WARTA WALUBI

Tahun 2012
Tahun 2011
Tahun 2010
Tahun 2009
Tahun 2008
Tahun 2007

Tahun 2006
Tahun 2005
Tahun 2004
Tahun 2003
Tahun 2002


WARTA MAJELIS
Tahun 2003
Tahun 2002




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 CONTENTS

Bhiksu Tadisa disambut Umat di Belitung

PESAWAT Hercules milik TNI-AU begitu tiba di Lapangan Udara (Lanud) H.AS Hanan Djoedin Belitung, bersama para Sukarelawan. Ketika kaki diinjakan ke tanah Lanud, udara panas langsung menyengat, namun angin laut bertiup segar, bantu melumatkan rasa gerah. Bhiksu Tadisa Paramita bersama Sukarelawan Walubi, turun disambut layaknya pejabat, memenuhi ruang VIP. Diterima Panglima Komando Operasi I Sumatera Selatan, Masda Slamet Prihartiro SIP untuk beramah tamah. Bhiksu Tadisa Paramita mendapat kesempatan dijemput sekelompok umat Buddha Belitung, yang kesemuanya di antar kendaraan menuju Martani Hotel di Kota Tanjung Pandan  yang jaraknya 14 Km dari bandara(13/7/04).

Belitung merupakan sebuh pulau yang berluas 4.912 Km, berpenduduk sekitar 210.000 jiwa. Di kelilingnya terdapat laut yang indah, seperti disebelah Barat ada Selat Gaspar yang memisahkan Pulau Bangka. Sedangkan di sebelah Selatan, yang memisahkan Pulau Kalimantan adalah Selat Karimata. Disekitar Pulau Belitung terdapat 170 pulau kecil-kecil lainnya. Tetapi sayang Tanjung Tinggi, Tanjung Kelayang, Bukit Berahu, Tanjung Pendam lokasinya amat bersih, tepian lautnya sangat indah diliputi bebatuan alam, air lautnya payau dan transparaan jernih dengan pasir putih yang bersinar menembus dasar laut, namun belum terjamah para investor. “ kalau di Australia seperti di sini, mungkin sudah di jadikan Sentosa Island” kata Bhiksu Tadisa Paramita ketika diajak berkeliling oleh Ketua Vihara Mudita Maitreya Ayie Gardiansyah (14/7/04). 

Belitung adalah sorga yang sarat potensi bagi dunia wisata, tapi disini sorga yang indikatornya terlupakan ditunjukkan oleh situasi kota Tanjung Pandan, sebuah ibukota yang kurang tersentuh pembangunan. Disepanjang jalan, rumah-rumah tua beratap seng, ada yang hampir roboh menghiasi panorama keindahan.

Belitung yang sesungguhnya adalah negeri yang kaya raya akan pesona alam, namun tidak menghadirkan sosoknya yang gemilang. Kesahajaan kota Tanjung Pandan tempat dimana para sukarelawan tinggal selama dua malam, di Jalan Martadinata hanyalah salah satu contoh. Belum lagi bila kita menikmati kota lainnya yang terletak di sebelah Timur, seperti Manggar daerah asal kelahiran Menteri Kehakiman dan HAM Yusril Ihza Mahendra.

Belitung merupakan sebuah fakta sejarah yang patut ditiru dalam persoalan hubungan keharmonisan antara bumiputera dan Tionghoa. Keseharian warga masyarakatnya mudah bebaur dalam bahasa yang umumnya berbahasa Khek.

Konon ketika pemerintah Belanda yang sudah lama menetap di Belitung dan mencari para pekerja keras yang berotot kuat, lalu orang-orang Tionghoa tertarik untuk mendaftarkan diri. Namun seterusnya pada waktu itu abad ke 13, orang Tionghoa menjadi kerasan untuk tinggal di Belitung, bersamaan dengan Majapahit mulai mengusai pulau itu sampai dua abad kemudian. Ada juga cerita angin yang menyebutkan bahwa orang Tionghoa sudah ada di Belitung sejak kerajaan Sriwijaya memimpin negeri tersebut sekitar abad ketujuh sampai abad kedelapan.

