|
SEKITAR duaribuan warga dari 28 komunitas Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DKI Jakarta, turut serta memeriahkan ritual prosesi ruwat bumi yang diselenggarakan Tempat Ibadat Tri Dharma Liong Hok Bio Magelang, Provinsi Jateng, Sabtu (17/3/07).
Dengan memakai atribut khas masing-masing TITD, mereka melalukan prosesi beriringan berjalan mulai dari Alun-alun Kota Magelang hingga mengitari kawasan Pecinan, sepanjang satu kilo meter.
David Herman Jaya Ketua DPD Walubi Jawa Tengah dan sebagai tokoh masyarakat kota Magelang dalam sambutannya pada acara “Ruwatan Bumi” menginginkan bumi Indonesia kembali dipulihkan dari berbagai bencana yang tengah melanda dan banyak memakan korban. David menginginkan setiap umat manusia untuk kembali intropeksi diri.
Wakil Ketua Dewan Penyantun Dana DPP WALUBI ini mensyukuri keragaman dan karunia Tuhan Yang Maha Esa atas berkah anugerahnya dari para Pemuka tokoh lintas agama, para sesepuh se-Jawa Tengah dapat berkumpul ditempat acara hingga selesai. David berharap keragaman yang begitu indah ini janganlah dirusak, karena pertikaian, pertengkaran yang diakhiri dengan sebuah perpecahan. “Marilah kita saling menghormati dan mengembangkan sikap toleransi dan hidup damai bersama” ujarnya.
Sementara Ketua Yayasan Tri Bhakti TITD Liong Hok Bio yang juga sebagai Ketua Departemen Organisasi DPD Walubi Jateng, Paul Chandra saat dijumpai mengatakan, Prosesi kirab ruwatan bumi ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun TITD Liong Hok Bio ke-143, sekaligus perayaan kebesaran Dewa Bumi atau Hok Tek Cing Sin.
Namun lebih jauh lagi, menurut Paul, dengan ritual “ngruwat” bumi, diharapkan kondisi Indonesia akan lebih baik “Dengan ritual ruwatan bumi ini, kami dari 28 TITD menyatukan diri dan berdoa agar Indonesia segera pulih dan terhindari dari segala bencana,” ujar dia.
Dalam Kirab Pimpinan dari tuan rumah TITD Liong Hok Bio, berada di jajaran terdepan memimpin prosesi dengan membawa bendera merah bertulisan huruf beraksara Tiongkok, yang diartikan peringatan layaknya sebuah kerajaan, supaya jangan ada yang menghalagi jalan. Dalam kirab ini, terdapat pula patung tiga dewa, yaitu Fuk, Luk, dan Sou.
Dewa Fuk yang berjubah merah dan membawa uang emas adalah lambang rezeki yang berkelimpahan. Dewa Luk yang berjubah biru adalah simbol kebahagian. Dewa Sou yang berjubah kuning dan berjanggut panjang, adalah simbol dari pengharapan umur panjang. Dalam iringan-iringan ini juga disambut dengan liong yang terus menari-nari.
Setiap rombongan dari masing-masing tempat ibadah Tri Dharma tampak membawa patung dewa-dewi atau yang disebut kiem sin, dengan memakai joli/tandu berhiaskan aneka bunga. Setiap joli digotong oleh empat hingga delapan orang, yang terus berjalan serong ke kiri dan ke kanan.
Gerakan ini dilakukan selaras dengan iringan musik khas Tiongkok, yang terus dibunyikan bertalu-talu. Setiap rombongan berhenti sesaat, untuk memberi hormat kepada Wali Kota Magelang H Fahriyanto,dan Bupati Ir.Singgih Sunyoto yang duduk di kursi tamu undangan.
Selain peserta dari 28 TITD, prosesi kirab juga disemarakkan oleh rombongan kelompok kesenian jathilan, kuda lumping, serta reog Ponorogo, dari Magelang. Para peserta kirab ada yang dari kesenian Arhanud Semarang terlihat berpartisipasi sebagai peserta kirab.
