WARTA WALUBI

Tahun 2012
Tahun 2011
Tahun 2010
Tahun 2009
Tahun 2008
Tahun 2007

Tahun 2006
Tahun 2005
Tahun 2004
Tahun 2003
Tahun 2002


WARTA MAJELIS
Tahun 2003
Tahun 2002




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Gempa Yogyakarta dan Klaten Jawa Tengah


Kelahiran, sakit, umur tua, kematian dan bencana sungguh tidak bisa direncanakan, semua terjadi diluar dari daya pikir manusia awam, akan tetapi manusia hanya bisa meminimalisir dari semua kejadian itu. Bencana datang dengan tiba-tiba, tidak satu orang pun yang mampu membendungnya, dahsyatnya kekuatan gempa yang berdampak pada luluh lantaknya bangunan serta membuat cedera banyak orang bahkan kematian kepada mereka yang tidak mampu meloloskan diri dari bencana ini.

Gempa bumi yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 dengan kekuatan 5,9 scala richter yang telah menguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah menghancurkan rumah-rumah penduduk dan berbagai infrasturktur penting lainnya. Banyaknya korban yang meninggal dan perlu segera mendapatkan perawatan, Walubi sebagai organisasi sosial merasa terpanggil untuk turut membantu meringankan beban masyarakat di Yogyakarta dan Jawa Tengah, baik membantu dalam bidang kesehatan medis maupun memberikan bantuan dalam bentuk materi yang berupa pembagian bahan material bangunan.

Sesuai dengan AD/ART WALUBI dalam Bab IV pasal 7 butir ke-4 yaitu Meningkatkan kerjasama yang mantap antar umat Buddha Indonesia dalam mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negara melalui aksi sosial kemanusiaan sebagai pengamalan dharma negara. Dalam kesempatan ini Walubi berusaha untuk memberikan bantuan yang semaksimal mungkin, kepada korban gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah baik bantuan operasional alat transportasi demi lancarnya kegiatan sehingga berjalan dengan baik. Bantuan materi yang dapat diberikan secara langsung adalah pembagian nasi bungkus kepada para korban, mie instan, selimut, alat penerangan berupa lilin, perlengkapan mandi, pembagian kompor minyak tanah dan perlengkapan masak lainnya, pembagian tenda, beras, selimut dan masih banyak lainnya. Pada awal pasca terjadinya gempa, keadaan masyarakat memang sangat memprihatinkan, karena sebagian perlengkapan rumah tangga hancur akibat tertimpa bangunan.

Tidak banyak yang dapat dilakukan Walubi dalam misi kemanusiaan ini, masih banyaknya kekurangan dalam penyampaian bantuan dan tidak terpenuhinya semua kebutuhan masyarakat korban gempa dan hal itu adalah sudah menjadi kewajaran, karena terlalu banyaknya masyarakat korban gempa, sehingga tidak mungkin Walubi dalam memberikan bantuan dapat memenuhi semua kebutuhan masyarakat tetapi setidaknya bantuan Walubi ini dapat turut meringankan beban bagi mereka yang telah tertolong.

Kepada semua pihak yang telah membantu jalannya misi kemanusiaan Walubi dalam bencana gempa bumi di D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah, kami ucapkan terima kasih, semoga amal kebajikan yang telah kita lakukan bersama ini dapat membawa kebahagiaan dalam kehidupan yang kita rasakan sekarang ini maupun dalam kehidupan di masa yang akan datang.

Kegiatan Walubi juga didukung dari para donatur, bantuan yang diberikan diantaranya peminjaman 15 mobil ambulan oleh Bapak Anton Setiawan, peminjaman mobil ambulan oleh Bapak David Hermanjaya (NEW ARMADA). Bantuan lainnya adalah dari PT. Altrak 1978 meminjamkangenset, PT. BBS menyumbang perlengkapan penerangan berikut genset, , JIExpo dengan meminjamkan alat transportasi berupa kendaraan roda dua dan kendaraan grobak roda tiga. PT. Intraca, PT. BERCA, CCM Property, NASA, HASI, KBI, Jakarta Land, MBC (Pak Jumo) menyumbangkan semen dan terpal, UNEX (Bapak Budiman). Bantuan obat-obatan juga diberikan dari PT. Saras Subur Ayu Jakarta dengan menyumbangkan obat YUNAN BAIYO, air mineral disumbangkan oleh PT. MOSESS MITRA SETIA, dan CV. OMJ Magelang, serta bantuan dari majelis-majelis yang tergabung dalam Perwakilan Umat Buddha Indonesia.

