PERKAWINAN massal Buddhis (umat Buddha) diselenggarakan Badan Koordinasasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Jakarta Rabu, 29 Juni 2005 dalam rangka menyambut Hari Keluarga Nasional ke 12. Perkawinan Buddhis secara massal tersebut merupakan perkawinan perdana yang dilakukan BKKBN terhadap umat beragama Buddha. Acara tata upacara agama Buddha tersebut, BKKBN telah menyerahkan sepenuhnya pada Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI). Kemudian WALUBI mempercayakan Majelis Umat Buddha Mahayana Indonesia (MAJUBUMI) untuk melaksanakan memimpin upacara tradisi ritual pemberkatan perkawinan secara Mahayana.
Sepuluh pasang mempelai berpakaian kebaya lengkap dan pria berpakaian batik rapih, sejak pagi telah siap berkemas kemas untuk melangsungkan pernikahan resmi secara agama Buddha di Gedung BKKBN. Diawali upacara ritual pemberkatan nikah yang dipimpin langsung oleh YM. Bhiksu Dhyanavira Mahasthavira yang sengaja didatangkan dari Sumatera Utara, didampingi Bhiksuni Viryaguna, Bhiksuni Viryasastra dan Bhiksuni Cittakusala.
Doa mantra dan gatha pujian para Buddha dikumandangkan, semua umat pasangan mempelai mengikuti, menyanyikan bersama lagu “Pendupaan” yang merupakan lagu khas Mahayana, sebagai membuka awal, diiringi koor paduan sura disertai organ tunggal Majelis Umat Buddha Mahayana Indonesia (MAJUBUMI) anggota WALUBI. Sebelum dimulai, Bhiksu dan para Bhiksuni dijemput oleh putra putri altar untuk menuju ruang dharmasala darurat, kemudian sepuluh pasang pengantin yang dinikahkan siap berdiri menghadap altar melakukan penghormatan dengan menganggukkan kepala kepada Bhiksu dan para Bhiksuni. Upacara pemberkatan berjalan khidmat selama empatpuluh menit tanpa rintangan.
Ritual upacara akhirnya ditutup dengan pemercikan air berkah yang disakralkan oleh Bhiksu Dhyanavira dan foto bersama, dilanjutkan penandatanganan prasetya serta pengisian formulir Akta Nikah dari Catatan Sipil secara Sah yang diakui Negara.
Agus warga Legok salah seorang mempelai yang baru menerima pemberkatan dari Bhiksu, bersyukur dirinya merasa agak lega setelah menerima pemberkatan untuk memperoleh Akta Nikah resmi dari Catatan Sipil. Sementara Hartono asal Desa Cijantra, Tangerang menginginkan agar pelaksanaan Perkawinan massal ini, BKKBN tidak hanya sekali memberikan kepada umat Buddha.” Walau umat Buddha meski yang menikah di tempat saya sudah banyak, namun baru sampai tahap pemberkatan, jadi engga punya Akta Nikah, karena tak punya biaya’ tuturnya.
Memang tidak semua umat Buddha bisa membuat Akte Nikah yang nota bene katanya hanya 150.000 rupiah, padahal pada kenyataannya, bisa mencapai diatas nilai 500 ribu rupiah. Harapan umat Buddha, BKKBN dapat membantu memudahkan selain merealisasikan pencatatan sipil buat warga negara yang berpenghasilan pas-pasan dan terlahir dinegerinya sendiri.” Dia pun setara berhak dapat menerima hak yang sama kalau sudah dianggap sebagai Warga Negara Indonesia, semustinya ?” kilah seorang tokoh di Walubi.
WALUBI Dukung HARGANAS Beri Pelayanan Kesehatan Gratis
DALAM rangka kegiatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke 12, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) memberikan dukungan pelayanan kesehatan umum, gigi dan khitanan massal bagi warga yang tak mampu berobat di Wilayah Jakarta Timur, tepatnya di Kecamatan Pulo Gadung. 29/6/05.
Sejumlah 637 pasien terlayani pada acara yang singkat berlangsung selama sehari, kegiatannya dibuka oleh Rini Sutiyoso Ketua PKK DKI-Jakarta/ Istri Gubernur DKI-Jakarta.dihadiri juga ibu Ma’aruf Mendagri, Wagub DKI Fauzi Bowo, Tim Koordinator Baksos Walubi-Harganas Hendra Haryadi dan Muspika se-Jakarta Timur.
WALUBI bersama BKKBN pada Harganas ke 12 di lokasi Kecamatan Pulo Gadung berupaya memberi kesempatan pengobatan Gratis buat warga masyarakat setempat, agar dapat memanfaatkan even ini dengan sebaik-baiknya.
Bakti sosial kemanusiaan Walubi adalah membangun masyarakat Indonesia lebih sehat dan sejahtera, tanpa melihat dari golongan, suku, agama dari mana berasal. Sukarelawan Walubi bersifat arif tidak ada perbedaan atau dibeda-bedakan, namun Walubi dalam Dharma Negara menginginkan kebersamaan, memerangi penyakit meringankan beban masyarakat akan penderitaan berkepanjangan. Walubi selalu memberi yang terbaik dalam karya bhakti sosial mulai penanggulangan bencana, membuka rumah sakit lapangan, membuka dapur umum, memberi pelayananan kesehatan mobile dari daerah ke daerah.
SEMOGA WALUBI EKSIS DAN SUKSES DALAM MEMBANTU PELAYANAN KESEHATAN GRATIS. MENDUKUNG PEMERINTAH AGAR RAKYAT HIDUP SEHAT DAN SEJAHTERA.
|