|
MEMBINA KERUKUNAN DAN KEBERSAMAAN DALAM KASIH
Sebuah catatan oleh SONIKA, Tokoh
Buddhis Riau
Hidup dalam kerukunan dan
kebersamaan dalam sebuah kasih nyata adalah sangat penting
ditengah-tengah kehidupan manusia. Tanpa kasih seolah-olah dunia ini
akan layu dan mati kekeringan. Sebagai tokoh masyarakat Buddha, kita
mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam membina kerukunan
sesama dan menyampaikan kebenaran Buddha kepada siapapun yang
berjodoh dan mau mendengarkan.
Dengan jodoh Kebuddhaan , saya
mencoba memperaktekkan kehidupan
spiritual sesuai ajaran Buddha dan
panggilan Kasih Buddha. Karenanya pada umur 19 tahun saya menjadi
guru agama Buddha (tahun 1983/1984) sampai sekarang terus membina
siswa/mahasiswa beragama Buddha di Riau sudah 20 tahun lalu, dengan
pengalaman yang apa adanya dan tekad maju tak gentar, saya terus
menerobos berbagai bentuk cobaan kehidupan, belajar dan mengajar
tidak lepas dari kehidupan saya sampai sekarang, berkat bimbingan
para Sesepuh dan Pandita Maitreya yang terus memotivasi dan
memberikan harapan kedepan untuk mencapai Hati Nurani sadar
cemerlang.
Saya berharap
setiap momen dapat memberikan bimbingan dan penerangan dalam
kebersamaan kepada siapapun, tanpa perbedaan. Karena kasih yang
tiada diskriminasi,
Bentuk-bentuk
himbauan moral dan tulisan spritual Buddhis terus saya sampaikan
melalui berbagai media di Riau, dan tahun 2003 lalu saya coba
membukukan sebuah buku berjudul ; Motivasi, Introspeksi dan
Harapan. Yang merupakan kumpulan dari berbagai tulisan dalam
berbagai momen ceramah dan bimbingan yang saya sampaikan,
seperti
memberikan kuliah terbuka pada jurusan perbandingan agama perspektif
Buddhis kepada para mahasiswa/I Islam IAIN Susqa, dan tahun 2004
saya mendapat kehormatan sebagai Dosen LB di Institut tersebut,
seminar-seminar,lokakarya dan mimbar agama.
Saya tidak
lupa membimbing saudara-saudara sedharma baik terhimpun dalam
persaudaraan guru maupun siswa dan mahasiswa, siapapun yang mau maju
bathinnya, tiada perbedaan dari mana aliran dan sektenya. Ingatkan
hanya kasih tanpa perbedaan.
Dengan kasih
Tuhan Yang Maha Esa saya mengikuti berbagai kegiatan Vihara Maitreya
di Riau, dengan tugas guru agama Buddha, Pembina dan sekarang ketua
persaudaraan guru agama Mapanbumi Riau.
Pendekatan
dengan anggota masyarakat terus saya lakukan, dan sangat berharap
agar Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) kedepan akan
mempererat hubungan silahturrahmi (persaudaraan) sesama umat Buddha
tidak membedakan majelisnya. Setiap umat Buddha dan manusia
mempunyai cita-cita yang berbeda, tujuan yang berbeda dalam bentuk,
namun sama dalam samudra nurani, tiada perbedaan. Pendekatan yang
paling baik antar sesama umat Buddha adalah keakraban dalam
berkomunikasi dan saling pengertian, selalu mengembankan Kasih
sebagai peraktek nyata Ajaran Buddha. Janganlah kita
mempertentangkan perbedaan atau ngotot pada keberadaan dirinya yang
paling sempurna dan bersih atau suci. Perbuatan dari Nuranilah yang
paling benar dan suci yang tiada perbedaan dan pertentangan, seperti
surya-rembulan yang menyinari dan langit-bumi yang memberi tanpa
pamrih.Cobalah kita juga mengukur kemajuan batin dengan orang suci,
Buddha, Bodhisatva yang telah mengorbankan jiwa-raga, darah-air mata,
keringat dan harta benda untuk memberi kemakmuran kebahagiaan pada
kita dan apa yang kita perbuat untuk orang lain, sungguh malu bukan?
Dimana ya nuraniku.Semoga kita semakin reflek pada sekitar kita dan
maju dalam pembinaan batin.
Salam saya,
Sonika. |