Kegiatan kemanusiaan ini dapat terselenggara dengan baik karena dukungan alat transportasi yang berupa ambulan maupun armada pengangkut logistik, dan untuk memudahkan mobilisasi sukarelawan untuk menjangkau lokasi yang tidak dapat dilalui mobil maka digunakan sepeda motor. dalam hal ini PT. JIExpo telah memberikan bantuan berupa 22 kendaraan bermotor yang meliputi 12 motor bak roda tiga, 5 buah sepeda motor trail, dan 5 buah kendaraan bermotor bebek. Dengan adanya kendaraan bermotor selain memudahkan pengoprasiannya juga lebih mempertimbangkan efesiensi dalam penggunaan bahan bakar. Untuk mengangkut logistik dengan jarak dekat kendaraan roda tiga (bak terbuka) sangat membantu sekali, selain dapat membawa personil lebih dari 4 orang. Dalam keadaan darurat, kendaraan roda tiga ini dapat digunakan untuk mengevakuasi pasien ke rumah sakit terdekat. Sedangkan untuk membantu masyarakat dalam membersihkan puing bangunan di lokasi bencana Walubi juga memberikan bantuan berupa 10 grobak sorong di Gantiwarno, Gersikan, Klaten dan 5 grobak di Canden, Kecamatan Jetis.

Untuk mengevakuasi pasien baik yang patah tulang maupun pasien yang mengalami luka juga digunakan kendaraan ambulan. PT. TUNAS RIDEAN telah menyumbangkan 15 kendaraan kijang kapsul dan panther, selanjutnya kendarantersebut “disulap” menjadi kendaraan ambulan dengan terlebih dahulu membuka jok belakang untuk dipasang velbed atau tandu, sehingga pasien bisa di bawa dengan posisi tidur. Selain itu kendaraan ambulan juga disumbangkan dari PT. NEW ARMADA dan kendaraan ambulan milik Walubi. Bantuan berupa logistik dan sifatnya segera didistribusikan kepada korban gempa tim sukarelawan Walubi segera mendistribusikannya, tetapi bantuan yang sifatnya tidak segera didistribuskan maka barang-barang tersebut disimpan di gudang Walubi. Gudang yang digunakan adalah berukuran 30 x 70 meter, sebelumnya gudang ini digunakan saat acara kremasi Bhante Vin Vijjano Mahathera dan berlangsung pada tanggal 28 Mei 2006, bertempat di perbukitan Dagi komplek candi Borobudur Magelang Jawa Tengah. Sebelum acara kremasi berlangsung tepatnya tanggal 27 Mei 2006 pagi hari terjadi bencana yang tidak diduga yaitu gempa dengan kekuatan 5,9 SR di Yogyakarta dan Klaten Jawa Tengah. Tanggal 27 siang harinya, Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Dra. S. Hartati Murdaya langsung meluncur ke tempat kejadian, dengan melihat kondisi yang sebenarnya dan begitu banyaknya korban yang luka dan meninggal, hingga rumah sakit setempat tidak mampu menampung, maka ketua umum Walubi menginstruksikan kepada relawan dan umat Buddha yang menghadiri acara kremasi setelah acara selesai agar langsung menuju ke lokasi bencana itu. Tanggal 28 Mei 2006, kira-kira jam 07.00 pagi diusunglah tenda-tenda dari Lokasi Kremasi menuju Yogyakarta. Tim medis yang sudah standby di Borobudurpun segera diluncurkan. Sesampainya di lapangan Trirenggo, Bantul tim dokter langsung membuka praktek, dan secara bersamaan pasien juga berdatangan untuk berobat. Beberapa warga yang rumahnya rusak berat mereka mencari tempat untuk berteduh, sehari setelah terjadi gempa yaitu pada Minggu sore hujan mengguyur kota Bantul selama 2 hari berturut-turut, tenda Walubi yang semula akan di jadikan sebagai rumah sakit lapangan,tidak luput dijadikan tempat berteduh sementara oleh para korban dan keluarganya. Keadaan pada saat itu memang benar-benar menyedihkan, apalagi bagi mereka yang memiliki anggota keluarga turut menjadi korban meninggal, baik itu ayah, ibu, adik, keponakan dan lain sebagainya. Mereka tidur dengan menggunakan peralatan tidur seadanya, bahkan diantara mereka banyak yang tidak bisa beristirahat. Bagi mereka yang memiliki anak balita lebih mementingkan kenyamanan anaknya untuk bisa beristirahat.

