WARTA WALUBI

Tahun 2012
Tahun 2011
Tahun 2010
Tahun 2009
Tahun 2008
Tahun 2007

Tahun 2006
Tahun 2005
Tahun 2004
Tahun 2003
Tahun 2002


WARTA MAJELIS
Tahun 2003
Tahun 2002




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 

Umat Buddha kehilangan Bhikkhu Kalañuta.

 

Umat Buddha kehilangan Bhikkhu Kalañuta.

Sabbe Sankhāra Aniccati
Umat Buddha kembali kehilangan seorang bhikkhu.
Bhikkhu Kalañuta seorang Bhikkhu yang bertemperamen keras dalam memperjuangkan Buddha Dharma “Berani berjuang, berani mati demi ajaran Sang Buddha”, ujar almarhum ketika masih hidup, mengobarkan semangat dalam mengembangkan ajaran agama Buddha di Indonesia. Misi Dharmanya yang ditempuh diperjuangkan tidak sungkan-sungkan dihadapan para Bhikkhu, samanera dan Umat Buddha. Sangat luar biasa yang dilakukan almarhum yang tidak pesimis dalam setiap mem-babarkan Dharma di vihara. Dengan suara lapang, tegas, lugas, tandas lantang dalam setiap berbicara yang di ucapkan.

Awal Kalam Viryo Atmojo
Pada tahun 1966 Kalam Viryo Atmojo, waktu itu sebagai Upasaka Dharmarakhita merintis perkembangan agama Buddha di Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara.
Pada tahun 1967 Upasaka Dharmarakhita memutuskan menjadi sramana. Terkadang tempat ibadah bisa di multi fungsikan (waktu itu belum permanen) dalam penggunaan. Hari-hari biasa diisi oleh pengajian siar islam, khusus Rabu pemanjatan doa paritta-parita suci dan pembabaran Dharma.
Betapa kuatnya hubungan keharmonisan dalam kerukunan hidup umat beragama yang dibawa koordinasi Romo Kalam. Tak ada almarhum waktu itu sulit berkembang agama Buddha di Kabupaten Jepara, karena dalam pengakuannya sudah beberapa kali aparat keamanan memanggil Kalam Viryo Atmojo yang notabene mempertanggung jawabkan ajaran agama Buddha yang dipimpinnya itu. Dengan dasar yang kuat Kalam mempertahankan kebenaran sejati ajaran Buddha, sehingga dengan jerih payahnya Alm. berhasil sukses, setelah memaparkan secara autentik Buddha Dharma di hadapan para aparat kemananan.
Bodhicitta B. Kalañuta
Kemajuan pesat seorang kepala desa Tunaan yang ksatria memiliki Bodhicitta. Semasa menjabat kepala desa hingga akhirnya mendapatkan gelar dijuluki guru spiritual Bhikkhu Kalañuta .

Saat-saat kritis
Bhikkhu kelahiran Jepara, Jum'at Wage 10 Desember 1938 mempunyai nama Kalam Viryo Atmojo anak kelima dari tujuh bersaudara itu, setelah menjadi abdi Dharma sering menjalankan penyepian, tidak makan dan minum, sehingga berat badannya semakin menurun. Kondisinya lemah, kedua pandangan kelopak matanya menjorok kedalam, karena menderita internis, mata menjadi kabur. Demikian dibawa ke RS Mata. Tidak menemukan hasil berarti setelah kerumah sakit. 28 Mei 2005 memutuskan untuk pulang ke Jepara, sekalian akan menetap vassa di desa kata almarhum. Namun Minggu 10 Juli 2005 pukul 17:00, Bhante melepaskan nafas terakhir. Pada Selasa 12 Juli 2005 Alm. Bhante Kalañuta di kremasi di Juwana, Kec. Juwana Kabupaten Pati-Jawa Tengah.

Kalam Viryo Atmojo meninggalkan keduniawian, untuk menjadi samanera berangkat ke Thailand pada 4 Mei 2000, berlanjut upasampada menjalankan hidup kebhikhuan tanggal 25 Januari 2001.
Putra dari Murjoamad dan Karipah, tamatan sekolah dasar sangat pandai berdalang dalam acara ruwatan, sebelumnya telah menjadi Kepala Desa Tunaan, Kecamatan Keling Kabupaten Jepara, dengan dua Vihara binaannya Loka Dhamma I dan Loka Dhamma II.
Dirinya ingin menjadi Bhikkhu.
Awal pemula Bhikkhu Kalañuta belum mengenal, tahu yang namanya agama Buddha, tetapi lambat laun menjadi berpikir serius setelah mendapat kekuatan batin fenomenal, semakin mengental tebal rasa penasarannya di lubuk hati untuk memiliki ajaran, lalu melakukan misi suci perjalanan, pergi ke lorong Gunung Muria Ratawu di Kudus. Disitu kemudian bertemu dan diterima Suradi guru spiritual. Pada saat itu pula guru spiritual memberinya buku kepada alm. Kalam sebuah buku berjudul “Buddha Jayanti”. Selanjutnya menembusi Romo Resowardoyo untuk melengkapi kesempurnaan buku, tetapi usahanya sia-sia, tak berjalan mulus.
Pesan terakhir Bhante
Bhante memberi pesan-pesan terakhir untuk siswanya, “jika saatnya nanti Bhante meninggal dunia, mohon buku “Buddha Jayanti” di letakan dikepala Bhante. Dan mohon agama Buddha terus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari” tutur Alm. Bhikkhu Kalañuta.


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.