WARTA WALUBI


WARTA MAJELIS




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 

Bhakti Sosial WALUBI Gempa dan Tsunami di Aceh

 

Sukarelawan Walubi Evakuasi Korban Tsunami di Vihara Banda Aceh

TIDAK kurang 13 jenazah korban badai tsunami, di evakuasi Sukarelawan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) dengan pengamanan Paskhasau TNI-AU di Vihara Dharma Bhakti di Jalan Panglima Polim Banda Aceh, NAD pada Minggu 2/1/05. Dari sejumlah 13 jenazah berjenis kelamin laki-laki dan perempuan serta anak-anak tersebut tergeletak di dalam area Vihara, ada yang berada di pintu masuk Vihara, ada yang tertelungkup di samping kanan Vihara, di belakang, ada pula 2 korban bayi diperkirakan 7 bulan dan 5 bulan terbungkus kain berada dalam ember plastik yang satu berada dalam kardus dan selebihnya berada dalam tumpukan kayu. Kesemua jenazah sudah tak dapat dikenali, karena sudah rusak terbalut lumpur hitam pekat.

Jenazah korban tsunami 26/1/05 yang di evakuasi, telah mengeluarkan cairan, bau busuk, melebihi bangkai tikus. Kendala utama dihadapi Sukarelawan Walubi dan TNI AU adalah masker yang dipakai telah menembus aroma bau tak sedap.

Evakuasi jenazah dilakukan selama dua hari berturut turut, karena selama survey melakukan penyisiran, pengangkatan jenazah, air laut dalam keadaan pasang namun selalu disambut gempa yang tak henti-henti menggetarkan bangunan vihara. Selanjutnya semua jenazah dikumpulkan dibawa ke RS Kesdam Aceh melalui kendaraan Paskhas yang sebelumnya telah mendapat ijin Dansatgas AU. Dari hasil penyisiran terdapat dua orang korban yang masih hidup berada di Vihara, Amin (50 tahun) dan Asiong (18 tahun).

Asiong yang dijumpai di vihara sudah tak dapat bicara tergoncang stress, jiwanya terganggu lalu segera di larikan ke RS Kesdam, sebelumnya dibersihkan badannya yang kotor berpakaian lusuh, karena seminggu tak mandi demikian pakaiannya diganti. Sedangkan Amin yang berhasil selamat dari bahaya maut badai tsunami keseharian di vihara bertugas sebagai penjaga kendaraan parkir tamu itu, menuturkan dirinya selamat setelah menaiki lantai bangunan vihara tertinggi, mengetahui setelah orang-orang diluar berlarian berteriak “ air naik- air naik”. Satu hari setelah natal bersamaan dengan hari uposatha (15 Imlek/Capgo) dan pada saat itulah Vihara Dharma Bhakti, umat Buddha berdatangan berkewajiban melaksanakan persembahyangan puja bhakti dipagi hari. Kendati umat berkumpul ditempat ibadah berubah berlarian tunggang langgang. Amin pun sudah tak sadar memikirkannya dan dirinya hanya ingin mencari keselamatan untuk hidup, katanya.

Amin yang kelahiran Medan itu tidak mau beranjak dari viharanya dengan alasan ada tamu yang akan datang. Padahal area sekitar vihara masih kotor dan masih terasa bau bangkai entah berada diparit atau dilain tempat, entah belum ditemui.

Hampir setiap hari Amin yang phisikya sudah lemah dikontrol Satgaskes Walubi sambil diberi makanan siap saji, buah-buahan, air mineral dan makanan kering. (toto)



Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.