Pembukaan
DPP Walubi
DPD Walubi
Perwakilan
Program Umum
Lambang
Ikrar
Hymne



WARTA WALUBI


WARTA MAJELIS



Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

Kongres Nasional Tokoh Agama IV di Jakarta

Wakil Menteri Agama (Wamenag) Prof Dr Nasaruddin Umar mengharapkan kongres tokoh agama ini semakin memahami akar permasalahan yang menyebabkan kerukunan umat terganggu.

Itu disampaikan dalam pengarahannya saat membuka Kongres Nasional Tokoh Agama IV, di Jakarta, Rabu (7/12) malam. Hadir dalam acara itu, Achmad Gunaryo Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama, Ketua Slamet Effendi Yusuf Majelis Ulama Indonesia (MUI), Romo Benny Susetyo Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Bhiksu Tadisa Paramita Mahasthavira Perwakilan Umat Buddha Indonesia(WALUBI) dan para tokoh agama lainnya.

“Para pemimpin tokoh agama perlu mempertajam daya analisa, dan metode pemecah masalah kerukunan umat beragama yang semakin kompleks,” tutur Nasaruddin.

Dikatakannya, kekerasan yang terjadi di lingkungan umat beragama yang menyebabkan merosotnya wibawa agama adalah tantangan bagi masing-masing pimpinan dan tokoh agama.

“Wujud kekerasan menunjukan, bahwa para pemimpin dan tokoh agama kurang dapat menyalami dan memimpin umatnya dengan baik, karena itu kita harus sering-sering turun ke bawah menangkap dan memahami aspirasi umat pada level akar rumput,” kata Nasaruddin.

Dijelaskan Wamenag, kita semua menyadari, bahwa kerukunan umat beragama adalah wujud sistem nilai toleransi yang dianut masyarakat.

“Sebab itu secara pribadi saya menengarai adanya pengaruh kultural asing pada kecenderungan radikalisme akhir-akhir ini di tanah air yang bertentangan dengan Pancasila, dan menodai ajaran agama itu sendiri,” tambah Nasaruddin.

YM Bhiksu Tadisa Paramita Mahasthavira (WALUBI), mengkupas tentang ayat Dharma Sutra yang disebutkan , tahanlah diri dari pertengkaran dan perdebatan.”sekali kita jatuh dalam konflik seperti itu, hidup kita akan terjebak dalam perselisihan. Pikiran kita akan terombang ambing oleh kemenangan dan kekalahan, namun kekhawatiran dan penderitaan akan mudah timbul “, ucapnya.

Reformasi sosial dikatakan Bhiksu Tadisa Paramita itu dapat tercapai, bukan dengan kekerasan dan hukuman, melainkan dengan pendidikan dan kasih. Sedangkan pendidikan agama pada abad sekarang ini bukan melulu mengarah kepada ritual dan seremonial juga bukan pula hanya memuja dan tunduk kepada yang diluar saja, tetapi harus menata, menaklukkan dan mengembangkan potensi dirinya sendiri, agar dapat mencegah dan mengantisipasikan berbagai penyelewengan serta tindak kejahatan, maka dari itu perlu digalakkan budaya malu berbuat jahat dan takut akibat perbuatan jahat, yang dikenal dalam bahasa Buddhis Hiri dan Ottappa.

Bhiksu Tadisa Paramita dalam Kongres Nasional Tokoh Agama IV tahun 2012 dengan tema makalahnya “ Etika Berbangsa dan Bernegara Dalam Perspektif Ajaran Buddha”, menyinggung tentang calon presiden pada pemilu 2014 dan calon bakal wakil rakyat, dikatakan mulai saat sekarang dan kedepan, untuk mendapatkan pemimpin bangsa dan pejabat Negara yang berkualitas, bermoral dan memiliki keteladanan, kiranya diperlukan konsensus bersama semua pihak, dengan membuat perangkat peraturan terkait dengan pengujian mentalitas, spiritualitas dan moralitas.

Disamping itu mampu mengaktualisasikan nilai nilai Pancasila dan nilai nilai universal agama dalam menatap dan membangun Negara,yang sekaligus mempunyai strategi dan komitmen yang konstruktif pada penegakan “Empat Pilar Kebangsaan” untuk menjaga keutuhan bangsa dan NKRI.

Hadir Tokoh umat Buddha, Suhadi Senjaja, Prof DR Philip, Soedjito Kusumo, Usdi, dll.




Share |

 

 

 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.