|
Borobudur, Suasana hening selama sekitar 17 menit terasa saat para bhiksu dan umat Budha dari berbagai daerah memasuki detik-detik Waisak 2005 di pelataran utama Candi Agung Borobudur di Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah.
Detik-detik Waisak 2005 jatuh pada pukul 03.17menit 18 detik WIB. Sejak sekitar 17 menit sebelumnya para bhiksu dan umat melakukan meditasi dengan sikap tangan "anjali" secara khusuk.
Mereka melakukan meditasi detik-detik Waisak itu di depan altar utama yang didirikan di pelataran Candi Budha terbesar di dunia. Sedangkan Candi Borobudur terlihat megah dengan saputan kabut dini hari yang tersorot lampu dari berbagai sudut bangunan yang dibuat masa Dinasti Syailendra abad ke-8 itu.
Saat meditasi detik-detik Waisak itu, umat dan para bhiksu duduk bersila di karpet yang digelar di depan altar pelataran Candi Borobudur.
Sedangkan sejak Senin (23/5) pukul 23.00 WIB mereka secara khitmad melakukan prosesi pradhaksina yakni mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali sambil menyalakan ribuan lilin dan obor.
Usai pradhaksina, para bhiksu dari berbagai dewan sangha Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi) memimpin umatnya masing-masing melantunkan parita dan doa di depan altar megah dengan aneka hiasan yang di tengahnya diletakan berbagai sarana puja antara lain patung Budha, air suci, api dharma dan kitab suci.
Terlihat secara khusuk melakukan meditasi detik-detik Waisak Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Walubi Siti Hartati Murdaya dan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Walubi Jawa Tengah David Hermanjaya.
Para umat yang turut dalam meditasi detik-detik Waisak itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia sedangkan para bhiksu selain berasal dari berbagai vihara di Indonesia juga datang dari luar negeri terutama negara-negara yang mayoritas penduduknya memeluk Budha.
Perayaan Tri Hari Suci Waisak mengenang tiga peristiwa besar kelahiran Sidharta Gautama, Sidharta memeroleh pencerahan di bawah pohon Bodhi sehingga menjadi Budha dan mangkat Sang Budha Gautama.
Bhiksu Wongsin Labhiko Mahathera dalam renungan Waisak 2005 mengatakan, Waisak sebagai saat tepat bagi kaum Budhis untuk merenungkan ke dalam diri dan kembali bertanya tentang apa saja yang telah dilakukan untuk diri sendiri, sesama dan dunia.
Selain itu, katanya, selama Waisak ini kaum Budhis juga mulai merenungkan tentang kesungguhan berlindung kepada Sang Budha dalam kehidupan sehari-hari.
"Dan mengikuti teladan yang telah diberikanNya kepada kita, jika belum sekarang belumlah terlambat," katanya.
Ia menyatakan mengajak umat memancarkan cinta kasih kepada sesama makhluk dengan tidak merugikan sesama dan membantu sesama yang sedang tertimpa derita.
"Sudah saatnya kita menjadi sumber terang kebijaksanaan dan pelita cinta kasih di lingkungan sekitar kita. Jangan lagi saling iri dengan apa yang telah dicapai orang lain," katanya.
Usai meditasi detik-detik Waisak, para bhiksu memercikan air suci yang diambil dari Umbul Jumprit Kabupaten Temanggung Jateng kepada para umat.
Pada Senin (23/5) malam Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri perayaan Waisak di Lapangan Gunadharma sebelah Barat Candi Agung Borobudur yang antara lain didampingi Menteri Agama Muhammad M. Basyuni, Menteri Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi dan Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto.
Saat berpidato, Presiden SBY menyatakan terima kasih dan penghargaan kepada umat Budha karena telah menjalankan tugas kemanusiaan yang amat mulia baik di sejumlah daerah bencana alam di Indonesia beberapa waktu lalu.
"Setiap kali saya berkunjung ke Aceh, ke Nias, saya selalu bertemu dengan sukarelawan dari umat Budha yang bekerja siang dan malam, membantu saudara-saudaranya yang tengah mengalami kesulitan hidup yang begitu besar. Sebuah contoh yang baik untuk diteladani oleh kita semua," katanya.
Saat peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei lalu di Jakarta , katanya, dirinya telah menyerukan dan mengajak seluruh Bangsa Indonesia untuk tidak melaksanakan "Lima Jangan".
Yakni, katanya, pertama, jangan menjadi bangsa yang pesimis, seolah masa depan Indonesia "gelap, seolah Indonesia tidak akan maju seperti negara-negara maju lainnya.
"Jangan pesimis tetapi bersikaplah optimis," katanya.
Kedua, katanya, jangan menjadi bangsa malas tetapi giat bekerja dan bersemangat untuk membangun negara. Ketiga, jangan memiliki perasaan rendah diri, tidak memiliki keyakinan diri.
Tetapi, katanya, Bangsa Indonesia harus memiliki keyakinan diri akan kemajuan dan berkembang menuju masyarakat sejahtera. Keempat, jangan menjadi bangsa yang senang memermalukan dan memerolokan diri sendiri dan selalu membanggakan negara serta bangsa lain.
"Marilah kita bangga kepada bangsa sendiri sambil melakukan pembenahan dan membangun negara kita," katanya.
Kelima, katanya, jangan menjadi bangsa pemarah, bangsa yang senang melakukan kekerasan karena hidup tidak akan tenteram, suasana tidak akan harmonis dan negara tidak bisa membangun karena kondisi nasional terganggu.
"Di pelataran Candi Borobudur yang bersejarah ini, saya menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia, mari kita tinggalkan sifat dan sikap seperti itu, karena kalau kita tinggalkan,'insya Allah' kita akan menjadi bangsa yang menang, bangsa yang maju dalam tata hubungan internasional yang makin keras dewasa ini," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. |
|