bahwa orang Tionghoa sudah ada di Belitung sejak
kerajaan Sriwijaya memimpin negeri tersebut sekitar abad ketujuh
sampai abad kedelapan.
Pembauran warga anak bangsa keturunan Tionghoa
dengan warga bumiputera tidak sekadar hanya waktu itu, bahkan
sedemikian melekat sampai sekarang. Diamati setelah reporter
harmoni mendengar langsung dari salah seorang anak pengusaha
Hotel Martani, Lisa Martani mengungkapkan bahwa orangtua nya
beragama Buddha keturunan Khek pernah menikahkan wanita asal
bumiputera menjadikan istri. Kemudian istri orang tuanya lambat laun
tahu bahasa khek. Tanahnya sangat luas, lebih dari dua hektar,
dipetak-petakan untuk hotel, pasar, pertokoan dan restauran. Anehnya
Lisa yang berparas Chinese setelah dewasa jatuh hati dengan
bumiputera yang kebetulan anggota TNI-AU dan menikah secara agama
Islam. Disini dapat dilihat betapa hebatnya hubungan komunikasi
kedua insan tersebut dengan agama yang berbeda dapat hidup rukun.
Orang bumiputera, anggota TNI-AU yang bertugas di Jakarta, akhirnya
dapat berbahasa khek dan mandarin belajar sehari-hari dari sang
istri, sementara istri menghormati agama yang dianut sang suami,
sehingga agama Buddha dan agama Islam hidup rukun saling
berdampingan.
Agama Buddha berkembang di Belitung ditandai
kehadiran Klenteng HokTek Bio di Tanjung Pandan sejak tahun 1868
yang sampai sekarang dirawat baik oleh pengurusnya. Perkembangan
Agama Buddha di Belitung merupakan lahan subur, asal materi bahasa
dapat disesuaikan disana.
Dan ternyata sementara yang berkembang pesat di
Belitung hanya dari Agama Buddha Maitreya. Umat nya tidak sedikit,
terdapat delapan Vihara Maitreya tersebar disana, seperti di Kebon
Jeruk, Gantung, Manggar, Kampit, Damar, Pilang, Sijuk, belum
termasuk Cetya Maitreya yang kesemuanya berada di Kabupaten Belitung
Barat dan Timur “ kurang lebih umatnya ada 10.000 orang” kata
Pendeta Marzuki.
Ketua Vihara Pusat Mudita Maitreya Belitung,
Ayie Gardiansyah menjelaskan Agama Buddha Maitreya masuk sejak tahun
1980 di gerakan oleh muda-mudi Vihara didukung oleh para orang tua.
Dalam rangka pengelola pencarian dana pembangunan, hanya dapat
diperoleh melalui pasar amal disamping menjual makanan khas
vegetarian dan ternyata sukses. Satu persatu vihara Maitreya tumbuh.
Bupati Belitung ketika hadir berkunjung peresmikan acara. Namun
pangkal pikirannya memberi dukungan terhadap perkembangan agama
Buddha di nusantara. Maka akhirnya rutin kegiatan pasar amal dan
makanan vegetarian berjalan lancar setiap tahun.
Ayie yang juga Ketua PSMTI Belitung, kadangkala
seperti Pembimas Buddha Daerah yang kesibukannya luar biasa, tidak
saja di Vihara, melainkan aktif membantu Pemda setempat dalam hal
kebersamaan membangun Kabupaten Belitung. “saya pernah diminta untuk
di posisikan sebagai Wakil Bupati, tetapi saya tolak dengan alasan
tidak siap” ujarnya. Ketika reporter harmoni bertanya
kepadanya, kalau menjadi ketua vihara sudah, misalkan menjadi Ketua
Perwakilan Umat Buddha untuk Belitung bagaimana…? Lalu “ kalau itu
saya siap, karena mengabdi pada agama “kata Ayie sambil mengajak
makan menu vegetarian kepada pewarta harmoni dan menunjukkan
pesona alam Bukit Berau, layaknya seperti guide.
|