Mereka tampil dengan atraksi naga loreng, atau liong dengan warna kulit yang serupa dengan warna baju tentara. Sedangkan pada ekor rombongan, terdapat empat barongsai yang dimainkan oleh delapan remaja.
SEJARAH Tempat Ibadah Tridharma (TITD) Liong Hok Bio Magelang, Jawa tengah
TITD Liong Hok Bio didirikan pada tahun 1864 oleh Kapitein Be Koen Wie (Tjok Lok). Untuk menceritakan lebih jauh perlu diketahui riwayat Twa Pek Kong yang mempunyai peranan penting.
Sebagaimana telah diketahui bahwa dalam tahun 1740, orang-orang Tionghoa di Jakarta (dahulu Batavia) dibawah pemerintah G.G. Valkenier telah dibunuh dan dirampok secara besar-besaran) yang mana sisanya, terpencar dibanyak tempat. Dalam perjalanan orang-2 Tionghoa tersebut menderita dan terlunta-lunta, bermula menaiki perahu sampai ke Semarang, kemudian menuju Mataram untuk dapat perlindungan dari Sri Sunan, tetapi usahanya sia-sia tidak terlaksana.
Satu rombongan lain telah sampai di Desa Klangkong Jono, Kedu Selatan dan sebelah selatan dari Kutoarjo waktu disebut Semarang.
Konon agama2 masih belum dipropagandakan seperti sekarang, hingga Agama orang-orang Tionghoa masih taat betul dengan agamanya sendiri, terutama kepada Twa Pek Kong, maka waktu mereka mengungsi, tak lupa Twa Pek Kong nya turut dibawa begitupun dengan saudara-saudara kita yang mengungsi di Desa Jono. Twa Pek Kong nya yang dibawa ialah Hok Tek Tjeng Sin (Tho Tee Kung).
Demikianlah sampai beberapa puluh tahun mereka tinggal di desa hingga bermata pencarian, sebagai membuat trasi, tenunan, buka kelontong dlsb-nja. Pada tahun l825 di Jawa Tengah terjadi peperangan lagi. Pengeran Diponegoro melawan Belanda, beberapa tahun kemudian peperangan telah meluas sampai Kedu Selatan, sebagaimana keadaan sekarang masih banyak orang asing tinggal terpencil dan mendapat gangguan seperti perampokan dan penganiyayan, begitu juga dengan penduduk Tionghoa di Desa Jono tidak terkecuali.
Berkat pemimpinnya yang tabah, terkenal dengan nama Kyai Singkir (nama sejatinya The Ing Sing telah dapat gelar Bu Han Lim dari Tiongkok), warga untuk sementara dapat bertahan didesanja. Namun lambat laun keadaan semakin buruk, terpaksa mereka harus meninggalkan desanya yang terkepung oleh gerombolan pengatjau.
Kyai Singkir berusaha menjumpai kepala pengacau, yaitu seorang amat ternama, berani dan mempunyai ilmu weduk (Ho Pwee Bak) tak mempan senjata. Lebih dahulu Kyai Singkir telah berpesan kepada teman2nja. Bila rundingan kepada kepala pengacau tidak berhasil, serta ia tak dapat kembali, maka diputuskan untuk mengumpulkan anak-anak dan kaum wanita pada suatu rumah, lalu bersama-sama membakar diri hingga habis, karena dari mereka lebih suka mati dari pada diganggu kehormatannya oleh para gerombolan pengacau.
Kyai Singkir telah berhasil dapat berjumpa dengan kepala pengacau dan ia ada usul, supaya para pengacau jangan bersifat pengecut, dan selalu mengeroyok, Kyai singkir meminta satu lawan satu tetapi Usul itu telah diterima dengan gembira oleh kepala pengacau yang hanya mengandalkan kegagahan dan kekuatannja dgn memandang rendah terhadap lawannja, maka dengan bangga ia menantang. Kalau Kyai Singkir bisa menang dalam perkelaiannja. Para pengacau dapat berlalu dengan tanpa mengganggu.
