|
|
PERAYAAN Cap Go Meh tahun 2557 yang ketiga kali di lokasi pecinan Jakarta. 14 hari setelah Imlek perayaan Cap Go Meh lebih meriah dibanding tahun tahun sebelumnya. Sekitar seratus ribu penonton memadati ruas jalan yang diliwati prosesi kirab pawai budaya mulai dari Jl. Kemenangan III,Jl. Toko Tiga, Jl. Asemka, Jl. Pintu Besar, Jl. Pos kota, Jl. Museum Fatahillah, Jl. Stasiun Beos, Jl. Glodok, Jl. Hayam Wuruk, Jl. Gajah Mada dan berakhir di Klenteng Toa Se Bio Kemenangan Jakarta Barat.
Acara pawai budaya dibuka dengan memukul genderang tambur barong oleh Wakil Gubernur DKI-Jakarta H. Fauzi Wibowo didampingi Walikota Jakarta Barat Fajar Panjaitan, Direktur Urusan Agama Buddha dan Pendidikan Departemen Agama RI, Drs. Djoko Wuryanto S.Sos MM serta anggota DPRD DKI-Jakarta Ernawati Sugondo.di pelataran Museum Fatahillah Jakarta.
Dalam jajaran Pawai Budaya, Dewan Pengurus Daerah Perwakilan Umat Buddha Indonesia (DPD WALUBI) DKI-Jakarta, berada pada barisan kedua memimpin jalannya kirab setelah marching band STPDN Sumedang dan garuda pancasila.
Bhiksu Tadisa Paramita Sthavira, saat dijumpai mengikuti forum 150 para tokoh agama dari 17 negara di Hilton Jakarta mengatakan, perayaan Cap Go Meh tentu bukan sekadar pawai budaya atau kegiatan ritual saja, melainkan juga harus dikembangkan atau ditingkatkan menjadi daya tarik untuk tujuan pariwisata, disamping dijadikan anjang silahturahmi antar para tokoh agama yang beragam, sekaligus untuk melestarikan budaya / tradisi orang Tionghoa yang masih dipercaya dan mempunyai filosofi keluhuran, demi kebaikan umat manusia dalam mengarungi kehidupan maya didunia.
Dukungan Walubi DKI-Jakarta dibawah tangan Lim Wira Wijaya dan Irwan Idris dibawah koordinator Alex Tumondo (Martrisia) berjalan kaki mengikuti rute panitia dengan spanduk tegar, bertuliskan “Pawai Budaya menumbuhkan sikap solidaritas dan mengimplementasikan kultural Bhinneka Tunggal Ika”. Dilengkapi panji Buddhis dan beberapa pataka yang dibawah lebih dari sepuluh pemuda Satgas Walubi antara lain ; Martrisia , Mahabudhi, Madha Tantri, Majabumi Tanah Suci, Majubuthi, dan Kasogatan.
Perayaan Cap Go Meh merupakan rangkaian peringatan tahun baru Imlek yang jatuh pada Minggu tanggal 29 Januari 2006. Upacara doa ritual persembahyangan umat Tridharma di Toa Se Bio dimulai jam 14:00 terlebih dahulu memohon kepada Cheng Goan Cheng Kun rupang dewa penguasa Toa Se Bio yang sudah di tandu siap untuk diberangkatkan. Dewa tersebut masuk ke ta-thung (org. yang mudah kerasukan roh dan dapat mengeluarkan kesaktiannya) kemudian naik ketandu yang lain untuk diarak berkeliling. Umat yang hadir memohon saat itu dapat sejumlah uang (Hwi Sit). Hwi Sit tersebut digunakan sebagai modal untuk kelancaran usaha di tahun yang baru. Cheng Goan Cheng Kun adalah dewa dan leluhur kepercayaan masyarakat Tionghoa. Konon barang siapa yang menggotong toapekong atau salah satu dewa akan mendatangkan berkah. Dewi Welas Asih Kwan Im juga digotong puluhan para wanita lajang sampai paru baya. Dikatakan Aling yang katanya akan berusaha mudah2an memperoleh jodoh.
Partisipasi dari berbagai klenteng juga turut menyemarakan Cap Go Meh di Jakarta Barat. Datang dari Jawa Barat, Jatinegara, Kebayoran Lama, Kapuk Kebon Jahe, Bandengan, Tanah Abang dsb.
Pada tahun Anjing tahun ini prosesi Cap Go Meh lebih ramai selain di Jakarta juga dirayakan di Garut, Surabaya, Cirebon, Singkawang, Semarang, Jogjakarta, dll.
|
|