WARTA WALUBI

Tahun 2012
Tahun 2011
Tahun 2010
Tahun 2009
Tahun 2008
Tahun 2007

Tahun 2006
Tahun 2005
Tahun 2004
Tahun 2003
Tahun 2002


WARTA MAJELIS
Tahun 2003
Tahun 2002




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 

Warta WALUBI

 

Api Alam Disakralkan di Candi Mendut

Magelang, Kompas - Menjelang perayaan upacara hari raya Trisuci Waisak, Selasa (24/5), umat Buddha di Indonesia melakukan prosesi penyakralan api alam di Candi Mendut, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (22/5) sore. Sebelumnya, api itu diambil dari sumber api alam di Mrapen, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, pada pagi harinya.

Selama pengambilan api di Mrapen juga dilakukan ritual oleh para biksu dari 12 majelis Buddha yang tergabung dalam Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi). Prosesi itu mulai dari pembacaan doa, parita, mantra, dan sutra yang dilakukan secara bergantian oleh para biksu dari setiap majelis.

Terlihat hadir pada prosesi itu Sekretaris Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu-Buddha Departemen Agama Cokorda Raka Krisnu, Bupati Grobogan Agus Supriyanto, Ketua Umum Walubi Siti Hartati Murdaya, dan Ketua Walubi Jateng David Hermanjaya.

Api alam ini kemudian dibawa ke Candi Mendut untuk disakralkan, sebelum diikutkan pada puncak upacara Waisak di Candi Borobudur, Selasa besok, pukul 03.17 WIB.

Menurut Biksuni Ju San, Sub Panitia Waisak di Candi Mendut, penyakralan api akan didahului dengan mengarak api mengelilingi Candi Mendut atau yang disebut ritual Pradaksina. Selanjutnya, api akan disemayamkan di dalam Candi Mendut hingga puncak perayaan Waisak.

"Api sebagai simbol penerangan ini kami sakralkan terlebih dahulu di Candi Mendut sebelum diikutkan pada puncak upacara Waisak di Candi Borobudur ," ujar Ju San. Sambil menunggu puncak perayaan Waisak, umat dari masing-masing aliran juga akan melakukan ritual di Candi Mendut.

Jalan yang baik

Biksu Tadisa Paramitha, Ketua Majelis Mahayana Budhis Indonesia , mengatakan, prosesi mengarak api alam dengan mengelilingi Candi Mendut adalah untuk menghormati Sang Buddha.

Selain untuk menghormati Buddha, mengelilingi candi adalah simbol roda dharma yang terus berputar. "Dengan roda Dharma terus berputar, maka agama Buddha bisa terus berjalan," jelasnya.

Ketua Umum Walubi Siti Hartati Murdaya mengatakan, api alam sebagai simbol spiritualitas Buddha Dharma memberikan penerangan batin umat manusia. Dengan demikian, manusia memiliki kekuatan gerak, inspirasi, dan semangat alami yang diajarkan Buddha.

Rencananya api alam ini akan diarak dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur melalui Candi Pawon, Senin ini pukul 15.00. Selanjutnya, pukul 17.00, rombongan prosesi akan memasuki Zona I Candi Borobudur hingga pukul 21.30 untuk mengikuti upacara Waisak 2549/2005.

Lepas upacara itu, umat Buddha akan melakukan upacara Pradaksina mengelilingi Candi Borobudur dengan membawa lilin dan obor. Hingga pukul 03.00 dini hari, umat akan melakukan meditasi bersama.

Pada pukul 03.17, akan dipukul gong pertama penanda menyambut detik-detik Waisak. Tiga menit kemudian, akan dipukulkan gong untuk kedua kalinya sebagai tanda meditasi selesai dan dilanjutkan dengan renungan Waisak. Upacara kemudian akan dilanjutkan dengan pemercikan air berkah Waisak kepada umat.

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.