Tidak lama kemudian pertandingan dimulai antara Kyai Singkir dengan Kepala Pengacau, didalam perkelaian hebat itu, akhirnja Kyai ingkir dapat mendjatuhkan lawan. Melihat kepala pengacaunya telah kalah dan mengundurkan diri; maka waktu yang baik ini digunakan oleh Kyai Singkir bersama kawan2nja meninggalkan Desa Jono dengan membawa Twa Pek Kong nya menuju kejurusan Magelang, dilalui dengan aman karena bala tentaranya lebih banyak.
Setibanya Kyai Singkir di Magelang, melalui Benteng Menoreh (Salaman). Rombongan dibagi menjadi dua, karena Twa Pek Kong nya ada dua; rombongan pertama dibawah ke Parakan, yang kedua ke Magelang Twa Pek Kong nya ditempatkan dikampung Ngarakan.
Pada tahun 1830 peperangan telah berakhir; beberapa tahun kemudian telah pindah ke Magelang seorang tokoh Tionghoa bernama Be Tjok Lok dari Solo yang sudah banyak berjasa selama berperang : lalu diangkat menjadi Luitenant oleh Pemerintah Belanda dan di pindahkan ke Magelang, dijadikan pachter candu dan pegadaian hingga ia jadi hartawan besar.
Belakangan pangkat Be Tjok Lok dinaikkan kembali menjadi Kapitein, lantaran mao menghadiahkan sebidang tanahnya yang terletak diujung Utara untuk didirikan Tempat Ibadah Tridharma yang dinamakan Liong Hok Bio dan Twa Pek Kong yang berada dikedua tempat kemudian disatukan.
Peristiwa tersebut diantara pertengahan tahun 1864. Pada masa itu kepercayaan agama orang-orang Tionghoa masih lekat pada tradisi Tionghoa. Setiap pra ritual pernikahan hampir semua datang bersembahyang ke Liong Hok Bio begitu juga pada hari Tiong Gwan (sembahyang rebutan). Panitia ritual selalu bikin upacara besar2an, di Bio/Kelenteng diadakan sembahyang besar pakai Thay Soe, Po Tay Hie dsb, serta di alun-alun diselenggarakan sembahyang rebutan besar dengan memakai panggung dua tingkatan, pakai Gunungan besar dan kecil, tumpeng nasi, beras, hewan-hewan melata yang masih hidup, dan lain lagi; dipuncak dari Gunungan yang tertinggi disusun di selendang pelangi dan banyak barang-barang lain untuk kemudian diperebutkan, begitupun disekitar panggung. Perebutan itu diadakan macam-macam pertunjukkan mirip seperti Pasar Malam.
Sudah tentu upacara sembahyang rebutan banyak menelan biaya besar, akan tetapi orang-orang dahulu semangatnya jauh lebih baik dari orang sekarang. Yang dipilih djadi Locu berani keluar uang banyak, apalagi pendukungnya ada dari pengusaha. Cukuplah untuk menutup ongkos2 bahkan uang yang dikumpulkan ada kelebihan dan dapat dibelikan tiga petak rumah dengan Percil Eigendom terletak di Jl. Pemuda Selatan No. 53/55, 57 dan 59, yang waktu itu diurus oleh Kong Kwan hingga sampai tahun 1906 Tiong Hwa Hwee Kwan didirikan dan kemudian urusan diserahkan pada pengurus T.H.H.K.
Lantaran sering terjadi kecelakaan saat persembahyangan rebutan, maka pada tahun 1904 Pemerintah melarang dan tidak diperbolehkan lagi.
Biokong pertama jang mendjabat ialah Soe Tiauw Hok sehingga l.k. 30 tahun lamanja, kemudian lantas diganti oleh Sie Kim Liang, Liem Tiong See, Oei Djit Djing. Djwa Kie dan The Djioe Lam.
Sekelumit riwayat Tempat Ibadah Tridharma (Kelenteng) Liong Hok Bio, Magelang yang didirikan tahun 1864 hingga kini tahun 1961 sudah berusia 97 tahun.
(tulisan mendiang Sdr. Liem Tjay An).
Tri Budaya No. 96/97, Jan. Feb. 1962. Artikel: F. B. Yuwono – 2003
Tahun 2007/ Liong Hok Bio usianya telah terhitung 143 tahun

|
|