Setelah terjadi gempa konsumsi menjadikan masalah yang utama, sebelum bantuan dari para donatur sampai ke lokasi bencana terdengar isu penjarahan, akan tetapi dengan kesigapan aparat keamanan masalah itu segera dapat diatasi. Selang beberapa hari satu persatu donatur mulai berdatangan mengirimkan berbagai bahan pokok, baik berupa terpal, makanan, dan perlengkapan tidur dan juga tim medis. Walubi yaitu dengan misi sosialnya dengan diketuai oleh Dra. S. Hartati Murdaya langsung memberikan bantuan berupa selimut, alat penerangan dan perlengkapan lainnya.

Kegiatan Walubi juga didukung dari para donatur, bantuan yang diberikan diantaranya peminjaman 15 mobil ambulan oleh Bapak Anton Setiawan, peminjaman mobil ambulan oleh Bapak David Hermanjaya (NEW ARMADA). Bantuan lainnya adalah dari PT. Altrak 1978 meminjamkangenset, PT. BBS menyumbang perlengkapan penerangan berikut genset, , JIExpo dengan meminjamkan alat transportasi berupa kendaraan roda dua dan kendaraan grobak roda tiga. PT. Intraca, PT. BERCA, CCM Property, NASA, HASI, KBI, Jakarta Land, MBC (Pak Jumo) menyumbangkan semen dan terpal, UNEX (Bapak Budiman). Bantuan obat-obatan juga diberikan dari PT. Saras Subur Ayu Jakarta dengan menyumbangkan obat YUNAN BAIYO, air mineral disumbangkan oleh PT. MOSESS MITRA SETIA, dan CV. OMJ Magelang, serta bantuan dari majelis-majelis yang tergabung dalam Perwakilan Umat Buddha Indonesia.

Pengangkutan logistik dan untuk memudahkan mobilisasi sukarelawan untuk menjangkau lokasi yang tidak dapat dilalui mobil maka digunakan sepeda motor maupun motor gerobak roda tiga, dalam hal ini PT. JIExpo telah memberikan bantuan berupa 22 kendaraan bermotor yang meliputi 12 motor bak roda tiga, 5 buah sepeda motor trail, dan 5 buah kendaraan bermotor bebek. Dengan adanya kendaraan bermotor selain memudahkan pengoprasiannya juga lebih mempertimbangkan efesiensi dalam penggunaan bahan bakar. Untuk mengangkut logistik dengan jarak dekat kendaraan roda tiga (bak terbuka) sangat membantu sekali, selain dapat membawa personil lebih dari 4 orang. Dalam keadaan darurat, kendaraan roda tiga ini dapat digunakan untuk mengevakuasi pasien ke rumah sakit terdekat. Sedangkan untuk membantu masyarakat dalam membersihkan puing bangunan di lokasi bencana Walubi juga memberikan bantuan berupa 10 grobak sorong di Gantiwarno, Gersikan, Klaten dan 5 grobak di Canden, Kecamatan Jetis.

Untuk mengevakuasi pasien baik yang patah tulang maupun pasien yang mengalami luka juga digunakan kendaraan ambulan. PT. TUNAS RIDEAN telah menyumbangkan 15 kendaraan kijang kapsul dan panther, selanjutnya kendarantersebut “disulap” menjadi kendaraan ambulan dengan terlebih dahulu membuka jok belakang untuk dipasang velbed atau tandu, sehingga pasien bisa di bawa dengan posisi tidur. Selain itu kendaraan ambulan juga disumbangkan dari PT. NEW ARMADA dan kendaraan ambulan milik Walubi. Bantuan berupa logistik dan sifatnya segera didistribusikan kepada korban gempa tim sukarelawan Walubi segera mendistribusikannya, tetapi bantuan yang sifatnya tidak segera didistribuskan maka barang-barang tersebut disimpan di gudang Walubi. Gudang yang digunakan adalah berukuran 30 x 70 meter, sebelumnya gudang ini digunakan saat acara kremasi Bhante Vin Vijjano Mahathera dan berlangsung pada tanggal 28 Mei 2006, bertempat di perbukitan Dagi komplek candi Borobudur Magelang Jawa Tengah. Sebelum acara kremasi berlangsung tepatnya tanggal 27 Mei 2006 pagi hari terjadi bencana yang tidak diduga yaitu gempa dengan kekuatan 5,9 SR di Yogyakarta dan Klaten Jawa Tengah. Tanggal 27 siang harinya, Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Dra. S. Hartati Murdaya langsung meluncur ke tempat kejadian, dengan melihat kondisi yang sebenarnya dan begitu banyaknya korban yang luka dan meninggal, hingga rumah sakit setempat tidak mampu menampung, maka ketua umum Walubi menginstruksikan kepada relawan dan umat Buddha yang menghadiri acara kremasi setelah acara selesai agar langsung menuju ke lokasi bencana itu. Tanggal 28 Mei 2006, kira-kira jam 07.00 pagi diusunglah tenda-tenda dari Lokasi Kremasi menuju Yogyakarta. Tim medis yang sudah standby di Borobudurpun segera diluncurkan. Sesampainya di lapangan Trirenggo, Bantul tim dokter langsung membuka praktek, dan secara bersamaan pasien juga berdatangan untuk berobat. Beberapa warga yang rumahnya rusak berat mereka mencari tempat untuk berteduh, sehari setelah terjadi gempa yaitu pada Minggu sore hujan mengguyur kota Bantul selama 2 hari berturut-turut, tenda Walubi yang semula akan di jadikan sebagai rumah sakit lapangan,tidak luput dijadikan tempat berteduh sementara oleh para korban dan keluarganya. Keadaan pada saat itu memang benar-benar menyedihkan, apalagi bagi mereka yang memiliki anggota keluarga turut menjadi korban meninggal, baik itu ayah, ibu, adik, keponakan dan lain sebagainya. Mereka tidur dengan menggunakan peralatan tidur seadanya, bahkan diantara mereka banyak yang tidak bisa beristirahat. Bagi mereka yang memiliki anak balita lebih mementingkan kenyamanan anaknya untuk bisa beristirahat.