Pembauran warga anak bangsa keturunan Tionghoa dengan warga bumiputera tidak sekadar hanya waktu itu, bahkan sedemikian melekat sampai sekarang. Diamati setelah reporter harmoni mendengar langsung dari salah seorang anak pengusaha Hotel Martani, Lisa Martani mengungkapkan bahwa orangtua nya beragama Buddha keturunan Khek pernah menikahkan wanita asal bumiputera menjadikan istri. Kemudian istri orang tuanya lambat laun tahu bahasa khek. Tanahnya sangat luas, lebih dari dua hektar, dipetak-petakan untuk hotel, pasar, pertokoan dan restauran. Anehnya Lisa yang berparas Chinese setelah dewasa jatuh hati dengan bumiputera yang kebetulan anggota TNI-AU dan menikah secara agama Islam. Disini dapat dilihat betapa hebatnya hubungan komunikasi kedua insan tersebut dengan agama yang berbeda dapat hidup rukun. Orang bumiputera, anggota TNI-AU yang bertugas di Jakarta, akhirnya dapat berbahasa khek dan mandarin belajar sehari-hari dari sang istri, sementara istri menghormati agama yang dianut sang suami, sehingga agama Buddha dan agama Islam hidup rukun saling berdampingan.

Agama Buddha berkembang di Belitung ditandai kehadiran Klenteng HokTek Bio di Tanjung Pandan sejak tahun 1868 yang sampai sekarang dirawat baik oleh pengurusnya. Perkembangan Agama Buddha di Belitung merupakan lahan subur, asal materi bahasa dapat disesuaikan disana.

Dan ternyata sementara yang berkembang pesat di Belitung hanya dari Agama Buddha Maitreya. Umat nya tidak sedikit, terdapat delapan Vihara Maitreya tersebar disana, seperti di Kebon Jeruk, Gantung,  Manggar, Kampit, Damar, Pilang, Sijuk, belum termasuk Cetya Maitreya yang kesemuanya berada di Kabupaten Belitung Barat dan Timur “ kurang lebih umatnya ada 10.000 orang” kata Pendeta Marzuki.

Ketua Vihara Pusat Mudita Maitreya Belitung, Ayie Gardiansyah menjelaskan Agama Buddha Maitreya masuk sejak tahun 1980 di gerakan oleh muda-mudi Vihara didukung oleh para orang tua. Dalam rangka pengelola pencarian dana pembangunan, hanya dapat diperoleh melalui pasar amal disamping menjual makanan khas vegetarian dan ternyata sukses. Satu persatu vihara Maitreya tumbuh. Bupati Belitung ketika hadir berkunjung peresmikan acara. Namun pangkal pikirannya memberi dukungan terhadap perkembangan agama Buddha di nusantara.  Maka akhirnya rutin kegiatan pasar amal dan makanan vegetarian berjalan lancar setiap tahun.

Ayie yang juga Ketua PSMTI Belitung, kadangkala seperti Pembimas Buddha Daerah yang kesibukannya luar biasa, tidak saja di Vihara, melainkan aktif membantu Pemda setempat dalam hal kebersamaan membangun Kabupaten Belitung. “saya pernah diminta untuk di posisikan sebagai Wakil Bupati, tetapi saya tolak dengan alasan tidak siap” ujarnya. Ketika reporter harmoni bertanya kepadanya, kalau menjadi ketua vihara sudah, misalkan menjadi Ketua Perwakilan Umat Buddha untuk Belitung bagaimana…? Lalu “ kalau itu saya siap, karena mengabdi pada agama “kata Ayie sambil mengajak makan menu vegetarian kepada pewarta harmoni dan menunjukkan pesona alam Bukit Berau, layaknya seperti guide.       

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.