Temanggung, - Sembilan aliran dalam agama Buddha bersama-sama mengambil air suci di mata air Umbul Jumprit, Dusun Jumprit, Desa Jumprit, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu (21/5).
Upacara pengambilan air suci ini mengawali prosesi upacara Waisak yang akan diselenggarakan pada 24 Mei yang dipusatkan di Candi Borobudur , Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Upacara pengambilan air di mata air yang diyakini sebagai tempat pertapaan Pangeran Singobarong dari Kerajaan Majapahit itu dimulai oleh kelompok biksu dari aliran Theravada. Enam dari 25 biksu di kelompok tersebut datang dari Thailand .
Delapan kelompok lainnya menyusul. Mereka dari aliran Tantrayana Zhen Fo Zong Kasogatan, Buddha Mahayana, Pandita Buddha Maitreya, Buddha Tantrayana Satya Buddha Indonesia, Pandita Sabha Buddha Dharma Indonesia, Parisadha Buddha Dharma Nichiren Syosyu Indonesia, Majelis Rohaniwan Tri Dharma Seluruh Indonesia, dan Lembaga Keagamaan Buddha Indonesia.
Masing-masing kelompok mendapat jatah enam kendi tanah liat. Meski memakan waktu agak lama karena masing-masing aliran melakukan ritual sembahyang sebelum mengambil air, upacara di mata air yang berada di lereng Gunung Sumbing dengan ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut ini tetap berjalan khidmat.
"Air ini nanti dibawa ke Candi Mendut di Magelang. Pada puncak upacara Waisak di Candi Borobudur , air ini baru digunakan untuk memberkati umat," ujar Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu-Buddha Drs I Wayan Suwarjana.
Rasa malu
Menurut Suwarjana, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan Konferensi Agung Shangga Indonesia (KASI) yang belakangan ini berselisih telah bersepakat akan mengadakan perayaan Waisak secara nasional. Penyelenggaraan Waisak akan diadakan secara bergantian oleh kedua kelompok itu, tetapi tetap berpusat di Candi Borobudur .
"Tahun ini Walubi yang mengadakan Waisak. Tahun depan giliran KASI. Sejak ada kesepakatan ini, Presiden bersedia hadir pada upacara perayaan Waisak. Saya bisa memastikan Presiden akan hadir pada perayaan besok dan begitu juga dengan perayaan tahun depan yang akan diselenggarakan oleh KASI," paparnya.
Ia menambahkan, Walubi juga bersedia hadir pada perayaan Waisak di Istora Senayan, Jakarta , pada 24 Mei, yang diselenggarakan oleh KASI.
Tema yang diusung pada perayaan Waisak tahun ini, katanya, adalah malu berbuat jahat dan takut terhadap akibat perbuatan jahat, untuk membangun moral dan etika umat manusia.
"Dengan mengembangkan rasa malu ini, maka umat akan kembali ke ajaran Buddha. Tema ini diambil karena belakangan ini manusia sudah lupa dengan rasa malu dan berbuat jahat seenaknya," terangnya.
Kembali ke alam
Melalui pengambilan air ini, menurut Kepala Vihara Mahacetiya Unang Hermawan, Provinsi Jambi, Kamsai Sumano, kehidupan manusia akan kembali kepada alam.
"Air adalah satu dari empat unsur alam yang utama, yaitu api, tanah, dan angin. Keempat unsur alam ini merupakan pimpinan dalam kehidupan manusia," kata biksu asal Thailand ini.
Dengan perayaan Waisak ini, umat Buddha akan didorong kembali untuk menghayati kekuatan empat unsur alam tersebut. Kesadaran ini biasanya pudar kalau hati umat sudah mengandung kotoran batin yang terdiri dari moha atau kebodohan, lobha atau keserakahan, dan dosa atau kebencian.
"Dengan kembali melatih diri meningkatkan ibadah di perayaan Waisak ini, maka kita berusaha menghilangkan tiga kotoran batin ini. Dengan demikian, manusia tidak lagi didorong oleh emosi dan pikiran yang tidak benar, dan akan sadar bahwa alam tidak bisa dibuat," paparnya.
Kamsai Sumano mengatakan, keselarasan antara manusia dan alam sangat penting dalam kehidupan manusia.
"Kehidupan manusia berasal dari kekuatan alam yang datang dari empat unsur ini. Manusia memperoleh makan dari tanah, dan akan kembali ke tanah. Tanah bisa diibaratkan daging manusia, air adalah darah manusia, angin adalah oksigen yang dihirup manusia untuk hidup. Api juga sarana manusia untuk kembali ke alam, yaitu kremasi," urai Kamsai Sumano. (MDN)
|