|
Bhiksu Dutavira : Berbakti
Dalam Ulambana
BUDDHA telah
menyebarkan agama, tetapi kualitas Agama Buddha dalam penyebaran
lebih membutuhkan quality bukan quantity, kata YA. Bhiksu Dutavira
Mahastahvira ketika jumpa Pers, dalam rangka bulan ketujuh Imlek (Citgwee),
dalam jelang pemilihan Presiden RI pada putaran kedua, telah
menyelenggarakan kebaktian khusus dan menyampaikan pembabaran Dharma
yang berthemakan “ Berbakti dalam Ulambana “ di Balai Samudra,
Kelapa Gading-Jakarta Utara pada Jum’at 20/8/04.
Bhiksu Dutavira yang disapa Suhu Benny ini
menyadari, bahwa setiap orang mempunyai niat kemauan. Telah
dikatakan, niat dan kemauan setiap orang berbeda-beda, “disitulah
kuasa Tuhan, yang miskin mempunyai kemauan, yang kaya juga
mempunyai kemauan. Begitupun perjodohan didalam beragama yang mana
kami yakin, setiap orang mempunyai panggilan hati nurani yang
berbeda”,tuturnya. Dan ditambahkan Suhu,” itulah agama Buddha, cara
pengembangan ajarannya berdasarkan kesadaran. Bukan lagi berdasarkan
trik-trik promosi dan sebagainya”. kata Koordinator Dewan Sangha
Walubi.
Ditegaskan kembali
oleh Ketua Majabumi “Tanah Suci”, yang sebenarnya agama Buddha
bukan saja menyebarkan agama, tetapi Buddha menyebarkan dalam
konteks kesadaran. Inti poin agama Buddha adalah mengharapkan semua
makhluk berbahagia, dengan doktrin, jangan berbuat jahat, lalu
berbuat baik, sucikan hati dan pikiran, dan itulah inti ajaran
Buddha.
Dalam ceramahnya
YA.Bhiksu Dutavira Mahastahvira,
Orang yang mau
sukses dalam dunia harus banyak “ Berbakti Dalam Ulambana”, sehingga
dapat menumbuhkan kekuatan yang menggetarkan langit dan bumi, dengan
demikian sangat mudah memperoleh keberuntungan.
Bulan ketujuh Imlek
(Citgwee) adalah bulan berbakti untuk memohon, agar para leluhur
yang meninggal dunia dapat terlahir di tanah suci surga sukhavati.
Bagai Arhat Monggalana, sewaktu menolong ibunya yang berada di
neraka.
Buddha bersabda
dengan kekuatan ribuan orang, berdoa bersama akan menimbulkan
kekuatan yang berlipat ganda. Tidak ada artinya, kita sebagai
manusia / anak tidak berbuat sesuatu untuk leluhur / orangtua,
keluarga yang telah meninggal dunia. Untuk itu gunakanlah kesempatan
setahun sekali, disaat bulan ketujuh, mendoakan leluhur / orang tua
yang telah meningal dunia.
Tentu lebih
mempunyai arti, bila kita mengerti makna berbakti yang diajarkan
oleh Hyang Buddha.
Sekitar 1700 umat
Buddha Majabumi Tanah Suci, hadir melaksanakan kebaktian. Susunan
acara pukul 19:15 hingga 22:00, dimulai dengan pemanjatan Buddha
Smrti, dilanjutkan pembabaran Dharma Oleh YA.Bhiksu Dutavira
Mahastavira, kemudian umat bersama membaca Sutra Amitabha. Dengan
harapan semoga kekuatan para Buddha dapat menolong arwah para
leluhur dan makhluk di tiga alam samsara, agar semua makhluk dengan
kondisi karma masing-masing dapat tertolong , sehingga dapat
bertumimbal di alam Surga Sukhavati. Seperti hal nya Arhat
Monggalana menolong ibunya di alam neraka. Penutup, para Bhiksu
menyulut lilin teratai besar, turun dari singgasana memberikan
penerangan/lilin berbentuk teratai merah (padma) kecil kepada
seluruh umat Buddha yang hadir setelah mengikuti persembayangan
bersama, harapan umat, percaya berkat Buddha dan Kwan Im senantiasa
bersama kita. toto |