Gempa di Jogjakarta dan Klaten Jawa Tengah belum pulih, tepatnya tanggal 17 July
2006 di Pangandaran terjadi gempa yang menyebabkan gelombang tsunami. Tidak
pelak lagi bangunan di sekitar pantai Pangandaran diterjang gelombang dengan
kekuatan yang cukup besar ini.
Walubi, yang pada saat itu melakukan kegiatan sosial di Bantul Jogjakarta dan
Klaten Jawa Tengah, tim sukarelawan tepatnya tanggal 19 Juli 2006 langsung
mengirimkan bantuan ke lokasi bencana. Bahan bangunan yang dikirimkan
diantaranya mie instan, terpal, triplek dan pakaian layak pakai. Bantuan
tersebut langsung didistribusikan ke kamp-kamp pengungsian yang berada di
kawasan bencana. saat sukarelawan Walubi datang ke lokasi, disana masih banyak korban yang belum ditemukan sehingga warga yang merasa kehilangan anggota keluarga masih berharap dan merasakan kecemasan. Pada tanggal 19 Juli 2006, tepatnya jam 19:00, relawan berangkat dari posko Bantul dengan menggunakan mobil box dan kijang, jumlah relawan yang berangkat ke Pangandaran sebanyak 11 relawan. Sampai di lokasi (Pangandaran) tepat pukul 02:00 pagi. sebelumnya tim relawan telah diberi petunjuk oleh Bapak Jumo yang telah datang terlebih dahulu di Pangandaran, sehingga kami dan relawan lainnya tinggal menuju lokasi yang telah di tentukan sebelumnya.
Pagi harinya yaitu tanggal 20 Juli, relawan langsung membagikan bantuan kepada korban dan pengungsi. Pengungsi kebanyakan tinggal di bukit-bukit, sekolahan, masjid dan tempat lain yang diperkirakan lebih aman dari terjanga gelombang tsunami. Memang bantuan yang diberikan Walubi sangat terbatas sehingga banyak korban yang tidak mendapatkan bantuan. Setidak-tidaknya bantuan yang telah didistribusikan bisa membantu korban pada saat itu.
Pada mulanya tim relawan selain membagikan bantuan juga bermaksud mensurvei lokasi yang tepat untuk didirikan tenda posko. Karena melihat kondisi pengungsi dan korban tidak banyak, dan juga kami mendatangi satkorlah setempat untukmencari informasi yang berkenaan dengan titik pengungsi, di satkorlak ditunjukkan tempat-tempat pengungsian, namun setelah didatangi langsung danmsampai di lokasi tidak ditemukan adanya pengungsi. Karena kebanyakan dari mereka melakukan pengungsian karena merasa trauma dengan kejadin tsunami tersebut. Sebagian besar pengungsi adalah mereka yang rumahnya jauh dari tepi pantai,
padahal para korban pada saat itu adalah para wisatawan dan beberapa diantaranya adalah warga sekitar yang memang berada di lokasi untuk berjualan. Setelah melihat keadaan sesungguhnya di lokasi, kami tidak meneruskan tujuan utama, yaitu membuka tenda posko untuk pengobatan. Setelah 2 hari berada di pangandaran untuk membagikan bantuan tersebut, tim relawan selanjutnya singgah di Cilacap.
 
|