Masalah konsumsi setelah terjadi gempa juga menjadikan masalah, sebelum bantuan dari para donatur sampai ke lokasi bencana terdengar isu penjarahan, akan tetapi dengan kesigapan aparat keamanan masalah itu segera dapat diatasi. Selang beberapa hari satu persatu donatur mulai berdatangan mengirimkan berbagai bahan pokok, baik berupa terpal, makanan, dan perlengkapan tidur dan juga tim medis. Walubi yaitu dengan misi sosialnya dengan diketuai oleh Dra. S. Hartati Murdaya langsung memberikan bantuan berupa selimut, alat penerangan dan perlengkapan lainnya.

Dengan kesigapan tim kesehatan Walubi, tidak lama setelah terjadinya gempa, Walubi berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat korban gempa, khususnya kebutuhan kesehatan. Pada tahap awal dibangunlah posko Utama dan posko-posko satelit, setelah Posko Utama di Lapangan depan Rumah Dinas Bupati Bantul berdiri, tepatnya tanggal 28 Mei 2006 posko satelit Walubi juga didirikan menyebar di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Posko-posko satelit yang terletak di daerah Kabupaten Bantul dan Kabupaten Klaten tersebut ada 10 titik. Terdapat 6 titik di wilayah Bantul yang meliputi Posko Srihardono Kec. Pundong, Posko Gersik Kec. Bambanglipuro, Posko Imogiri Kec. Imogiri, Posko Canden Kec. Jetis, Posko Bawuran Plered, Posko Piyungan Kec. Piyungan. Sedangkan Posko didaerah Klaten ada 4 titik sebagai berikut : Posko Wedi Kec. Birit, Posko Pasung Kec. Bayat, Posko Gesikan Kec. Gantiwarno, Posko Prambanan Kec. Prambanan. Tim kesehatan Walubi melakukan kerjasama dengan berbagai pihak antara lain, Tim medis TNI AU, Dep. Kes, Medilor dari Perancis, Tim medis dari Malaysia, China, Cuba, Polandia, Rumah Sakit Pluit, Rumah Sakit Kelapa Gading. Kegiatan yang dilakukan adalah mengadakan pengobatan langsung ke lokasi tempat terjadinya bencana gempa di berbagai wilayah kabupaten Bantul dan Klaten-Jawa Tengah. Terhitung sejak tanggal 28 Mei 2006 hingga tanggal 10 Juli 2006, tim kesehatan Walubi telah menangani 19.609 pasien rawat jalan, 122 evakuasi, 7 pasien yang mendapat penanganan fisio terapi, dan 2 pasien dengan penanganan psikis serta pasien rawat inap, (data rekapitulasi pasien terlampir).

Pasca terjadinya gempa, pasien yang memerlukan bantuan sangat membludak, baik yang minta diantarkan ke rumah sakit ataupun diantarkan dari rumah sakit ke rumah mereka sendiri untuk mendapatkan perawatan di rumah. Karena rasa belas kasihan yang tinggi dari para tim relawan Walubi sehingga pelaksaanaan evakuasi dapat berjalan dengan lancar. Kinerja dari tim dokter dan tim relawan serta paramedis berjalan dengan baik karena sebelum melakukan tugas kemanusiaan ini terlebih dahulu mereka sudah diberikan tatacara dalam menangani pasien, baik sikap, sopan santun, maupun keramahan sehingga pasien yang dilayani dapat merasakan kenyamanan. Setiap pagi mobil ambulan dengan membawa tim dokter mendatangi posko-posko satelit untuk melakukan tugas kemanusiaan di bidang kesehatan. Kegiatan rutin ini juga di dukung oleh tim medis dari tim dokter Walubi sendiri, Tim medis TNI AU, Dep. Kes, Medilor dari Perancis, Tim medis dari Malaysia, China, Cuba, Polandia, Rumah Sakit Pluit, Rumah Sakit Kelapa Gading.

Rata-rata pasien yang datang ke posko satelit Walubi 100 pasien perhari. Mereka kebanyakan pasien rawat jalan dan apabila ada pasien yang perlu mendapatkan perawatan yang serius, pasien biasanya di rujuk ke rumah sakit lapangan Malaysia, China, Cuba dan Rumah Sakit Pemda setempat, baik rumah sakit Panemebahan Senopati, RS. Bethesda, Rs. Panti Rapih dan RS. Sardjito dengan menggunakan ambulan yang sudah standby di posko satelit. Setelah frekuensi pasien yang berobat di posko-posko satelit sudah mulai berkurang, maka tim dokter akan melakukan kunjungan ke rumah-rumah dimana dikabarkan ada pasien yang belum di tangani oleh tim dokter, dan alhasil memang masih banyak pasien yang seharusnya mendapatkan perawatan dan pengontrolan dari tim dokter. Hal ini dilakukan karena mempertimbangkan keadaan ekonomi pasien pasca gempa, segala harta benda sudah hancur, dan secara otomatis keluarga tidak mampu lagi membawa pasien ke rumah sakit atau pergi berobat ke posko-posko kesehatan. Pasien-pasien yang mengalami patah tulang, pasca operasi penyambungan tulang dari rumah sakit lapangan baik yang dilakukan di rumah sakit lapangan Malaysia, China , Cuba, kebanyakan mereka dirawat inapkan di Posko Induk Walubi.

Maksud dari perawatan inap yang dilakukan di posko induk Walubi agar pasien mendapatkan pengawasan langsung dari para dokter dan pengontrolan secara rutin oleh paramedis. Selain itu itu dari pihak keluarga pasien juga diberikan tatacara menangani luka yang diderita pasien, agar dikemudian hari setelah tim dokter beranjak dari Bantul keluarga korban diharapkan dapat menangani sendiri di rumah. Berbagai jenis penyakit yang di derita korban seperti penyakit menular diantaranya diare, gangguan pencernaan, suspec thypoid, ispa, suspec tetanus, dermatitis, dan conjungtivitis. Sedangkan penyakit yang tidak menular adalah psikis, gout, diabetes, jantung hipertensi, asma, alergi, dan myalgia/chepalgia. Untuk kategori kecelakaan adalah fraktur, pos op fraktur, truma tumpul/ tajam, dan rawat luka. Penanganan pasien baik yang dioperasi maupun mereka yang memerlukan perawatan setelah di tangani oleh tim dokter baik China, Malaysia, Cuba biasanya di rujuk ke posko utama Walubi untuk dirawat inap, dan mereka juga sering melakukan kontrol terhadap pasien yang telah di tangani di posko masing-masing. Karena mereka benar-benar memiliki rasa tanggung jawab tinggi terhadap pasien yang telah dilakukan tindakan, sehingga mereka tetap memberikan perhatian dengan datang langsung ke posko Walubi dan juga melihat kondisi pasien secara langsung. Setidaknya kita turut mengucapkan terima kasih atas bantuan dari tim dokter luar negeri ini, bahwa mereka juga memiliki empati terhadap korban bencana gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Sepeninggalnya tim dokter dari luar negeri untuk kembali ini ke negaranya masing-masing, pasien benar-benar merasa kehilangan, saat berpamitan kepada pasien yang di rawat inap di posko utama Walubi diantara pasien banyak yang menitikkan air mata karena merasa haru atas kebaikan dan bantuan yang telah diberikan kepada mereka. Mereka benar-benar turut merasakan betapa pedihnya penderitaan yang telah dialami oleh korban gempa. Rumah yang dahulunya menjadi tempat bernaung, sekarang telah hancur, terlebih-lebih mereka yang hidupnya pas-pasan, mengumpulkan sedikit demi sedikit hasil jerih payah selama bertahun-tahun untuk membangun rumah, membeli perabotan, dan sekarang telah rata dengan tanah dalam tempo sekejap.

 
 

 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.